
*
*
*
"Berhubung suami kamu udah pulang, Mama pulang sekarang, ya?"
Mendengar kalimat Mama, Mala langsung cemberut. "Kenapa nggak nginep di sini aja sih, Ma?" rajuknya kemudian.
Padahal gue juga baru masuk rumah banget. Baru juga selesai cium tangan beliau terus baru mau duduk di sofa. Bokong gue bahkan belum benar-benar menyentuh sofa. Tapi mertua gue udah main pamit pulang aja. Wajar kalau Mala langsung protes.
"Nginep di sini kek, Ma, sesekali. Papa juga sekalian di suruh nginep sini aja kalau gitu."
"Lah, buat apa? Kamu kan juga udah sehat begini, ada suami kamu juga. Udah nggak usah aneh-aneh, Mama mau pulang."
Mama kemudian berdiri. Gue ikutan berdiri tak lama setelahnya.
"Agha anterin ya, Ma?" tawar gue kemudian.
Mama mertua gue balik bertanya. "Terus istri kamu gimana?"
Gue langsung menoleh ke arah Mala. Iya, juga, ya. Meski Mala udah keliatan sehat dan udah bisa apa-apa sendiri, tapi rasanya gue masih nggak tega kalau harus ninggalin dia sendiri. Kayak masih belum tenang aja gitu loh. Makanya tiap gue pergi kerja gue minta tolong Mama atau Bunda buat nemenin Mala. Rasanya lebih tenang aja kalau Mala ada yang nemenin.
"Udah, nggak papa. Gampang. Taksi online ojek online banyak, tinggal klik-klik beres. Kamu yang penting urusin istri kamu, tadi dia belum makan, Mama udah masakin, udah tawarin juga tapi katanya nunggu kamu."
"La?"
Gue menatap Mala sambil menghela napas pendek. Masalahnya gue udah makan sebelum balik, soalnya tadi siang gue skip makan siang, alhasil gue kelaperan sorenya. Makanya sebelum balik gue memutuskan buat nyari makan dulu.
"Kenapa, lo udah makan?"
__ADS_1
Mama langsung memukul lengan Mala. "Kamu, La," koreksi beliau.
Gue dan Mala langsung meringis kompak. Baik gue sama Mala emang masih suka keliru pake lo-gue sih. Mana masing-masing dari kami suka nggak nyadar lagi kalau balik ke lo-gue.
"Iya, itu maksudnya, Ma. Kamu."
Mama langsung berdecak sambil berkacak pinggang. "Kalian ini emang masih belum ganti panggilan aku-kamu ya? Padahal anaknya bentar lagi lahir loh, tapi kok bisa-bisanya masih lo-gue lo-gue kayak gitu. Udah Mama bilang berapa kali sih pake aku-kamu, kalian nggak serem apa ntar kalau anak kalian panggilnya ikut-ikutan lo-gue juga?"
Gue masih meringis malu.
"Lagi diusahain, Ma," elak gue, "cuma emang kadang suka lupa kalau balik ke lo-gue," ucap gue menjelaskan.
"Makanya dibiasain," omelnya sekali lagi.
Baik gue dan Mala hanya mampu mengangguk paham.
"Ya udah, Mama pamit dulu. Ini taksi Mama udah nyampe ternyata," ucap Mama setelah mengecek ponselnya.
Gue sedikit bernapas lega karena ternyata beliau sudah memesan taksi.
Mala sebenernya pengen ikutan nganter sampe depan, namun, gue sama Mama melarangnya. Meski Mala udah jauh lebih sehat tetep aja gue pengen Mala nggak terlalu banyak gerak dulu.
Gue sedikit berlari mendahului Mama untuk membukakan pintu mobil. "Silahkan, Ma!" ucap gue sopan.
Mama tersenyum senang sambil mengucapkan terima kasih. "Udah, sana, langsung masuk ke dalam! Kasian istri kamu ditinggal kelamaan, dia pasti bosen sendirian."
Gue mengangguk patuh. "Iya, Ma." Gue langsung menutup pintu mobil, "tolong hati-hati, ya, Pak, bawa mobilnya!" pesan gue kepada sang driver.
"Siap, Mas."
Gue berniat kembali masuk rumah setelah taksi melaju. Namun, terpaksa urung karena nama gue tiba-tiba dipanggil.
__ADS_1
"Kak Agha!"
Gue spontan menoleh ke asal suara. Sambil meringis canggung gue balas menyapanya.
"Oh, hai, Rin," sapa gue, "sendirian aja? Suami kamu mana?" tanya gue kemudian.
Namanya Ririn. Tetangga baru gue yang rumahnya tepat di sebelah gue. Pasangan pengantin baru yang diceritain Pak RT waktu itu.
"Hehe, belum pulang, Kak. Dia kalau pulang emang malem."
Gue mengangguk paham. Sebenernya bukan cuma suaminya sih yang pulang malem, tapi seinget gue Ririn sendiri juga suka pulang malem. Bahkan kadang duluan suaminya ketimbang Ririn.
"Oh ya, Kak, katanya Kak Mala sakit ya?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. "Oh, iya, lagi kurang sehat emang. Agak kecapekan, cuma sekarang kondisinya udah bagus kok. Udah lebih sehat. Kamu mau jenguk?" tawar gue kemudian.
"Boleh, Kak?" tanya Ririn ragu-ragu.
Gue tertawa sumbang. "Ya boleh dong, Rin, masa orang mau jenguk nggak boleh. Ada-ada aja kamu. Yuk, masuk, masuk!" ajak gue kemudian.
"Makasih, Kak." Kami kemudian jalan beriringan masuk ke dalam rumah, "oh ya, ngomong-ngomong yang barusan pergi siapa, Kak? Mama Kak Agha kah?"
Gue menggeleng sambil mengibaskan telapak tangan. "Oh bukan, itu mertua aku. Mama-nya Mala."
Secara tiba-tiba Ririn menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah gue. "Oh. Kalau boleh tahu Kak Agha sama Kak Mala itu nikahnya udah lama?"
Gue ikut menghentikan langkah kaki gue. "Belum ada setahun sih. Kenapa emang?" tanya gue heran.
Kenapa Ririn tiba-tiba nanyain usia pernikahan gue sama Mala?
Ririn menggeleng. "Enggak papa, pengen tahu aja. Soalnya dulu sebelum aku dinikahi suami aku yang sekarang, aku pikir kita bisa ketemu lagi, Kak. Tapi ternyata jodoh kita masing-masing."
__ADS_1
Gue sedikit mengerutkan dahi gue heran. Itu barusan maksudnya apa ya?
Tbc,