
*
*
*
Gue mengerutkan dahi heran saat bangun tidur dan melirik jam. Sudah pukul tujuh lewat setengah jam lebih dan tumbenan Mala nggak berisik ngebangunin gue? Pandangan gue kemudian beralih ke arah box bayi, di sana Kai masih terlelap pulas di box-nya.
Gue kemudian meraih ponsel gue yang terlihat menyala. Ternyata ada chat masuk dari Mala. Cepat-cepat gue membalasnya.
Wifei ❤️ : Gha, nnti kalau Kai bangun langsung ajakin makan dulu, ya, jangan dibuatin susu.
Wifei ❤️ : Soalnya kalau dikasih susu dulu ntar makannya nggak abis banyak
Wifei ❤️ : Gha?
Wifei ❤️ : kamu udah bangun belum sih?
Anda : udah. ini baru bangun
Anda : kamu di mana sih?
Wifei ❤️ : sent a picture
Wifei ❤️ : me time
Anda : astaga 😭
Wifei ❤️ : aku udah lama gk nge-gym, Gha😔
Anda : kenapa alu gk diajak sekalian?
Wifei ❤️ : kamu kalau diajak sekalian, Kai-nya gimana?
Anda : titipin ke Bunda atau Mama😂
Wifei ❤️ : 😑 dasar
Wifei ❤️ : titip Kai bentar ya, sayangg. Ntar begitu kelar aku langsung pulang. abis itu kamu bisa bebas main kemana aja terserah, mau nongkrong sama Abbas dan Ohim atau kumpul sama Bapak-bapak komplek juga silahkan. Oke?
Gue yang tadinya mau protes, mendadak nggak jadi karena panggilan Mala yang tiba-tiba menggunakan sayang.
Ck, Mala memang selalu tahu kelemahan gue.
Anda : iya, beres. tapi ini ntar Kai mau dikasih makan apa? bubur instan?
Wifei ❤️ : ada sih bubur instan, cuma dia sekarang kurang suka makan bubur instan.
Wifei ❤️ : aku tadi udah masak sayur bayam sama bacem ati. Nanti kamu kasih aja itu. tapi sebelum dikasih dihalusin dulu, Gha, nggak usah terlalu lembut nggak papa, soalnya Kai emang mulai belajar makan kasar.
Wifei ❤️ : tapi ngehalusinnya jangan kayak nggak niat juga loh. Pokoknya jangan terlalu lembut, jngan terlalu kasar. Harus pas.
Wifei ❤️ : makasih dulu sebelumny
Anda : iya. Kmu have fun ya. See you🥰 aku bakalan jaga Kai sepenuh hati kayak anak sendiri😍
Wifei ❤️ : 😑 kai emng anak kamu sendiri, Gha
Anda : hehe, iya, bercanda sayang
__ADS_1
Anda : udah dulu ya, ini Kai bangun deh kayaknya
Wifei ❤️ : pap dulu dong
Anda : sent a picture
Wifei ❤️ : bukan kamu, Gha, tapi Kai
Anda : emng gk kangen sama papanya?
Wifei ❤️ : enggak
Anda : 😑 jahat
Wifei ❤️ : buruan pap Kai-nya, Gha
Anda : sent a picture
Anda : tuh, lagi anteng di depan tv
Wifei ❤️ : astaga, kamu ini kebiasaan. Udah dibilang jangan diajakin nonton dulu, ajakin makan dulu, Gha
Anda : ya gimana, abis tadi berisik, rewel, nyari kamu, aku ribet bls chat kamu, biar anteng ya udah dinyalain tv.
Anda : eh, beneran anteng dong🤣🤣
Wifei ❤️ : sekarang ajakin sarapan dulu
Anda : siap laksanakan, bosque
Gue langsung meletakkan ponsel di atas meja lalu menggendong Kai. Bocah itu sempat protes dan nggak mau gue gendong, apalagi saat gue mematikan televisi dia langsung memukul gue.
"Enggak boleh gitu, sayang, nggak sopan. Nanti nonton lagi. Sekarang kita cuci muka dulu terus mamam. Oke?"
"Mam."
Kai menirukan kalimat gue seolah sedang bertanya. Gue langsung mengangguk dan mengiyakan.
"Iya, mamam sama Papa aja ya hari ini? Mama lagi me time. Kai nggak boleh nakal loh, ya? Nanti kita main sepuasnya. Kalau sama Papa Kai boleh bebas main sepuasnya."
Seolah mengerti apa yang gue katakan, Kai langsung tersenyum sambil bertepuk tangan. Wow, gue cukup takjub dengan reaksinya. Sebenarnya Kai memang sudah bisa tepuk tangan sendiri sejak berumur enam bulan lebih, tapi biasanya dia akan tepuk tangan kalau ada yang menyanyikan lagu saja. Jadi gue agak kaget karena dia tiba-tiba bertepuk tangan padahal gue nggak lagi nyanyi.
"Duh, pinternya anak Papa," ucap gue gemas sambil mencium pipinya.
Saking gemasnya, gue menciumi seluruh wajahnya. Yang untungnya sekarang dia hanya akan tertawa terbahak-bahak karena geli bukan menangis seperti biasa.
"Sekarang kita cuci muka dulu, ya?" ucap gue saat kami sudah berdiri di depan wastafel yang ada di kamar mandi.
Gue kemudian menyalakan kran air dan langsung membasuh wajahnya. Gue mengulangi gerakan itu selama beberapa kali, setelah dirasa sudah cukup, gue langsung mengeringkan wajah Kai menggunakan handuk.
"Kamu di sini dulu, ya, sekarang gantian Papa yang cuci muka sama sikat gigi dulu."
