Married With My Besti

Married With My Besti
Jagain Mala


__ADS_3

*


*


*


Sudah hampir satu jam lebih gue sama Mala duduk di lantai yang dingin dengan tubuh saling memeluk erat. Kaki gue rasanya sampe agak kesemutan, dada gue basah oleh air mata Mala.


Bertahun-tahun mengenal Mala, ini pertama kalinya gue melihat sisi lemah gadis itu. Seumur-umur gue belum pernah melihat dia serapuh ini. Hati gue kembali bergejolak marah saat mengingat Danu lah si pelaku yang telah membuat Mala begini. Ada perasaan menyesal teramat dalam saat mengingat kalau gue belum menghajar pria itu. Amarah seolah kembali menguasai gue.


Ya Tuhan gue kesel banget.


"La, udah, yuk, pindah ke sofa? Di sini dingin." Gue agak merenggangkan tubuh kami, namun, dengan gerakan lebih cepat Mala malah mengeratkan pelukannya.


Gue menghela napas putus asa. "Mala, jangan begini! Lo bikin gue takut."


Mala tidak merespon, gadis itu malah semakin terisak. Gue yang panik langsung mengelus punggungnya dan memeluknya semakin erat.


"It's okay, nggak papa, La. Nggak papa, lo aman sama gue," bisik gue, "gue gendong aja ya? Tapi kita pindah? Apa mau langsung pulang ke rumah Mama?" tawar gue kemudian.


Mala menggeleng. "Pindah," bisiknya lirih.


Gue mengangguk paham. Lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya langsung ke kamar karena Mala tidak mau gue bawa pulang. Sepertinya dia tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir. Tipe Nirmala banget.


Seolah takut gue menjatuhkannya atau bagaimana, Mala memeluk leher gue erat.


"Gue ambilin minum dulu, ya?" ucap gue berniat kembali berdiri, namun ditahan Mala. Gadis itu kembali menggeleng tegas.


"Gue takut," ucap Mala dengan suara bergetar.


Hati gue rasanya seolah teriris kala mendengar suara Mala yang terdengar begitu ketakutan. Sepertinya apa yang terjadi padanya tadi.


"Bentar doang, gue cuma ke dapur, La. Danu udah di kantor polisi, dia nggak akan ke sini lagi, lo aman sama gue."


Mala masih menggeleng tegas. "Takut."


Gue lagi-lagi hanya mampu menghela napas berat. Gue bego juga, ya, kenapa tadi nggak gue ajak dia minum di dapur dulu.


"Terus gimana? Emang lo nggak haus nangis dari tadi?"


Mala menggeleng cepat.


Anjir, gue aja rasanya haus banget loh padahal.


"Terus luka lo ini gimana? Ini perlu dibersihin terus diobati, La."


"Nanti kalau gue tidur. Sekarang lo temenin gue tidur dulu. Peluk gue, Gha, gue beneran masih takut sendirian. Bayangan Danu masih keputer jelas di otak gue."


Sambil menghela napas gue mengangguk paham. "Ya udah, gue temenin. Lo bisa tidur sekarang."

__ADS_1


"Mau dipeluk."


"Oke, gue peluk."


Tanpa berpikir lebih lanjut gue langsung ikut berbaring di sebelah Mala dan memeluk perempuan itu. Gue membiarkan dada gue menjadi bantal tidurnya sedangkan tubuh gue menjadi gulingnya.


"Nggak usah pikirin apapun," bisik gue sebelum mengecup pucuk rambutnya, "tidur, La! Gue nggak kemana-mana."


Setelah gue rasa tidur Mala sudah lelap, gue langsung melepaskan diri dari pelukannya pelan-pelan, takut mengusik tidurnya. Gue kemudian memutuskan untuk mencari air hangat lebih dahulu baru kemudian mencari kotak P3K. Untung langsung ketemu meski ini pertama kalinya gue ke kamar Mala. Gue memang sudah sering kali main ke sini, hitungannya mungkin hampir setiap hari. Namun, untuk masuk kamar ini baru pertama kalinya.


Dengan gerakan hati-hati gue mulai membersihkan luka pada bibirnya lalu mengobatinya pelan-pelan, takut kalau nanti mengusik tidur Mala.


Gue menghela napas sedih. Tidak habis pikir kalau Danu bakalan berani melakukan ini pada Mala. Sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu hingga nekat melakukan ini?


Selesai mengobati luka Mala gue memilih tidak langsung membereskannya. Pandangan gue fokus memandangi wajah Mala yang kini terlelap di dalam mimpinya. Yang entah kenapa terlihat sedikit gelisah.


Mala pasti shock berat dengan kejadian yang menimpanya tadi. Bagaimanapun Danu adalah sesosok yang pernah ia percayai sebelumnya, tiba-tiba melalukan hal tidak sepantasnya begitu. Jelas saja ia shock berat.


*


*


*


Gue langsung berlari kecil menghampiri Mala, yang baru saja keluar dari kamar seperti orang kebingungan.


"La, gue di sini," ucap gue.


Sambil tersenyum gue menggeleng. "Enggak. Gue nggak bakal kemana-mana." Tangan gue kemudian menyentuh dahinya lalu turun ke pipi.


