
*
*
*
"Assalamualaikum!"
"Wa'allaikumsalam!"
Mala spontan langsung menoleh ke asal suara saat mendengar suara orang mengucap salam, ternyata ia kedatangan tamu. Setelah resmi menganggur, kerjaannya hanya sekedar makan, tidur, rebahan, nonton tv, dan liatin Kai berantakin rumah. Gitu-gitu saja kegiatannya, sungguh membosankan. Belum genap seminggu saja ia sudah hampir mati kebosanan, apalagi kalau sampai waktu yang bahkan belum sang mertua tentukan. Entah lah, Mala tidak sanggup untuk sekedar membayangkan.
Ia rasanya ingin bersorak kegirangan saat menemukan Alisa dan juga Abbas yang datang mengunjunginya.
"Huhu, akhirnya gue nggak sendirian. Makasih, guys, buat kunjungannya lagi. Seneng banget gue sumpah," ucap Mala agak drama.
Oh, tidak, ini bukan sekedar agak drama, melainkan memang drama. Lihat lah kedua sudut mata perempuan itu yang terlihat memerah dan seperti siap menangis.
Alisa yang melihat itu sontak panik. "Astaga, La, lo kok jadi nangis."
Mala tertawa lalu meraih selembar tisu dan mengusap kedua matanya yang benar-benar berair. "Sorry, guys, gue emang agak sensi melow gitu sejak hamil anak kedua."
Alisa tertawa saking tidak percayanya. "Kok bisa?" ucapnya takjub, ia kemudian duduk di salah satu sofa, "dulu gue pas hamil nggak ngerasain apa-apa loh, cuma mual doang, itu pun nggak sampai muntah beneran. Yang apa-apa keluar semua."
"Lah, lo pikir pas gue hamil Kai gimana? Sama sekali nggak ngerasain mual muntah sensi atau apapun, malah dulu pas perut gue belum terlalu keliatan besar suka lupa gue kalau lagi hamil. Malah yang jadi istri siaga tuh dulu gue, bukan Agha, soalnya dia banyak maunya dan juga rewel pol."
"Gimana keadaan lo, La, masih mual muntah?" kali ini giliran Abbas yang bertanya, pria itu baru saja keluar dari dapur sambil membawa sekaleng minuman bersoda.
Mala menggeleng sebagai tanda jawaban. "Kalau muntahnya alhamdulillah sama sekali udah enggak, cuma kalau mual sesekali masih kalau nyium aroma yang menyengat banget. Cuma masih dalam kisaran normal lah, nggak separah pas Agha dulu. Apa-apa bikin mual bahkan nggak jarang muntah beneran endingnya, udah gitu kalau pas abis muntah rewelnya minta ampun, misuh-misuh nggak jelas. Pusing banget gue dulu, udah lagi hamil, perut gede, harus menyesuaikan mood dia, buset dah. Belum kalau tetiba ngidam tengah malam, astaga ya ampun."
Abbas spontan terbahak saat mendengar curhat colongan dari Mala. "Emang brengsek banget dulu itu si Agha, gue juga suka dimisuhin, anjir, La, tiap ketemu gue pasti dikatain 'abis mandi parfum lu'. Padahal ya parfum gue yang biasa aja, bukan yang mahal-mahal banget gitu loh. Dan menurut gue juga wanginya biasa aja, tapi misuhnya, buset deh. Beneran ngajak gelud, anjir. Terus sekarang di mana itu nyawanya?"
Mala mendengus. "Ya nempel sama raganya lah, ya kali misah."
"Iya, maksudnya dua-duanya, posisi lagi di mana gitu, La, sore-sore begini kok belum keliatan batang idungnya." Abbas kemudian celingukan mencari seseorang, "eh, ini nyokap lo atau mertua ke mana? Anak lo juga nggak keliatan? Ke mana mereka deh? Ini lo tadinya sendirian sebelum kita datang?"
Mala menggeleng. "Ya enggak mungkin lah, ada nyokap gue sama Kai di atas, lagi mandi sih kayaknya, enggak tahu deh dari tadi belum turun... Eh, itu mereka." Mala menghentikan kalimatnya saat menyadari sang Mama dan juga sang putra menuruni anak tangga.
"Ya ampun, ada tamu ternyata."
__ADS_1
Kartika langsung menyapa mereka saat menyadari ada tamu di rumah sang anak. Kai langsung menghampiri Alisa tanpa perlu usaha. Perempuan itu baru menyapa 'hai' tapi Kain langsung berlari kecil ke arah perempuan itu.
"Eh, Kak, ikut siapa itu?" tanya Mama Kartika heran, "emang adek kenal?"
Kai terlihat tidak terlalu memperdulikan sang nenek dan malah meminta Alisa agar menggendongnya.
"Nanti Tante Alisa mau gendong abis Kai dulu sama Om," ucap Abbas sambil mengulurkan telapak tangannya.
Kai berpikir sejenak lalu menggeleng tegas. Hal ini seketika langsung mengundang tawa Mala dan Alisa. Kartika pun ikut terkekeh.
"Kok lo pilih-pilih sih, Kai? Ayo, salim dulu ntar Om beliin mainan sama es krim," bujuk Abbas masih usaha. Namun lagi-lagi ditolak oleh Kai.
