
*
*
*
"Gha, jagain Kai bentar."
Gue hanya merespon teriakan Mala dengan gumaman dan masih sibuk mengetik. Kai itu nama anak gue. Lengkapnya Kaivan Ashanka Gajendra. Panggilannya Kai. Usianya sudah lebih dari dua bulan, dua hari lagi usianya genap tiga bulan. Kondisinya sehat dan makin gembul aja pipinya, maklum ASI dia kuat banget, mungkin karena cowok kali, ya. Sekarang dia mulai belajar ngoceh dan seneng banget kalau diajak ngobrol. Mana suka nggak kenal waktu banget lagi kalau ngajak ngobrol, kayak kemarin gue baru pulang dari RS jam setengah 11 malam, kebetulan dia pas bangun, lanjut minta diajak ngobrol sampe jam satu. Kayaknya ini anak bakal jadi anak cerewet deh.
"Gha, kamu dengerin aku nggak sih?" decak Mala sambil berkacak pinggang.
Gue mengangguk untuk mengiyakan. "Denger kok, La," balas gue tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Kebetulan gue lagi ngerjain jurnal kesehatan.
"Apa?"
"Jagain Kai kan?"
Mala berdecak. Mendengar decakannya yang tidak bersahabat, gue langsung mendongak ke arah Mala yang ternyata sudah berdiri tepat di hadapan gue. Cepat-cepat gue langsung meletakkan laptop di atas meja, lalu mengambil alih Kai dari gendongan Mala.
"Sini, sini, biar Kai sama aku aja."
"Dijagain yang bener, jangan ditinggal sibuk sendiri," ujar Mala memperingatkan sebelum pergi meninggalkan kami berdua.
Gue mengangguk patuh. "Iya, iya, La, beres. Kai kan juga anak aku masa nggak dijagain dengan bener sih."
"Ya, soalnya kamu seringnya begitu," omel Mala.
Gue merengut. "Mau ditinggal ngapain sih emang?" tanya gue kemudian.
"Makan. Aku belum sempet makan loh dari tadi siang."
Btw, gue sama Mala emang nggak pake baby sister buat bantu jagain Kai. Karena Kai lahir sebelum waktunya, Mala memutuskan cuti dulu dan fokus mengurus putra kami.
"Loh, kan ini udah sore kok baru makan?" tanya gue heran, "emang ngapain aja kamu seharian ini?"
__ADS_1
"Tidur," balas Mala ketus, "ya, menurut kamu? Jagain anak kamu lah pake segala nanya."
"Ya kan cuma jagain--"
Kalimat gue terpaksa terhenti karena Mala terlihat bersiap melempar sandalnya ke arah gue. Kalau seandainya gue lagi nggak gendong Kai, gue yakin sandal itu pasti benar-benar akan melayang ke arah gue. Gue yakin itu. Beruntung gue lagi gendong Kai.
"Iya, iya, maaf, La. Aku salah ngomong, kamu mending sekarang makan deh sebelum makan aku," ucap gue menyarankan.
Mala melirik gue sinis lalu kembali memakai sandalnya dan keluar kamar. Gue terkekeh geli tak lama setelah Mala keluar kamar. Kini perhatian gue sepenuhnya terfokus pada Kai.
"Mama-mu emang gitu, Nak, kalau lagi sensi emang galak. Makanya kamu jangan sering-sering bikin Mama-mu sensi ya?" Kai tersenyum saat mendengar kalimat gue, seolah mengerti ucapan gue, "tapi tenang aja, Papa nggak galak kok. Papa baik. Kan kita besti. Oke?" Kai masih senyum-senyum seolah benar-benar paham omongan gue.
Hal ini membuat gue gemas dan berakhir menciumi seluruh wajahnya. Detik berikutnya tangis Kai langsung pecah. Gue kelimpungan panik karena Kai kalau menangis kenceng banget, biasanya sampe kedengeran dari lantai bawah. Bisa kena omel Mala ini gue.
Mampus!
Susah payah gue mencoba menenangkan tangisnya, namun, usaha gue tampaknya sia-sia. Karena bukannya diam Kai malah tambah menangis kencang. Dan tak lama setelahnya Mala masuk ke dalam kamar dengan napas ngos-ngosan.
Seketika gue langsung meringis takut-takut.
