Married With My Besti

Married With My Besti
Nikmati Saja


__ADS_3

*


*


*


"Aku udah kangen Kai deh, Gha. Pulang aja, yuk!"


Gue seketika langsung melotot tajam ke arah Mala lalu menggeleng tidak setuju. Enak aja, baru juga chek in di hotel belum ada dua jam udah minta balik. Dia pikir chek in hotel bisa pake BPJS apa, belum juga mulai udah minta balik.


Gue langsung berdecak kesal. "Kan tadi barusan udah video call."


Padahal sambungan video call baru saja terputus belum ada sepuluh menit.


"Ya, beda lah." Kali ini giliran Mala yang berdecak.


Ini gue beneran heran sama Mala. Maksud gue, Mala ini kan bukan ibu rumah tangga biasa yang kerjaannya cuma ngurusin gue, anak, sama rumah doang. Tapi dia juga bekerja, biasa pisah sama anak. Enggak yang 24 jam bareng anak sampe mau pergi ke kamar mandi doang aja kadang nggak tenang. Mana profesinya dokter yang biasa sewaktu-waktu dapet emergency call lagi.


Bukankah harusnya Mala tidak bersikap demikian?


"Bedanya apa?"


"Ya kan nggak bisa peluk, gendong, cium langsung, Gha."


"Tapi kan biasanya juga gitu. La, kamu juga biasa kerja loh, Kai biasa sama Mama atau Bunda. Bukannya harusnya kamu terbiasa?"


"Beda lah. Kan biasanya buat kerja, sekarang cuma buat ngapain? Main-main nggak jelas."


Bibir Mala manyun beberapa senti, membuat gue gemas ingin menciumnya.


"Emang kamu nggak ngerasa bersalah sama Kai? Kita tiap hari udah sibuk kerja loh, masa giliran weekend begini harusnya bareng kita, kamu malah kasih izin Mama buat bawa Kai." Tanpa terduga tiba-tiba Mala memukul gue menggunakan bantal, "ah, semua gara-gara kamu, Gha. Aku kesel banget sama kamu."


"Iya, iya, aku yang salah. Aku minta maaf, tapi kan kita udah terlanjur di sini. Apa nggak sebaiknya kita nikmati waktu berdua kita aja?" bujuk gue kemudian, "daripada marah-marah nggak jelas. Toh, Kai juga sama Mama happy-happy aja kan?"


Mala tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gue sekilas lalu mendengus.


Gue kemudian memepet tubuhnya untuk membujuk Mala. "Udah sih, ah, manyunnya. Aku cium sampe bengkak baru tahu rasa kamu," goda gue, yang sukses membuat Mala berteriak kesal seraya mendorong wajah gue hingga tubuh gue terpental.


"Mau main sekarang? Enggak nunggu nanti malem aja?" Gue memiringkan tubuh dengan posisi tangan menopang kepala, "ayok, aku sih siap-siap aja."


"Nggak usah ngimpi!" balas Mala kembali memukul gue, "kita tadi lupa belum mampir alfa. Jadi no jatah-jatah."


"Astaga, takut banget hamil sama suami sendiri juga."


Mala langsung menatap gue sewot. "Ya iya lah, Kai masih kecil, Gha. Kamu yang bener aja dong. Belum waktunya punya adik." Tangannya naik ke atas, seperti bersiap memukul gue, namun, tidak benar-benar dilakukannya.


Gue merengut. Sebenernya gue setuju juga sih sama apa yang dikatakan Mala. Soalnya nggak lucu juga kan kalau Mala tiba-tiba hamil lagi padahal Kai merangkak aja belum lancar.


"Kamu sih disuruh kb implan aja nggak mau. Repot kan jadinya kalau pas lagi nggak ada stok 'balon' gini?" gerutu gue sambil memasang wajah kesal.


Mala langsung mencibir. "Dih, biasa aja tuh. Aku nggak ngerasa repot juga."


"La," rengek gue kadung kesal. Mala sendiri hanya terbahak dan mengajak gue bersiap-siap setelahnya.


*


*


*


"Kamu ini seneng banget sih pake baju kekecilan begitu," tegur gue saat melihat Mala selesai berganti pakaian.