Abbas berdecak kesal. "Jahat kalian semua," rajuknya kemudian.
*
*
*
Agha langsung merogoh kantong celananya saat merasakan getaran dari dalam sana. Ia kemudian mengeluarkan benda pipih itu dan melihat ada panggilan masuk dari Abbas. Keningnya mengkerut heran, ada apa nih? Batinnya bertanya-tanya.
"Mau ngadu gue."
"Apaan sih? Mabok lo? Masih siang ini loh jangan mabuk dulu, minimal tunggu maleman dikit kenapa?"
Terdengar suara decakan dari seberang. "Gue beneran kesel loh, bisa nggak usah bercanda?"
Kali ini giliran Agha yang berdecak. "Apaan sih? Lo kenapa jadi kayak Mala begini, ngambek nggak jelas sama gue? Mala wajar dia lagi hamil anak gue, lah situ? Alisa lagi hamil anak lo?"
"Sembarangan lo!"
Agha terkekeh. "Ya abis, lo nggak jelas banget sumpah."
"Enggak jelas gimana? Lo belum liat igs bini lo atau Alisa?"
Agha berdecak sambil menguap. Jam tidurnya agak berkurang akhir-akhir ini. "Apaan sih? Nggak usah muter-muter, gue sibuk, gue bukan pengangguran yang punya banyak waktu cuma buat liat igs-igs kalian."
"Anak lo macem naksir gebetan gue."
__ADS_1
Tunggu, sebentar, Agha masih loading.
"Hah? Gimana?"
"Kai, Gha, buset, itu bocah nempel mulu sama Alisa, Gha. Bahkan kemarin pas gue main ke rumah lo sama Alisa dan kita mau pulang dia nangis-nangis pas ditinggal Alisa. Terus sekarang tiap dia selesai ngajar pasti ke rumah lo buat main sama Kai, kan gue jadinya jarang punya waktu sama Alisa. Kesel banget gue sumpah, mana ngeselinnya itu bocah kalau sama gue udah kayak musuh, kayak dia itu sengaja bikin gue kesel dengan menguasai Alisa. Kalau begini terus gimana gue mau mepet dia?"
Agha sontak tertawa saat mendengar gerutuan panjang Abbas. Nada bicara pria itu benar-benar terdengar sangat kesal. Ia kemudian berdecak sambil geleng-geleng kepala.
"Lo itu ada-ada aja sih, Gha, ini cuma anak gue, anjir, bukan gue. Ngapain lo cemburu sama anak gue?"
"Ya justru itu anak lo, anak lo kan gemes banget dan Alisa suka, Gha."
"Ya makanya, buruan dilamar itu anak orang lah, Bas, jangan lu php-in doang, mungkin Alisa mulai males sama lo, karena lo-nya begitu-begitu aja. Buruan bertindak lah, jangan sampai ditikung orang lagi, Bas."
Terdengar helaan dari seberang. "Lo mah enteng banget bilang begitu, tapi coba kalau lo ada di posisi gue, menurut lo, lo bakalan berani bilang dengan status Alisa yang belum lama menjanda?" tanpa membiarkan Agha menjawab pertanyaannya, Abbas kembali mengimbuhi kalimatnya, "ya nggak bakalan, bro. Keputusan ini nggak mudah."
"Tapi menurut gue apa salahnya sih mencoba?"
"Gue nggak mau nantinya Alisa menjauh, Gha."
"Jadi lo lebih milih begini aja terus nanti Alisa-nya ditikung orang lagi? Ya kalau emang begitu terserah lo. Tapi menurut gue, selagi ada kesempatan apa salahnya dicoba? Toh, menurut gue Alisa udah cukup dewasa untuk mengerti semua sikap dan perlakuan lo selama ini, Bas. Alisa nggak sebodoh itu."
"Gue tahu, makanya itu gue memilih begini dulu karena tahu Alisa juga tahu perasaan gue selama ini "
"Terus gimana kalau Alisa nungguin lo?"
Abbas diam. Karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Alisa bukan tipe yang akan terlalu mengambil pusing omongan orang, Bas, mau dia dituduh ini-itu, asal apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan yang mereka tuduhkan, Alisa tidak akan mempermasalahkannya. Jadi, kalau lo masih ragu, tanyain lagi lah sama perasaan lo."
"Gila, gue selama ini bertahun-tahun nggak pernah bisa ke lain hati dan lo masih meragukan perasaan gue?"
"Iya, sorry, gue yang salah, emang bukan perasaan lo sih yang patut diragukan tapi keberanian lo. Cemen banget sumpah lo jadi laki, ah, malu-maluin. Tahu lah, gue tutup telfonnya, mau cari makan gue, laper."
Tanpa membiarkan Abbas membalas ucapannya, Agha langsung mematikan sambungan telfon begitu saja. Ia kemudian langsung bergegas menuju kantin rumah sakit karena perutnya sudah meronta minta diisi.
Baru beberapa kakinya melangkah, tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil. Reflek Agha menghentikan langkah kakinya dan berbalik. Keningnya seketika mengkerut heran, bibirnya melongo spontan saat menyadari siapa yang memanggilnya. Kaget dan tidak percaya tengah ia rasakan. Benaknya seketika langsung berpikir. Ngapain ini orang ada di sini?
Tbc,
__ADS_1