Married With My Besti

Married With My Besti
When Bapak-Bapak Kumpul


__ADS_3

*


*


*


"Loh, Gha, kok masih nyantai aja bukannya siap-siap?"


Gue mengerutkan dahi gue heran saat mendengar pertanyaan Mala. Gue baru saja pulang dinas, capek luar biasa dan masih enggan untuk bangun dari posisi berbaring gue. Kancing kemeja gue bahkan masih terpasang rapi semua, bahkan sekedar untuk melepasnya gue seolah tidak memiliki tenaga.


"Emang kamu ngajakin ke mana? Perasaan kita nggak ada rencana mau pergi deh."


Gue mencoba mengingat-ingat kali aja melupakannya. Tapi rasa-rasanya memang kita tidak memiliki rencana untuk pergi deh malam ini. Bahkan kalau ada rencana pun gue pengen banget batalin, karena rasanya capek banget badan gue.


"Bukan. Tapi kan hari ini ada rapat perkumpulan bapak-bapak komplek di rumah Pak RT, Gha. Lo lupa?"


Spontan gue menepuk dahi. "Astaga, gue lupa, anjir." Cepat-cepat gue bangun dari posisi berbaring, lalu berlari menaiki anak tangga menuju kamar untuk mandi.


Samar-samar gue dengar decakan dari Mala, yang mungkin saja diiringi dengan gelengan kepala tidak percaya, sebelum gue meninggalkan ruang tamu.


Saat gue selesai mandi, Mala sudah di kamar. Dia sedang sibuk melakukan rutinitas skincare-nya.


"La, ini enaknya gue pake baju apa? Perlu pake batik nggak sih?"


"Enggak usah lah, batik terlalu formal, Gha. Pake kaos polo yang berkerah aja udah, nggak usah ribet!"


Gue mengangguk paham lalu membuka lemari. Saat hendak mengambil kaos, gue kemudian berbalik. "Eh, celananya?"


"Bebas. Yang penting pake celana panjang."


Gue kembali mengangguk paham lalu mengambil celana jeans dan koas polo berwarna hitam.


"Nggak usah pake adegan diobrak-abrik segala, Gha," ucap Mala memperingatkan.


"Iya, ini gue ambil yang paling atas kok. Santai aja, khawatir banget kamu."


"Aku tidur duluan ya?"


Setelah selesai melakukan rutinitasnya, Mala kemudian memilih untuk langsung berbaring di atas ranjang.


"Iya, kayaknya juga bakal sampe malam."


"Yang penting jangan sampe pagi ya? Besok kamu ada seminar di Bogor. Ingat! Gue nggak mau besok lo susah dibangunin terus ujung-ujungnya nyalahin aku."


"Ya, kalau soal itu aku nggak bisa jamin, La. Kan bisa dibilang kita warga baru, mana aku-nya jarang banget lagi ikut rapat-rapat ginian. Jadi sungkan lah kalau minta pulang duluan."


Mala membenarkan selimutnya. "Terserah. Pokoknya yang penting besok pagi nggak ada adegan susah dibangunin, itu intinya."


"Iya, iya."


Gue mengangguk paham lalu berjalan menghampiri Mala. Mengelus perut buncitnya sebentar, lalu mengecup kening Mala sekali.


"Aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa langsung telfon."


"Hm."


Gue kemudian mengulurkan telapak tangan. Meski dengan wajah agak cemberut, Mala tetap menerima uluran tangan gue dan mencium punggung tangan gue.


"Anjir, udah kayak pasutri beneran ya kita, La," gurau gue sambil tertawa.


Mala mendengus. "Ya emang beneran, anjir. Lo pikir perut gue jadi segede ini karena apa kalau bukan karena kita ini pasutri?" sewotnya kemudian.


Gue hanya terbahak lalu pergi meninggalkan kamar begitu saja. Berhubung jarak rumah gue sama rumah Pak RT agak jauh, gue memutuskan untuk menggunakan motor. Selain biar cepet nyampe, gue juga males banget harus jalan kaki. Soalnya lagi capek-capeknya.

__ADS_1


Sesuai dugaan, gue jadi warga yang dateng paling akhir. Acara bahkan sudah hampir dimulai.


"Duh, maaf ya, bapak-bapak, saya telat banget. Soalnya baru pulang terus saya kelupaan kalau ada rapat," ucap gue sungkan setelah menyalami beberapa warga yang datang ke acara rapat.


