
*
*
*
Dunia Agha rasanya seperti nyaris runtuh saat mendengar penjelasan sang Ayah.
Kepalanya mendadak seperti berputar. Otaknya susah payah mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut sang Ayah.
"Yah, apa nggak ada solusi lain?"
Suara Agha akhirnya terdengar meski dengan bergetar. Kedua mata pria itu memerah. Terlihat sangat jelas kalau pria itu sedang mencoba untuk tetap tegar meski sebenarnya nyaris hancur.
Dengan wajah penuh penyesalan, Randu menggeleng. "Terlalu beresiko, Gha, kalau tetap dipertahanin takutnya nanti kita bisa kehilangan salah satunya, atau bahkan kemungkinan buruk lainnya kita bisa kehilangan dua-duanya."
Pandangan mata Agha kosong. "Tapi kehamilan Mala belum cukup usia, Yah, buat melahirkan."
Frustasi jelas sedang dirasakan pria itu.
"Ayah tahu. Ini bukan keputusan mudah buat kamu, buat Ayah ini juga nggak mudah, Gha. Mala itu menantu Ayah dan janin yang dia kandung cucu Ayah. Tapi kita nggak punya pilihan lain, Gha."
Kedua mata Agha terlihat semakin memerah. "Lakukan apapun yang bisa Ayah lakukan, asal selamatkan keduanya, Yah," ucapnya kemudian.
Randu mengangguk kecil sambil menepuk putra bungsunya dengan bangga. "Sekarang kamu temui istrimu, biar Ayah yang hubungi Bunda sama mertuamu selagi nunggu ruang operasinya siap."
Agha mengangguk paham. Ia langsung bergegas menghampiri brankar di mana sang istri berada.
"La," panggil Agha sambil menangis. Padahal sejak tadi pria itu menahan tangisnya agar bisa menguatkan sang istri. Namun, justru saat ia melihat wajah sang istri yang terlihat lemah dan hampir tidak berdaya itu, membuat tangis Agha seketika langsung pecah.
"Hei, it's okay, Gha, dia pasti baik-baik saja. Aku juga," ucap Mala mencoba menenangkan, "nggak papa, ya?"
Suaranya terdengar lemah dan lirih. Namun, ujung bibinya tetap membentuk senyuman. Hal ini justru membuat Agha menjadi semakin terpukul. Air matanya kembali jatuh. Hatinya benar-benar hancur saat ini.
"La, maafin aku! Aku nggak bisa jaga kalian dengan baik. Maafin aku!" sesal Agha sambil menangis.
"Gha, nggak boleh ngomong gitu!"
Sejujurnya, Mala ingin sekali memarahi suaminya ini. Tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan, jadi ia memilih diam saja setelahnya.
"Jangan tinggalin aku ya, La! Kita harus berjuang sama-sama?"
Terlalu lemah, Mala hanya mengedipkan kedua matanya untuk mengiyakan. Anggukan kepala lemah terlihat samar-samar.
Sementara di tempat lain
"Ikut aku!" bisik Aldi tepat di telinga Ririn, sebelum akhirnya pria itu berjalan mendahului sang istri.
Ekspresi Ririn awalnya terlihat seperti sedang kebingungan. Namun, karena merasa tidak punya pilihan lain, ia langsung mengekor di belakang sang suami.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ririn begitu keduanya sampai di luar IGD.
Berbeda dengan Ririn yang masih terlihat seperti orang kebingungan, Aldi justru terlihat seperti sedang menahan emosinya mati-matian.
"Harusnya aku yang nanya begitu ke kamu. Sebenernya ada apa? Kenapa istri Bang Agha sampe pendarahan begini, kamu apain Kak Mala?"
Hati Ririn rasanya begitu hancur mendengar tuduhan Aldi. Tangannya terkepal kuat karena sedang menahan marah. Kedua matanya mulai memerah.
"Kamu nuduh aku?" tanya Ririn dengan nada suara yang terdengar bergetar.