Gue kemudian menurunkan Kai di depan kamar mandi, maksud gue agar Kai tetap berada di dalam pengawasan gue. Namun, gue lupa kalau anak gue sekarang udah bisa merangkak. Alhasil dia langsung melarikan diri begitu gue turunkan.
"Dek, dek, mau ke mana?"
Kai menoleh sekilas tapi habis itu dia kembali merangkak dengan gesit saat gue berusaha mengejarnya. Terpaksa gue kembali menyalakan televisi dan menyuruh Kai menonton. Karena itu ternyata satu-satunya trik agar dia duduk anteng.
Bahkan saat gue selesai cuci muka, sikat gigi, dan gue lanjut BAB dulu tadi, Kai masih anteng di depan televisi dengan posisi yang sama.
__ADS_1
Jujur, gue agak takjub sekali lagi. Cuma ini kalau ketahuan Mama-nya pasti gue bakal kena amuk sih. Mala bakalan mengomel panjang lebar. Tapi mau gimana lagi, abisnya dia antengnya cuma kalau disuruh nonton sih. Kalau enggak pasti udah kabur-kaburan.
Soalnya Kai benar-benar aktif, mertua gue aja udah sering banget ngeluh kewalahan. Tapi saat gue tawarin buat pake baby sister, beliau langsung menolak keras. Katanya nggak rela kalau cucu satu-satunya harus diurus orang lain.
"Nonton tv-nya udah sekarang waktunya mamam," ajak gue langsung menggendong Kai.
Kali ini dia nggak protes sama sekali dan langsung menurut. Gue kembali mencium pipinya karena Kai mau diajak bekerja sama. Sebelum turun gue mengambil ponsel dulu. Takut sewaktu-waktu butuh bantuan Mala. Dan benar saja, tepat saat gue selesai mendudukkan Kai di baby chair-nya, seketika gue langsung bingung.
Porsi makan Kai seberapa ya? Terus cara menghaluskan nasinya pake apa?
Gue dan Kai saling bertukar pandang. Bocah berusia delapan bulan itu ikut menatap gue bingung.
Gue meringis malu.
"Mam. Mamam," celetuknya kemudian.
"Iya, iya, bentar dong, Dek, Papa telfon Mama-mu dulu. Ini Papa nggak ngerti porsi makan kamu seberapa."
Gue langsung menghubungi Mala setelahnya. Beruntung karena panggilan gue langsung dijawab.
"Ya, gimana, Gha? Kai nggak mau makan kah?"
Gue mendengus. "Boro-boro, orang aku aja masih bingung gimana buatin makannya."
"Kok bingung? Tinggal dicampur aja, Gha, nasi dikit, bayamnya dikit, ati dikit, terus kamu halusin. Udah. Buat Kai udah nggak perlu lembut-lembut banget, yang penting sekiranya nggak bikin bayi tersedak, aman kok."
"Ya, masalahnya itu nasinya seberapa, bayamnya seberapa aku nggak ngerti, La."
Terdengar suara tertawa dari seberang. "Oh, aku lupa belum kasih tahu ya? Nasinya satu sendok aja, tapi satu sendok penuh. Terus bayamnya dikit, satu sendok juga, cuma nggak usah sampe penuh, yang penting cukup, buat ati ayamnya kira-kira seruas jari."
"Astaga, La, ribet banget, ya, ternyata. Ini kenapa nggak pake bubur instan aja sih?" keluh gue kemudian.
Setelah gue pikir-pikir kayaknya gue nggak bakal bisa deh bikinnya.
"Mamam, mamam."
Gue langsung menoleh kembali ke arah Kai. "Iya, bentar, Dek, sabar. Papa juga laper kok. Kita sama. Sabar dulu."
Tuh, mana bocahnya nggak sabaran banget lagi.
"Kan aku bilang tadi kalau bubur instan Kai kurang suka, makanya aku suruh kamu kasih nasi sama sayur."
"Tapi ribet, La, bikinnya, aku nggak bisa deh."
Mala menghela napas. "Ya udah kalau kamu males ribet, kamu bikinin bubur instan aja kalau begitu. Aku stok di lemari kabinet nomor 2 dari kiri. Takarannya lima sendok kecil, jangan dibikinin terlalu encer, ya."
Gue mengangguk paham. "Ya udah, oke, aku bikinin bubur instan aja deh, La. Biar nggak kelamaan."
"Ya udah, terserah kamu. Gitu juga nggak papa. Biasanya juga kalau sama aku, aku selang-seling kok nggak nasi terus, soalnya mubazir udah terlanjur dibeli. Yang penting kamu harus extra sabar, soalnya Kai lumayan agak susah sekarang kalau makan bubur instan. Sama ini satu lagi, kalau nyuapin Kai, kamunya ikutan makan sekalian, gantian. Biar bareng, dia lebih seneng kalau makan ada temennya. Kalau kamu khusus suapin doang, biasanya dia bakalan susah makan."
"Iya." gue mengangguk paham.
Setelah mematikan sambungan telfon, gue langsung mencari bubur instan dan membuatkannya. Setelah siap, gue langsung mengambil nasi untuk gue sendiri. Gue kemudian mulai menyuapinya lalu bergantian dengan gue.
Di awal-awal Kai masih cukup lahap, namun, lama kelamaan dia mulai susah membuka mulut. Kayaknya benar deh kata Mala, Kai kurang suka sama bubur instan. Terus gimana dong? Gue mulai kehilangan kesabaran karena Kai susah banget buka mulut. Padahal nasi gue hampir habis.
Perasaan kalau makan bareng-bareng cepet deh, kok sama gue doang jadi susah begini? Apa yang salah dari gue?
Tbc,
__ADS_1