"Santai saja Mas Agha, kita paham kok. Mas Agha ini kan orang sibuk, orang penting, jadi kita maklum. Kita malah heran karena Mas Agha masih mau ikut kumpul-kumpul sama bapak-bapak begini," ucap Pak Hasan. Tetangga depan rumah gue yang terkenal sangat ramah dan baik banget.


Dulu saat pertama kali gue memboyong Mala untuk pindah ke sini, Pak Hasan lah orang yang pertama kali menyapa kami. Bahkan istrinya yang punya usaha catering sering banget bagi-bagi makanan. Anaknya ada tiga, yang pertama udah baru masuk kuliah, yang kedua duduk di bangku SMA sedangkan yang paling bontot baru mau masuk SMP tahun depan.


"Masnya warga baru?" tanya Pak Rudi, kebetulan beliau duduk di sebelah gue. Rumah kami memang lumayan berjarak, jadi wajar kalau beliau tidak ingat gue. Apalagi kalau mengingat profesi beliau yang seorang pilot, yang mengharuskan beliau berpergian. Ditambah gue juga jarang di rumah karena lebih sibuk di RS, ya wajar sih kalau beliau belum hafal muka gue.


"Ya lumayan sih, cuma nggak baru-baru banget, Pak. Udah hampir setengah tahun lah pindah kemari."


Pak Rudi mengangguk paham. "Oh, udah lumayan baru ya ternyata. Sudah beristri apa belum ngomong-ngomong? Kebetulan anak saya yang nomor 2 bentar lagi lulus kuliah nih, kalau mau nanti saya kenalin."


"Pak Rudi ini sembarang banget, Mas Agha ini sudah punya istri. Mana istrinya lagi hamil lagi," sahut Pak RT, "udah berapa bulan sih, Mas?"


"Baru jalan 5 bulan, Pak."


"Oalah, udah lewat ya berarti mual muntahnya?"


Gue meringis. "Ya, seenggaknya udah nggak separah awal-awal, Pak."


"Tapi saya denger dari istri saya yang mual muntah sama ngidam itu Mas Agha ya?" tanya Pak Yohan. Rumah beliau tepat di sebelah kanan gue. Anaknya ada empat tapi nyebar semua. Ada yang di luar Jawa, di luar kota bahkan ada yang di luar negeri. Jadi beliau di rumah hanya tinggal sama istrinya.


"Iya, kebetulan saya yang mual muntah, Pak. Ngidam juga saya. Yang sensitif sama wewangian juga saya. Yang rewel juga saya," ungkap gue sedikit malu-malu.


"Terus gimana kerjanya Mas Agha? Sampe ganggu kerjaan nggak?"


"Alhamdulillah enggak sampai ganggu sih, Pak. Sejauh ini masih bisa saya handle dengan baik."


"Kalau boleh tahu emang Mas Agha kerjanya apa?"


"Mas Agha ini nakes, iya kan, Mas?" sahut Pak Thoriq, "dokter apa perawat, Mas?


"Oh, dokter apa kalau boleh tahu? Apa masih dokter umum?"


Astaga, ini acara apaan sih? Kenapa jadi sensi tanya-jawab tentang gue ya?


"Saya dokter bedah, Pak."


"Masih residen?"


"Alhamdulillah udah spesialis."


"Loh, emang Mas Agha ini umurnya berapa to? Kok udah spesialis saja? Dulu sekolahnya pake program akselerasi apa gimana?"


"Mas Agha ini memang dasarnya yang awet muda," sahut Pak RT.


Gue hanya mampu tersenyum malu-malu karena dipuji awet muda secara tidak langsung.


"Terus-terus istri Mas Agha profesinya apa? Dokter juga atau ibu rumah tangga biasa?"


"Kebetulan istri saya dokter juga, Pak. Istri saya dokter anestesi, kebetulan kita emang satu rumah sakit juga."


Tak ingin ditanya terus-terusan, gue langsung memberi jawabannya secara langsung. Kode juga sih biar ini para bapak-bapak berhenti tanya-tanya. Heran banget gue ini itu sebenernya rapat perkumpulan apaan sih?


"Wah, cinlok dong berarti?" sahut Pak Rudi yang sukses membuat gue tercengang, "tapi nggak papa, Mas, saya sama istri saya dulu juga gitu. Saya pilot istri saya pramugari. Tapi kita masih mending sih."


Gue tidak bisa menahan kerutan di dahi. Mending dalam konteks apa nih?


"Iya, Mas, kita masih mending naksir sesama rekan, lha Pak RT paling parah nih."


"Loh, kok jadi saya yang dibawa-bawa?"