Gue langsung bernapas lega saat sudah tidak merasakan hawa panas di sana. Semalam Mala tiba-tiba mengigau tidak jelas lalu saat gue cek suhu tubuhnya, ternyata perempuan itu mengalami demam tinggi.


"Apaan sih?"


Dengan gerakan risih Mala menyingkirkan telapak tangan gue.


"Cek suhu tubuh lo doang, astaga, La."


"Gue nggak demam," balas gadis itu sambil memegang dahi dan pipinya sendiri.


Kalau gue perhatikan dari wajah dan nada suaranya, sepertinya Mala merasa jauh lebih baik ketimbang semalam.


"Iya, tapi semalam lo demam."


"Masa sih?"


Gue mengangguk dan mengiyakan, lalu mengajak perempuan itu menuju dapur, yang menyatu dengan meja makan untuk sarapan seadanya. Sisa bubur semalam.


"Bubur yang Ohim bikinin semalem masih, udah gue angetin. Lo sarapan itu, ya."

__ADS_1


Begitu tahu Mala demam gue langsung menelfon Ohim. Pria itu lumayan bisa diandalkan kalau urusan memasak, meski sebenarnya Abbas jauh lebih bisa diandalkan ketimbang pria itu. Tapi berhubung Abbas-nya nggak ada di Jakarta ya udah gue gangguin Ohim dan meminta pria itu datang ke apartemen Mala tengah malam. Tentu saja pria itu misuh-misuh. Namun, meski begitu Ohim tetap mau datang dan membawakan barang yang gue minta.


"Gue udah nggak demam, Gha, males makan bubur ah."


"Terus maunya apa?" tanya gue penuh perhatian, "mau sarapan di luar aja?"


Dengan bibir manyun, Mala menggeleng. "Enggak usah." Lalu dengan muka pasrahnya, ia mulai menyendok bubur dan melahapnya dengan ekspresi yang tidak bisa gue katakan ikhlas, "terus ini lo sarapan apa?"


"Gue udah sarapan roti."


"Roti apa?"


"Roti selai. Lo mau? Masih kok." Gue kemudian berdiri dan mengambil roti tawar beserta selainya, "makan ini aja kalau gitu," sambung gue tidak tega melihat Mala makan bubur dengan ekspresi tidak menikmatinya.


Kasian juga gue lihatnya.


"Gha," panggil Mala tiba-tiba.


Gue langsung menaruh perhatian lebih pada Mala. "Ya, kenapa, La?"


Tangan gue mulai sibuk membuka tutup selai.


"Gue baru nyadar deh tadi pas bangun nemu snelli lo di kamar. Terus pas gue inget-inget lagi, kayaknya lo sempet pakein itu ke gue, terus sebelum lo pakein ke gue, kayaknya kalau nggak salah inget masih lo pake nggak sih?"


"Oh, itu, gue kira apa. Iya, kemarin pas gue ke sini masih gue pake. Gue kepalang panik pas dapet telfon dari lo, jadi nggak sempet lepas snelli, langsung ke sini. Itu aja kemarin gue ke sininya naik taksi, karena pas lo telfon gue baru selesai makan jadi otomatis nggak bawa kunci mobil. Jadi terpaksa naik taksi," ucap gue menjelaskan.


"Anjir, serius demi apa lo? Lo kabur gitu aja sebelum jam praktek lo kelar?"


"Iya, mau gimana lagi gue panik, La."


"Terus gimana sama pasien sama jadwal operasi lo?"


"Tenang, gue minta tolong Erik buat ngegantiin gue."


Mala menyipitkan kedua matanya curiga. "Segampang itu?"


Gue tertawa kecil lalu menyerahkan roti tawar yang sudah gue kasih selai pada Mala. Perempuan itu menerima dengan senang hati seraya mengucapkan terima kasih.


"Lo tahu sendiri lah kayak apa si Erik. Itu orang kalau diajak tukeran shift aja susahnya minta ampun, apalagi dadakan begini. Udah pasti dia mencak-mencak sambil minta imbalan yang agak memberatkan." Gue meringis, "jadi untuk beberapa minggu depan jadwal operasi gue bakal penuh, La, dan kalau si curut itu minta gantiin operasi mendadak sekalipun, gue harus iyain. Jangan marah ya?"


Mala berdecak sambil mengigit rotinya kasar. "Pengen marah sih sebenernya gue, cuma gimana? Lo begini juga gegara gue kan? Bisa apa gue selain pasrah?"


"Good girl," puji gue sambil tersenyum puas, "abis ini gue anterin ke rumah Mama ya?"


"Enggak bisa, gue hari ini ada jadwal operasi sama Prof. Anwar."


Tanpa protes gue hanya mengangguk dan mengiyakan. "Kalau gitu kita ke rumah sakitnya bareng."


"Ya iya lah, lo kan nggak bawa mobil. Gimana nggak bareng coba?" ucap Mala sambil melirik gue sinis dan geleng-geleng kepala. Gue hanya terkekeh samar setelahnya.

__ADS_1


Melihat kondisinya pagi ini gue merasa kalau Mala sudah jauh lebih baik. Tidak seperti yang gue takutkan, Mala benar-benar sudah kembali seperti Mala yang biasanya. Entah ini hanya kamuflase-nya agar gue tidak khawatir padanya atau dia benar-benar sekuat ini. Gue berharap yang terjadi padanya adalah opsi keduanya.


Tbc,


__ADS_2