
*
*
*
Perasaan gue mendadak tidak enak karena gue baru saja keluar dari ruang operasi, mengecek ponsel dan langsung menemukan banyak notifikasi panggilan tidak terjawab dari Bunda hingga Mala.
Waduh, ada apa nih?
Cepat-cepat gue menghubungi Mala untuk memastikan. Tapi sayang, panggilan gue tidak dijawab olehnya. Gue kemudian mencoba mengubungi Bunda. Dan beruntung, meski sempat menunggu beberapa saat, panggilan gue kali ini terjawab.
"Halo, Bun? Tadi Bunda telfon Agha? Ada apa? Kai rewel lagi nyariin aku? Atau dia demam lagi?" berondong gue dengan pertanyaan bertubi.
"Kamu mending sekarang ke IGD, ini kita lagi di sini. Kai tadi sempat demam terus muntah-muntah, makanya Bunda langsung bawa ke rumah sakit. Ini dari tadi Kai nangis terus nggak mau diem, sama Mala mau digendong tapi tetep aja nangis terus. Kamu buruan ke sini ya?"
Gue mengangguk paham. "Iya, Bun, Agha langsung ke sana sekarang."
Klik. Gue langsung mematikan sambungan telfon dan berlari kecil menuju IGD. Gue panik sekaligus khawatir karena Kai tidak biasa begini.
Saat gue sampai di sana, Kai masih terlihat menangis di gendongan Mala. Cepat-cepat gue menghampiri mereka dan mengambil alih Kai dari gendongan Mala. Kai langsung diam saat gue menggendongnya. Samar-samar gue mendengar decak kagum seseorang.
"Keren!"
Reflek gue langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Ambar, salah satu dokter muda yang bertugas di IGD tengah menatap gue takjub. Gue mengenalnya karena beberapa kali kami sempat bertemu.
Gue mengerutkan dahi bingung. "Apanya yang keren?" tanya gue heran.
Ambar tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya. "Dokter Agha keren. Pasien langsung diem begitu digendong anda, dan menurut saya itu keren."
Gue terkekeh geli. Merasa konyol dengan jawaban dokter muda itu. "Dia anak saya. Saya Papa-nya," ucap gue menjelaskan, "wajar kalau dia langsung diem. Kamu ini ada-ada aja."
"Hah, dokter Agha sudah menikah?" tanya Ambar dengan wajah kaget yang tidak bisa disembunyikan dengan jelas, "ini anak dokter Agha?"
Mau tidak mau gue kembali terkekeh. "Memang aneh ya kalau saya sudah menikah dan punya anak?"
"Iya," jawab Ambar tanpa sadar, "eh, enggak, maksud saya nggak aneh sama sekali, dok," ralatnya cepat, "maaf," sesalnya kemudian.
Gue tertawa melihat reaksi lucunya. "Anak saya gimana?" tanya gue kemudian. Mencoba mengalihkan pembicaraan karena Ambar terlihat tidak nyaman.
"Ah, sekarang kita lagi nunggu hasil lab, dok."
Gue menoleh ke arah Mala.
"Tadi dokternya saranin rawat inap atau injeksi infus sekali karena Kai kelihatan lemes, tapi aku kurang setuju," ujar Mala menjelaskan.
"Kenapa?"
"Enggak tega, Gha, dari tadi Kai nggak mau diem, nangis terus. Jadi aku cuma minta tes darah aja."
Gue sedikit mengintip ke arah Kai yang kini sedang menyandarkan kepalanya pada pundak gue. Ia terlihat mulai mengantuk, beberapa kali ia mencoba menutup matanya.
"Tapi apa enggak lebih kasian kalau liat Kai lemes gini, La?"
Mala menghela napas sambil mengelus kepala Kai pelan. "Sama aja nggak tega sih sebenernya, tapi mau gimana lagi? Kita coba tunggu hasil tesnya keluar dulu lah. Kalau semua baik-baik aja, cukup sering-sering aku kasih asi aja biar nggak dehidrasi."