Sedikit susah payah ia mengatur napasnya, setelah dirasa mulai sedikit lebih tenang. Ia langsung mengambil alih Kai dari gendongan gue. Pukulan kencang langsung mendarat ada pundak gue. Yang tentu saja langsung gue protes.
"Kamu ini kebiasaan banget kalau disuruh jagain bukannya dijagain bener malah dibikin nangis," omelnya galak.
"Aku nggak jagain bener gimana sih, La?" protes gue kemudian, "emang dia-nya aja yang tiba-tiba nyariin kamu," sambung gue kemudian.
Mala melotot tidak percaya, lalu berusaha menenangkan putra kami.
"Ssst.... Ssstt....,sayang, sayang, nggak papa. Nggak papa. Siapa yang nakal sayang? Papa nakal ya? Iya, iya, nanti Mama jewer, ya, Papa-nya."
Tidak butuh lama, Kai akhirnya lebih tenang dan tidak menangis lagi. Tapi tetap saja Mala kembali mengomel.
"Kamu apain sih anaknya?" bisiknya dengan suara pelan. Takut kalau mood Kai kembali rusak.
Gue menggeleng cepat. "Enggak diapa-apain kok. Emang mau diapain juga sih? Kai itu juga anak aku loh, La, kalau kamu lupa."
__ADS_1
Mala menggeleng tidak percaya. "Enggak mungkin. Pasti kamu isengin kan?" tuduhnya kemudian, "kamu itu loh, Gha, kebiasaan banget. Kalau disuruh jagain bentar pasti diisengin sampe nangis begini. Kamu ini bener-bener ya."
Gue menggeleng cepat. "Enggak. Beneran nggak diisengin, La. Orang aku cium doang," elak gue tidak terima. Gue melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Kembali meraih laptop gue dan mengerjakan jurnal.
"Nah, itu, pasti kamu ciumnya berlebih makanya anaknya nangis."
Kali ini gue terkekeh samar.."Ya kan disesuaikan sama jumlah sayangnya aku, La. Emang sebanyak itu. Jadi ciumnya juga harus banyak kan?"
Mala melotot kesal saat mendengar jawaban gue. Tangannya bersiap seperti ingin memukul gue. Namun, tidak benar-benar ia lakukan karena jarak kami yang lumayan jauh. Gue hanya terkekeh sambil memberikan kecupan jarak jauh. Yang tentu saja langsung dibalas dengan dengusan tidak percaya.
"Btw, kamu udah selesai belum tadi makannya?" tanya gue saat menyadari kalau tadi Mala mau makan dulu.
"Ya, belum lah," balas Mala ketus.
Seketika gue langsung panik. Cepat-cepat meletakkan laptop gue di atas meja lalu berjalan menghampiri Mala. Berniat mengambil alih Kai dari gendongannya. Namun, dengan gerakan tak kalah cepat Mala menolaknya.
"Lah, kok?" protes gue kemudian.
Mala sedikit melotot tajam sambil berbisik. "Kamu nggak liat ini anaknya udah kayak mau tidur? Biar tidur sekalian aja."
"Terus makanan kamu gimana?"
"Ya, enggak gimana-gimana."
"Keburu dingin dong ntar. Udah, kayaknya nggak papa kok, Kai sama aku, kamu lanjut makan dulu deh," ucap gue menyarankan.
Mala tetap menggeleng tidak setuju. "Nanti dia rewel lagi, Gha, kamu nggak liat dia ia ngantuk begini?"
Benar. Kedua mata Kai sekarang terlihat seperti memberat. Meski belum benar-benar terpejam tapi memang terlihat seperti orang yang sedang mengantuk berat. Kalau seandainya gue ambil alih menggendongnya, bisa tambah bad mood dia. Jadi gue lebih membiarkan tetap Mala yang menggendongnya. Toh, biasanya juga Kai termasuk yang gampang tidur. Kadang saja gue gendong doang tahu-tahu tidur. Enggak jarang gue kena omel sama Mala, karena Mala pengennya Kai masih tetap terjaga dulu tapi bocahnya udah keburu merem duluan.
"Berarti tadi dia nangis karena ngantuk, La, bukan karena aku cium."
Mala langsung menoleh ke arah gue dengan ekspresi tidak percayanya. Ia tidak berkomentar apapun setelahnya.
Tbc,
__ADS_1