Married With My Besti

Married With My Besti
Gantian Ngidam


__ADS_3

*


*


*


Gue menopang dagu gue bosan, karena menunggu Mala selesai memoles diri. Padahal kita cuma mau pergi ke rumah Mama bukan mau kondangan. Minggu lalu kami sudah menginap di rumah Bunda, jadi minggu ini giliran kami menginap di rumah Mama.


Ngomong-ngomong soal kehamilan Mala, usianya kini sudah memasuki empat bulan, jalan lima. Tidak terasa waktu berjalan secepat ini. Kadang gue masih suka nggak nyangka kalau akan berakhir dengan Mala. Bahkan sampai bikin dia hamil anak gue dan kami bakal jadi orang tua bareng. Rasanya kadang masih kayak mimpi.


Soal morning sick, ternyata gue masih tetap mengalaminya setiap pagi, meski sudah berangsur membaik dan tidak separah awal-awal. Gue sudah bisa makan dengan sangat baik, meski terkadang harus berakhir terbuang kembali di closet keesokan harinya. Tapi setidaknya untuk urusan makan, gue udah nggak serewel awal-awal Mala hamil, gue udah bisa makan apa saja kecuali nasi putih hangat. Dan untuk panggilan, sebenarnya kami sudah sepakat untuk melatih diri, tapi ternyata tidak semudah itu. Baik gue sama Mala masih suka lupa dan lebih sering pake panggilan lo-gue.


"Ini gue harus nunggu berapa jam lagi sih, La? Biasanya juga make up di mobil, kenapa nggak kayak biasa aja sih?"


Akhirnya gue menyuarakan keluhan gue juga, karena gue sudah benar-benar bosan menunggunya.


"Sabar dong, Gha, lo cerewet banget sih cuma perkara disuruh nungguin istrinya dandan kok ngomel."


"Ya, lo kalau nggak lama nggak bakal aku ngomel ya."


"Kamu kalau nggak sabar, mending duluan deh, nanti biar gue nyusul sendiri."


Kalian lihat sendiri kan, saking usahanya kita mau ganti panggilan aku-kamu, ya begini nih endingnya. Campur-campur udah kayak blasteran aja.


"Nyusul pake apa?"


"Mobil lah."


"Lo mau nyetir sendiri dengan kondisi perut kayak balon gitu?"


Mala kemudian menoleh sambil menoleh ke arah gue dengan tatapan sinisnya. "Ya, abisnya lo kebanyakan protes. Diem makanya! Nggak usah banyak protes biar cepet kelar terus kita berangkat." Ia kemudian kembali melanjutkan acara merias dirinya.


Setelahnya, gue hanya mampu membungkam mulut rapat-rapat. Takut kena omel lebih lanjut, guys. Serem soalnya. Kan bahaya kalau enggak dapat jatah kelon.


"Tuh, udah selesai. Ayo, berangkat!" ajak Mala setelah selesai merias diri. Dia langsung berdiri sambil membawa ponselnya.


Akhirnya, setelah hampir bosan menunggu Mala selesai juga. Gue mencoba memaksakan senyum, meski sebenarnya gue sudah agak bad mood.


Kami kemudian berjalan beriringan keluar dari kamar, dengan posisi tangan gue memeluk pinggang Mala, lalu sesekali mengelus perut buncitnya. Hobi gue sekarang kalau deket-deket Mala itu harus banget ngelus perut buncitnya.


"Ntar lo mau ambil cuti hamil apa enggak kira-kira, La?"


"Kenapa?"


"Baru jalan 5 bulan aja perut kamu udah segini, apa kabar ntar? Kok gue jadi nggak tega ngebayangin, semisal kamu cuma ambil cuti melahirkan aja. Ambil cuti hamil juga ya?" bujuk gue.


Mala spontan tertawa. "Gue rasa nggak perlu deh, Gha, soalnya kan gue baik-baik aja. Enggak ada keluhan juga, jadi, ya nggak usah. Ntar aku ambil cuti melahirkan aja. Coba deh kamu pikir, kan enak tuh kalau anak kita lahirnya pas aku lagi dinas di RS. Enggak perlu repot-repot nyiapin mobil dan segala macemnya."