"Aku nanya."
"Terserah kamu mau mikir apa, aku juga nggak bakal jelasin apapun ke kamu. Karena aku tahu kamu nggak akan percaya sama apa yang aku bilang kan?"
Ririn kemudian memilih untuk beranjak pergi, namun, dengan cepat Aldi mencekal pergelangan tangan sang istri.
"Mau ke mana?" tanya Aldi dengan nada suara datar.
"Pulang."
"Aku antar."
"Enggak usah," tolak Ririn ketus.
"Oke." Aldi mengangguk tidak masalah, ia bahkan langsung melepas cengkraman tangannya, "kamu bisa pulang sendiri. Tapi jawab satu pertanyaan dari aku! Siapa yang numpahin minyak gorengnya?"
Ririn melotot tajam ke arah Aldi. Ia mendengus tidak percaya setelahnya. Emosi sepertinya tengah menguasai perempuan itu. "Sekalipun aku yang numpahin, bukan berarti aku sengaja ngelakuin itu, Al!"
"Tapi aku nggak sengaja!" ucap Ririn ngotot. Detik berikutnya, tangisnya pecah, "demi Tuhan, aku nggak sengaja, Al."
Aldi meremas rambutnya frustasi. "Mau kamu sengaja atau enggak, tapi kenyataannya istri Bang Agha begini karena kamu. Dan kamu mau pulang gitu aja? Di mana rasa simpati dan juga empati kamu sebagai sesama perempuan? Kak Mala harus berjuang antara hidup dan matinya demi menyelamatkan bayinya, enggak bisa ya, minimal kamu tetep di sini?"
Ririn memalingkan wajahnya. "Aku di sini atau enggak, enggak akan merubah takdir kan?" gumamnya kemudian, namun, masih terdengar cukup jelas pada indera pendengaran sang suami.
Aldi terlihat kehilangan kata-kata. Pria itu hendak membalas, tapi di satu sisi ia sudah malas berdebat dengan sang istri. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk dan mempersilahkan Ririn pulang.
"Ya udah, terserah kamu," ucapnya pasrah, "hati-hati. Ada uang buat ongkosnya kan?"
Tak mendapat jawaban sang istri. Aldi kemudian langsung mengeluarkan dompet dari dalam sana dan memberi beberapa lembar uang.
"Pake ini."
Ririn tidak menolak. Setelah menerima uang itu, ia langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan kepadanya. Aldi hanya mampu menghela napas sambil menatap punggung sang istri yang kian menjauh.
Setelah memastikan Ririn benar-benar hilang dari pandangannya, Aldi kemudian kembali masuk ke dalam IGD. Ia langsung mencari keberadaan Agha. Niatnya, ia ingin langsung meminta maaf atas kelalaian sang istri.
Namun, melihat Agha yang benar-benar stand by di samping Mala, membuat Aldi mengurungkan niatnya. Sejak ia keluar dari ruangan hingga kini masuk kembali, Agha masih setia menggenggam tangan sang istri. Bahkan sesekali usapan lembut atau kecupan ringan ia daratkan pada dahi dan pucuk rambut Mala. Terlihat sekali kalau keduanya benar-benar sedang mencoba saling menguatkan.
Ada perasaan iri yang mendadak ia rasakan. Bisakah suatu saat nanti dirinya dan Ririn berada di fase ini? Tanpa sadar Aldi tersenyum miris. Apa yang sedang ia coba pikirkan? Mengharapkan sesuatu yang mustahil. Setidaknya ia belum digugat cerai sang istri saja, ia sudah harus banyak-banyak bersyukur. Kenapa berani sekali ia berharap lebih?
__ADS_1
*
*
*
Akhirnya, setelah Mala masuk ke dalam ruang operasi. Aldi mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengan Agha. Sejujurnya ada perasaan sungkan dan takut, tapi ia merasa semakin tidak enak kalau tidak segera meminta maaf secara langsung.