Gue mengangguk paham.
"Kamu masih ada operasi nggak abis ini?"
Gue menggeleng. "Sore," balas gue tanpa perlu mengeluarkan suara karena Kai sudah mulai terlelap, "tapi setengah jam lagi ada visit terus jaga poli klinik. Kamu?"
"Masih dua jam-an lagi join operasi Juan."
"Lama dong?"
Kini giliran Mala yang mengangguk dan mengiyakan. "Lumayan."
__ADS_1
"Sini coba biar Kai gantian Bunda yang gendong," tawar Bunda di tengah-tengah obrolan kami.
Gue memandang beliau ragu. "Nanti dulu deh, Bun, Kai kayaknya belum terlalu nyenyak tidurnya."
Soalnya gue masih agak trauma kalau Kai tidur terus kebangun dan berakhir menangis setelahnya. Kasian.
"Em, kalau gitu saya permisi, dok," pamit Ambar.
Gue tersenyum tipis seraya mengangguk dan mempersilahkan pergi.
"Cantik ya?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. Namun, beberapa detik kemudian gue menyadari sesuatu dan langsung menoleh ke arah Mala. Ekspresi wajah Mala terlihat datar.
"Iya, bener kan?" tanya gue kemudian.
Kebetulan memang bukan hanya gue sendiri yang mengakui kecantikan Ambar dengan kulit putih susu dan senyum manisnya itu, tapi karyawan atau bahkan pasien pun mengakuinya. Orang yang baru bertemu dengannya pun pasti akan langsung dengan cepat mengakui kecantikannya.
"Naksir kamu?"
"Lah, puji orang cantik nggak lantas bikin aku naksir orangnya kali, La." gue terkekeh geli lalu menyenggol lengannya, "cemburu kamu?"
"Enggak usah mengalihkan pembicaraan!"
Gue menggeleng cepat. "Enggak mengalihkan pembicaraan, La, sikap kamu kayak orang yang lagi cemburu jadi masih bersangkutan sama yang kita bahas."
"Tahu lah, aku mau tanya ke perawat dulu kalau gitu."
"Nanya apaan?" tanya gue dengan nada menggoda.
Mala langsung melotot. "Ya, nanya hasil lab Kai lah, segala pake nanya," gerutunya sambil menahan kesal. Lalu pergi berjalan menuju nurse station.
*
*
*
Liburan kami berdua dinyatakan gagal karena Kai harus dirawat. Agak sedih sebenernya, tapi mau bagaimana lagi. Kita sebagai manusia hanya mampu berencana sedangkan Tuhan tetap lah yang menentukan.
"La, kamu laper nggak?" tanya gue memecah keheningan.
Mala kemudian bangun dari posisi berbaringnya. "Banget. Cari makan gih, Gha! Aku pengen yang berkuah-kuah deh."
"Kalau mau yang berkuah-kuah nunggu Mama dulu." tangan gue kemudian terulur menyentuh leher Mala yang terasa sedikit hangat, "anget lagi, La?"
"Pusing dikit."
Gue langsung menatap Mala iba. "Jangan ikutan sakit, La," pinta gue serius. Yang hanya Mala respon dengan kekehan ringan, "serius, La."
"Iya, iya, Gha. Takut banget kamu."
Gue mendengus, merasa kesal dengan jawaban Mala. "Ya iya lah, La, anak istri sakit barengan, ntar aku pusing ngurusinnya," keluh gue kemudian.
"Kan masih ada Bunda sama Mama."
Gue merengut. "Ya, tetep aja beda dong, La, kalau kamu ikutan sakit aku kan nggak bisa ngurusin kamu juga."
"Tenang aja, istri dan ibu itu meski sakit masih bisa kok ngurusin anak dan suami." Mala tersenyum dan berusaha untuk menenangkan gue. Tapi tetap saja gue masih merasa belum tenang.