Gue berdecak kesal saat melihat atasan Mala yang sebenarnya terlihat pas di tubuhnya, tapi berhubung panjang bajunya lumayan minim, jadi terkesan seperti kekecilan di mata gue. Gue tahu sih perutnya udah kembali langsing seperti sedia kala. Tapi bukan berarti kan ia bisa mengumbarnya sesuka hatinya begitu.

__ADS_1


"Kekecilan apa sih? Ini masih muat kok, Gha, emang modelnya begini kali."


"Iya, aku tahu modelnya emang begitu. Tapi diinget-inget lagi loh, La,


kamu ini udah jadi ibu anak satu. Masa pakaiannya masih kayak anak gadis gitu. Nanti kalau dikira beneran masih gadis gimana? Aku yang repot loh."


Bukannya langsung berniat untuk berganti pakaian, Mala malah terbahak.


"Enggak usah ketawa! Enggak lucu, ya," gerutu gue menahan kesal.


"Abis gemes, suami aku posesif," godanya sambil mencubit pipi gue.


Gue langsung menepisnya dengan cepat. "Enggak usah pegang-pegang. Ganti baju sana! Lagian emang kamu nggak malu itu ntar kalau bajunya keangkat bekas jahitan kamu keliatan?"


"Enggak," balas Mala cepat dan tanpa ragu, "lagian nggak bakal keliatan juga kali, Gha. Udah, ah, ayo, berangkat! Nanti keburu panas. Itu kameranya jangan lupa dibawa, aku males, ya, kalau disuruh ke kamar lagi buat ambil kamera."


"Ganti baju dulu dong, La!" rengek gue masih kesal.


Mala menatap gue datar. "Ganti baju nggak jadi ya, berarti ntar malemnya?"


"Hehe, iya, sayang." Gue langsung mengambil kamera yang gue bawa dan mengalungkannya di leher, "jadi kok, yuk, berangkat sekarang!"


Duh, seneng banget deh rasa bakal hunting foto bareng istri. Berhubung agendanya lagi mau baik-baikin Mala, maka objek foto gue hari ini, ya, harus Mala itu sendiri.


Kalau gue hobinya memotret, maka hobi Mala adalah berpose di depan kamera. Gue akui Mala ada bakat jadi model, bahkan Abbas dulu pernah ingin merekrut Mala masuk ke agensinya. Tapi tentu saja Mala tolak, karena kesibukan kami sebagai tenaga kesehatan yang sudah terlalu menguras tenaga. Mala tipe yang agak males ribet, jadi ia malas menambah keribetan hidupnya dengan merambah dunia modeling.


"La, ayo, pose buruan! Aku foto."


Tanpa perlu mengarahkan ini-itu, Mala langsung berpose dengan luwesnya bak model papan atas.


Gue berdecak setelah melihat hasil jepretan gue. Sebenarnya hasilnya bagus dan memuaskan, seperti biasa. Selain karena keahlian gue dalam memotret yang memang sudah cukup diakui, Mala sendiri sudah cantik dan juga menawan. Apalagi dengan tubuh ideal yang dia miliki, sudah dapat dipastikan kalau hasilnya udah jelas pasti bagus kan?


Tapi yang membuat gue kesal adalah atasan Mala yang terlihat sedikit terangkat. Hal ini membuat gue agak kesal.


Mala langsung berjalan menghampiri gue untuk melihat hasilnya. "Kenapa? Enggak bagus? Coba lihat."


"Bagus. Cuma aku kurang suka. Aku hapus, ya?"


Sebenarnya, tanpa perlu dihapus bisa aja buat koleksi pribadi gue. Tapi masalahnya kalau enggak dihapus, pasti nanti Mala pengen upload di sosmednya.


"Sembarang! Aku suka yang ini, Gha, mau aku post nanti di IG, ah."


Kan, kan, apa juga gue bilang. Pasti pengen diupload di sosmed-nya kan.


"Jangan lah, La, kurang sopan. Ini perut kamu keliatan. Aku nggak suka. Mending aku fotoin lagi."


Mala langsung berdecak kesal. "Jangan kayak orang susah deh, Gha, kan nanti bisa ditutupin pake stiker atau di-crop sekalian."


Iya, juga sih. Ah, benar. Gue kan lagi dalam rangka baik-baikin Mala, kalau nggak nurut ntar nggak dapet jatah lagi. Mubazir, jauh-jauh ke sini masa cuma buat foto-foto doang. Minimal sekalian bulan madu ala kadarnya kan?