"Tapi aku suka nggak tega deh liat kamu kerja dengan perut gede gitu."


"Enggak papa, wajar kok. Enggak cuma aku doang yang begini."


Dengan bibir sedikit maju ke depan gue mengangguk dan mengiyakan. "Ya udah, terserah kamu. Baik-baik ya kalian berdua. Papa sayang sama kalian."


"Iya, kita juga sayang papa kok," balas Mala sambil tertawa. Namun, tak lama setelahnya ia memukul punggung tangan gue yang masih menempel pada perut buncitnya, "apaan sih? Alay bener," komentarnya tak lama kemudian.


*

__ADS_1


*


*


"Mau tidur sekarang?" tawar gue saat tanpa sengaja memergoki Mala menguap beberapa kali.


Semenjak hamil, Mala memang jadi gampang ngantuk. Bahkan tidak jarang saat dia minta ditemenin nonton yang ada dia malah ketiduran. Atau saat pulang dari rumah sakit, lebih seringnya dia tidur di sepanjang perjalanan. Sampai kadang gue nggak tega juga melihatnya. Kalau gue suruh resign rasanya nggak mungkin, gue suruh cuti ntar pasti Mala gabut juga mau ngapain. Yang ada malah tambah kasian juga.


"Gue ogah ya kalau disuruh gendong sampai lantai atas," sambung gue kemudian.


Mala menguap sekali lagi lalu mengangguk. "Ya udah, ayo, besok lo juga ada operasi pagi-pagi kan?"


Gue mengangguk dan membenarkan. Lalu membantu Mala berdiri. Ngomong-ngomong gue masih nginep di rumah Mama. Kedua mertua gue lagi pergi ke acara tujuh harian orang meninggal. Gue tadinya diajak Papa mertua gue, tapi berhubung gue nggak tega buat ninggalin Mala sendirian, ya gue tolak lah ajakan beliau. Soalnya Mama mertua gue juga ikut bantu-bantu nyiapin ini-itu sejak tadi sore. Maklum, mertua gue emang sangat aktif di kegiatan sosial. Apalagi ini tetangga komplek sendiri. Kebetulan beliau udah pensiun jadi dokter, jadi emang lebih memilih aktif di kegiatan sosial biar nggak gabut.


"Gha, kok gue tiba-tiba pengen cilok ya?"


Gue yang tadinya mau menutup pintu kamar Mala spontan berbalik. "Kamu ngidam?"


"Enggak tahu, tetiba pengen aja gitu."


Gue mengangguk paham. Gue ngerti banget perasaan Mala karena selama empat bulan lebih Mala mengandung, gue terus yang ngidam. Ini kejadian langka, gue harus turutin kemauannya, biar anak gue nggak ileran nantinya.


"Oke, gue cariin dulu."


"Sekarang?"


"Ya iya lah, kan lo ngidamnya sekarang. Masa iya gue nyarinya besok?"


"Aku ikut nggak?"


Gue kemudian langsung mencari jaket, kunci mobil dan dompet gue. Setelah mematikan lampu, gue langsung bergegas turun ke bawah.


Saat gue sampe di bawah, ternyata kedua mertua gue udah pulang dari acara pengajian tujuh harinya orang meninggal.


"Ke mana?"


Kalau pertanyaan singkat begini udah jelas kan siapa yang nanya? Iya, betul Papa. Kalau Mama udah pasti nanyanya panjang.


"Nyari cilok, Pa."


"Kamu ngidam, Gha? Apa biar Papa-mu aja yang nyariin. Kamu balik aja ke kamar, istirahat!" sahut Mama.


Papa yang mendengar itu langsung menatap Mama datar. Hal ini tentu saja membuat gue jadi tidak enak.


"Eh, enggak usah, Ma, biar Agha cari sendiri. Kebetulan yang pengen Mala sih bukan Agha."


Soalnya kalau gue yang ngidam, biasanya Mala harus nemenin gue. Meski perempuan itu akan tidur di sepanjang jalan. Agak egois emang tapi gue pernah coba beli makanan sendiri, demi menuruti ngidam gue, hasilnya gue nggak jadi makan makanan itu. Habis itu tiap gue ngidam malem-malem sekalipun, gue pasti bakal ngebangunin Mala. Serius. Gue bahkan pernah bangunin Mala jam setengah 12 malem demi nemenin gue nyari sate usus.