"Nah, itu dia, yang enggak aku suka, La. Aku maunya kalau kamu sakit, kamu nggak mikirin apapun kecuali kesehatan kamu. Biar anak dan lainnya aku yang ngurusin. Tapi kalau sakitnya barengan kan jadinya nggak bisa." gue berdecak kesal karena Mala hanya tertawa sebagai respon, "udah deh, biar enakan mending sekarang kamu tidur. Dibuat istirahat biar nanti segeran."
"Enggak nyari makan dulu?"
"Lah, iya, apa kita sekarang nyari makan dulu Kai-nya kita titipin ke perawat jaga?" usul gue yang langsung membuat gue pukulan keras dari Mala.
"Sembarangan banget, kamu mending cari makan dulu sekalian beliin aku, biar Kai sama aku."
__ADS_1
"Tadi katanya minta yang kuah-kuah, kalau makan yang berkuah ya enaknya makan di tempat, masa bungkus?"
"Ya, enggak papa daripada Kai nggak ada yang nemenin?"
Gue berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. Benar juga sih, nanti kalau Kai rewel dan kita nggak ada malah ribet.
"Ya udah, kalau gitu aku keluar dulu cari makan. Mau apa?"
"Apa aja yang penting berkuah biar seger."
"Sup buah seger juga, La, mau?"
Mala hanya merespon dengan dengusan dan segera menyuruh gue pergi.
*
*
*
Sebelum masuk ke dalam ruang rawat inap Kai, gue mampir dulu ke nurse station dan menyapa perawat jaga yang ada di sana. "Ssst, pinjem mangkok sama sendok-garpu dong," ucap pada salah satu perawat jaga.
"Buat apa, dok?"
Gue langsung mengangkat kantong plastik yang gue bawa.
Perawat itu tersenyum lalu berdiri. "Berapa, dok?"
"Dua."
"Bentar, dok, saya ambilin dulu."
Gue langsung membentuk huruf O menggunakan jari. "Oke."
"Ini, dok!" tak berapa lama perawat itu kembali dan membawa mangkok yang gue minta.
"Oke, makasih, ya, nanti begitu kelar langsung saya balikin. Selamat bekerja! Saya temenin dari ruang inap anak saya, semangat!" ucap gue menyemangati perawat itu dengan serius dan tulus. Namun, hanya direspon perempuan itu dengan tertawa.
"Ma--"
Gue tidak jadi melanjutkan kalimat gue karena, saat masuk ke dalam kamar Kai nampak menangis di gendongan Mala. Gue langsung meletakkan mangkok dan kantong plastik bawaan gue di atas meja dan mengambil alih Kai dari gendongan Mala.
"Kenapa dia?"
"Kebangun terus kayaknya sadar kamu nggak ada makanya nangis."
"Ssst, sstt, nggak papa sayang, nggak papa, ini udah sama Papa kok," ucap gue menenangkan. Kai langsung diam tak lama setelahnya.
"Kamu makan aja dulu, La, kalau gitu."
Mala memandang gue ragu. "Terus kamu?"
"Aku gampang lah, nanti aja. Yang penting Kai tidur dulu."
Mala mengangguk paham lalu membuka bungkus plastik yang gue bawa. "Mangkok siapa ini?"
"Perawat jaga. Aku pinjem bentar, ntar begitu kelar langsung balikin ya?"
Mala mengangguk paham lalu mulai makan. "Kamu mau?" tawarnya kemudian.
Tanpa ragu, gue langsung mengangguk cepat. Lalu mendekat ke arah Mala, ia langsung menyuapi gue. Gue terkekeh tak lama setelahnya saat menyadari sesuatu.
"Yang ikutan enggak enak badan kan kamu, ya, La, tapi yang disuapi tetep aku."
"Iya, soalnya kamu manja."
Tbc,
__ADS_1