"Bang," panggil Aldi takut-takut.
Agha mencoba tetap tersenyum tipis saat membalas sapaan pria itu. "Lo kenapa nggak langsung pulang?" tanyanya basa-basi, "sorry, ya, gue tadi sampe lupa nggak bilang makasih. Thanks banget udah bawa istri gue cepat ke RS, gue nggak tahu deh kalau semisal telat dikit. Thanks banget loh, Di, sorry, ya, gue banyak ngerepotin."
"Enggak, Bang, lo nggak ngerepotin sama sekali. Justru--"
"Istri lo mana? Udah pulang? Kenapa nggak lo anter?" potong Agha terkesan seperti sedang mengalihkan pembicaraan.
"Bang, gue mau min--"
Agha langsung menepuk pundak Aldi, otomatis kalimat pria itu terpotong. "Enggak ada yang salah, Di, ini bukan salah siapapun. Namanya juga kecelakaan, kita nggak bisa menghindari kan? Jadi, lo jangan salahin istri lo, ya? Bantu doa aja semoga anak sama istri gue baik-baik aja."
"Tapi, Bang, kalau aja istri gue nggak--"
"Anak sama istri gue lagi berjuang di dalem, Di, nggak bisa ya kita doain aja ketimbang ngungkit-ngungkit apa yang udah lewat? Siapapun pasti nggak mau kena musibah, tapi kalau emang udah garisnya kan nggak bisa kita ubah juga kan?"
Aldi menunduk dengan ekspresi bersalahnya. "Maafin gue, Bang, gue malu banget sumpah aslinya. Tapi lo jangan khawatir, tanpa lo minta pun, gue pasti doain mereka."
Agha mengangguk lalu menepuk pundak Aldi sekali lagi. "Iya, nggak papa. Oke, gue maafin kalau gitu. Thanks juga ya, udah bantu doa."
Aldi mengangguk tidak masalah.
"Gue tinggal bentar, ya. Lo kalau mau pulang nggak papa kok, nanti gue kabarin. Kasian juga istri lo pasti shock juga tadi."
Aldi menggeleng. "Enggak, Bang, gue di sini dulu. Nanti pulangnya kalau operasinya udah kelar aja."
Agha tidak berkomentar lebih lanjut. Pria itu mengangguk paham dan mencoba untuk tidak memaksa sang tetangga. Kakinya kemudian melangkah mendekat ke arah pintu ruang operasi, mengintip keadaan di dalam melalui celah kaca kecil yang terdapat pada pintu. Perasaannya gelisah tidak menentu. Ia kemudian memilih berjalan mondar-mandir, berharap perasaan gelisah itu sedikit menyingkir.
"Gha, duduk deh sini. Mama pusing liatin kamu mondar-mandir dari tadi," keluh Yana.
Mama mertua Agha akhirnya protes diiringi decakan kesal. Bahkan secara tidak sabar ia menarik tangan sang menantu lalu menyuruhnya duduk.
"Udah, kamu duduk anteng. Mama tahu kamu khawatir, kita semua juga khawatir. Tapi, ya, nggak usah mondar-mandir kayak gitu juga, kasian yang lain pusing liatin kamu muter-muter kayak gasingan begini," gerutu Yana mulai kehilangan kesabarannya.
"Iya, Ma, maafin Agha."
"Yang kuat," ucap Saga. Papa mertuanya.
Mendengar dua kosa kata yang diucapkan sang Papa mertua, hati Agha mendadak emosional kembali. Namun, meski begitu pada akhirnya ia tetap mengangguk.
Lama menunggu, akhirnya pintu ruangan operasi terbuka. Semua mata langsung tertuju pada arah pintu, mereka langsung berdiri saat akhirnya Randu keluar dari dalam sana sambil melepas maskernya.
__ADS_1
Dengan langkah tergesa-gesa Agha menghampiri sang Ayah. "Gimana, kondisi mereka, Yah?"
Tbc,