"Oh, yang ngidam Mala. Tumben? Ngerjain kamu ya dia?" tuduh Mama.


Gue spontan tertawa kecil. "Ya, enggak dong, Ma, kan Mala hamil beneran."


"Langsung berangkat," ucap Papa tiba-tiba.


Gue mengangguk cepat lalu buru-buru pamit pergi. Meski udah bertahun-tahun mengenal beliau, dan sekarang status kami sudah ganti jadi menantu dan mertua, rasanya gue tetap aja masih suka segan dengan beliau. Gimana ya, ngomongnya suka irit dan nggak dijelaskan secara mendetail tuh, kadang bikin gue suka overthinking. Jadi gimana gue nggak segan coba?


Sepertinya hari ini nasib gue nggak begitu bagus. Gue udah berkeliling mencari tukang jualan cilok tapi nggak ketemu-ketemu, udah coba nanya-nanya ke beberapa penjual nggak dapet juga. Kalau nggak penjualnya libur berjualan, ya udah pulang karena dagangannya abis.

__ADS_1


Tak mungkin pulang dengan tangan kosong, akhirnya gue memutuskan untuk beli apa aja yang terakhir gue temui lalu pulang dengan perasaan sedih. Mala sebelumnya nggak pernah ngidam, tapi sekalinya ngidam malah nggak bisa gue turuti.


"La, lo marah nggak karena gue nggak berhasil beliin cilok?" tanya gue begitu sampai rumah.


Mala terlihat santai dan tidak protes sama sekali. Wajahnya bahkan tidak terlihat kecewa sedikit pun, ia tetap menerima apa yang gue belikan sambil tersenyum dan melahapnya.


"Kenapa gue harus?"


"Ya kan ini ngidam pertama lo." Gue merengut sedih sambil mengelus perut buncitnya, "sayang, maafin Papa ya, karena nggak bisa nurutin maunya kamu." Gue kemudian menundukkan kepala hingga sejajar dengan perut Mala. Kedua tangan gue melingkar pada pinggang Mala dan sesekali kecupan ringan gue daratkan pada perut buncitnya.


Dapat gue dengar kekehan dari Mala, sampai akhirnya sebelah tangannya mengelus rambut gue.


"Gue nggak tanggung jawab ya kalau semisal rambut kamu kejatohan soas kacang."


Gue tidak peduli dan mala semakin mengeratkan pelukan.


"Gha, jangan kenceng-kenceng, ntar anak kamu kegencet."


"Hehe, maafin Ayah ya, sayang."


"Labil banget sih lo jadi Bapak."


Akhirnya gue melepas pelukan, lalu memilih untuk berbaring dan menjadikan paha Mala sebagai bantal. Namun wajah gue tetap menghadap perut Mala dan sesekali mengelus perutnya.


"Abis gue masih bingung mau dipanggil apaan ya ntar? Enaknya apa?"


"Bro?"


Gue langsung melotot kesal. "Sembarangan!"


Mala terkekeh. "Ya abis perkara panggilan doang ribet banget."


"Emang kamu nggak bingung?"


"Ya ngapain musti bingung?"


"Emang lo mau dipanggil apa?"


"Ya, suka-suka anaknya ntar mau manggil apa."


"Tapi kan ntar kita perlu ngajarin dia, La, harus manggil kita apa."


"Iya, tahu, cuma meski ntar kita ajarin dia buat manggil kita apa, ntar gedenya juga terserah dia mau manggil apa. Biasanya anak tuh ngikut temen-temennya, aku sih terserah mau dipanggil apa. Yang penting dia tahu cara menyayangi dan menghormati kita sebagai orangtuanya."


Seketika gue langsung mencibir. "Itu bukan jawaban yang pengen aku dengar, La."


"Ya itu urusan kamu."


"Lo belum ngantuk?"


Mala tiba-tiba menghentikan kunyahannya dan menatap gue horor. "Kenapa?"


Gue menggeleng sambil memeluk pinggang Mala. "Enggak papa, tetiba pengen es krim gulung."


"Astaga, Agha!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2