"Ya udah, iya," ucap gue pasrah.


"Aku mau foto di sana. Fotoin, yuk."


"Ayok!" balas gue tanpa banyak berpikir, "tapi nanti gantian jangan lupa," sambung gue kemudian.


"Pake hape?" tanya Mala yang langsung membuat gue melotot kaget, "kan aku kurang ngerti cara pake kamera gituan, Gha. Nanti kalau malah ngehapus atau hasilnya jelek gimana?"


"Nanti aku ajarin. Lagian hasilnya nggak bakal jelek."


"Kenapa? Karena saking mahalnya kameranya?"


Gue menggeleng dan menyuruh Mala untuk berganti pose.

__ADS_1


"Terus?"


"Karena suami kamu ganteng lah, pake nanya lagi."


"Anjir, pede gila."


Gue tersenyum jumawa. "Percaya diri adalah modal utama, La. Ayo, buruan gantian fotoin aku."


Gue kemudian memberitahu Mala cara mengoperasikan kamera. Ia langsung mengangguk paham setelah dirasa cukup mengerti cara mengoperasikannya lalu menyuruh gue untuk berpose.


Gue menurut. Lalu gue berjalan mendekat ke arahnya kembali, untuk melihat hasil jepretannya.


Mala meringis sambil menyerahkan kamera gue. "Kayaknya emang aku tuh nggak ada bakat ngefotoin pake kamera mahal deh, Gha. Aku fotoin pake kamera hape aja, ya," tawarnya kemudian.


Mau tidak mau gue akhirnya mengangguk pasrah. Sepertinya Mala benar, ia tidak cukup handal mengoperasikan kamera. Terbukti semua hasil jepretannya ngeblur kayak jodoh author kalian.


Author : woi elah, ngapa gue dibawa-bawa, anjir?


Ssst, udah diem, thor. Ini jatah gue. Gue mau lanjut.


Author : lo kok lama-lama jadi kayak bokap lo, Pak Bidan, sih. Kurang ajar sama gue


Lah, kan gue anaknya, thor, wajar kan mirip?


Author : Bodo amat.


Oke, gue lanjut.


Mala kemudian menyerahkan kamera gue dan bersiap mengambil foto gue menggunakan kameranya. Gue kemudian memilih mengalungkan kamera sebelum mulai berpose.


"Udah, sip, mau lihat nggak?"


Gue langsung berjalan mendekat ke arah Mala, untuk melihat hasil jepretannya yang kali ini lebih memuaskan.


"Nah, begini baru oke. Kan kalau begini gantengnya keliatan."


"Padahal meski yang tadi agak ngeblur gantengnya tetep keliatan," balas Mala tanpa sadar.


Gue menerjab kaget. "Hah? Gimana, La?"


Gue tidak bisa untuk tidak tersenyum senang. Yang barusan itu pujian kan? Soalnya Mala bukan tipe yang mudah muji gue ganteng.


"Kenapa? Kuping kamu bermasalah apa gimana? Perlu aku bikinin janji temu sama Oki?"


Oki itu istrinya Bang Gandhi, Kakak sepupu Mala, yang berprofesi sebagai dokter spesialis THT.


Gue ingin melayangkan aksi protes sebenernya. Namun, terpaksa gagal karena kami tiba-tiba mendengar suara yang memanggil nama tengah Mala.


"Afsheen!"


Udah jelas kan siapa pelaku yang akan memanggil nama Mala dengan nama tengahnya, kalau bukan pria yang kemarin itu?


Double sialan. Gue bela-belain ke Anyer buat menikmati waktu berdua doang sama Mala, masa iya harus ketemu lagi sama si kutu kupret?


Tbc,


Happy reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜š


Agha : bentar dulu, gue mau protes sama judulnya, thor. Apa-apaan sih itu? Nikmati apaan woe? Gue terancam gagal dapet jatah udah gitu ada si kutu kupret pula. Emang sengaja cari perkara kan lu?


Buset, beneran makin mirip Pak Bidan aja ini Bapaknya Kai๐Ÿ™„ rewelnya, banyak maunya, ngeselinnya, bulol ke istri. Fix, beneran anak Pak Bidan.


Maafkan obrolan random kami๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜ญ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

__ADS_1


__ADS_2