__ADS_1


"Emang Pak RT kenapa, Pak?" tanya gue kepo. Udah terlanjur dispill begini ya kali nggak kepo.


"Pak RT dulu itu mantan guru, Mas, istrinya yang sekarang itu dulu muridnya loh."


Wow, sebuah fakta yang cukup mencengangkan. Gue tahunya beliau itu peternak ikan lele yang kebetulan juga memiliki kolam pemancingan ikan. Oh, ternyata dulunya beliau ini pensiunan guru toh. Mana nikahin mangan muridnya sendiri pula.


"Lihat wajah kagetnya Mas Agha, persis dengan saya dulu," seloroh Pak Yohan yang membuat kami semua tertawa.


"Sudah, sudah, ngobrolnya nanti dilanjut lagi. Sekarang kita bahas soal iuran sampah. Ini kalau iuran sampah saya naikin bapak-bapak bakal protes tidak?"


"Saya sih tidak masalah."


"Saya juga."


"Iya, saya juga tidak masalah. Masalah kebersihan memang nomor satu, jadi kalau memang iuran sampah perlu dinaikkan tidak masalah yang penting tidak ada masalah sampah tidak terurus."


"Saya setuju."


"Saya juga."


"Saya juga nggak ada masalah," ucap gue ikut mengeluarkan pendapat.


"Kalau perlu uang keamanan ditambah juga," sahut Pak Rudi tiba-tiba, sukses membuat beberapa bapak-bapak langsung menatap ke arah beliau, "biar keamanan komplek kita makin terjamin bapak-bapak. Soalnya denger-denger komplek sebelah beberapa rumah kemalingan. Serem kan? Ada yang kehilangan uang tunai, emas dan perhiasan juga. Jadi menurut saya keamanan perlu lebih diketatkan lagi."


"Saya juga setuju dengan usulnya Pak Rudi, karena memang rumor soal kemalingan lagi santer banget beritanya. Sudah sepatutnya kita memperketat keamanan, kalau memang perlu dana tambahan nggak masalah, yang penting aman."


"Kalau demi keamanan sih saya juga setuju banget."


"Saya juga."


"Berarti masalah sudah kelar ya? Iuran sampah dan iuran keamanan ditambah?"l


Kami semua langsung mengiyakan dan mengangguk setuju. Rapat diakhiri begitu saja. Kalau begini sih menurut gue nggak perlu ada rapat-rapat segala. Karena para bapak-bapak ini lebih banyak mengobrol ketimbang membahas rapat. Mulai dari politik, bisnis, perekonomian sampai gosip janda komplek sebelah pun tidak luput dari obrolan kami. Gue baru tahu kalau ternyata bapak-bapak tetangga gue pada doyan ngerumpi juga. Gue pikir para istri-istri doang yang begitu.


"Sebelum kita akhiri pertemuan kita, saya mau ngasih pengumuman baru."


"Soal apa Pak RT?"


"Kita akan kedatangan tetangga baru."


"Rumah yang di sebelah saya?" Gue membuka suara. Karena seingat gue rumah yang masih kosong ya tinggal itu. Belum lama ditinggal pindah pemiliknya.


"Iya, betul banget Mas Agha. Nanti mohon dibantu ya, soalnya mereka juga pasutri baru kayak Mas Agha sama Mbak Mala."


Gue mengangguk paham. "Siap Pak RT. Tapi kalau boleh saya tahu, kapan mereka akan mulai pindah?"


"Besok pagi."


"Waduh!"


"Kenapa Mas Agha?" tanya Pak Thoriq.


"Itu... anu... Kalau besok saya nggak bisa bantu-bantu, soalnya besok saya ada seminar di Bogor. Harus berangkat pagi-pagi, buat sekedar nyapa aja kemungkinan nggak sempet."


"Oalah, ya udah nggak papa, Mas. Biar nanti dibantu sama warga lain."


Meski termasuk di lingkungan kota, komplek ini memang lumayan mengedepankan gotong royong yang lumayan kental, itu lah salah satu alasan kenapa gue seneng tinggal di komplek ini. Ya, meski sebenarnya gue nggak ngerasa akrab-akrab banget sama warganya. Maklum, bagi gue, gue masih menyebut diri gue sebagai warga baru di komplek ini.


Setelah dirasa sudah tidak ada yang perlu dibahas lebih lanjut, kami semua membubarkan diri. Gue agak kaget waktu melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kiri gue.


Astaga, ternyata sudah jam satu kurang lima belas menit?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2