
*
*
*
Alisa langsung meletakkan nampan berisi secangkir kopi pesanan Abbas, baru setelahnya ia duduk sebelah sang suami. Helaan napas terdengar samar-samar pada telinga Abbas, hal itu tentu saja langsung menarik perhatian.
Alis Abbas terangkat tinggi saat menoleh ke arah sang istri, ia kemudian terkekeh tak lama setelahnya lalu kembali fokus pada layar laptopnya.
"Kenapa? Kamu lagi cemburu sama laptop aku, Sa? Padahal biasanya tiap malam kamu yang bikin aku cemburu, masa sekali kita gantian kamu udah langsung menghela napas panjang begitu," ledeknya kemudian.
"Bukan itu," elak Alisa tidak terima.
Karena untuk saat ini memang bukan itu yang sedang ia pikirkan, melainkan perkataan sang ibu mertua. Tentang mobil yang ia punya sekaligus tentang program hamil.
"Gengsi ya?"
"Serius bukan, Bas, soalnya kamu jarang banget bawa kerjaan ke rumah, tapi kalau sampai kamu bawa kan emang artinya udah urgent, jadi aku sama sekali nggak merasa iri atau cemburu sama laptop kamu."
"Terus kenapa?"
Merasa tidak ada jawaban, Abbas langsung menoleh ke arah Alisa. Sang istri terlihat sedang mengigit bibirnya ragu. Abbas yang melihat ekspresi ragu-ragu sang istri tentu saja merasa khawatir.
"Kenapa sih? Ada yang ganggu pikiran kamu?"
Tanpa keraguan Alisa langsung mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
"Apa?"
Bukannya langsung menjawab, Alisa justru kembali menghela napas. "Apa aku jual mobil kita aja ya, Bas?"
Kening Abbas seketika langsung mengkerut heran. "Kenapa?" pria itu menggeleng cepat lalu menaruh perhatian sepenuhnya terhadap sang istri, "enggak, maksud aku kenapa kamu sampai kepikiran buat jual mobil? Kamu kemarin abis jual rumah loh, otomatis uang kamu banyak. Ya, emang kita lagi bangun rumah yang butuh banyak dana, tapi emang masih kurang kalau ditambah sama tabungan aku?"
__ADS_1
Abbas kembali berpikir sebentar. Seingatnya jenis bangunan rumah yang mereka pilih termasuk jenis yang tidak terlalu megah. Luas tanahnya memang cukup besar tapi kan bangunan rumahnya termasuk ukuran minimalis. Soalnya katanya Alisa nggak pengen rumah besar-besar karena pasti capek nanti ngebersihinnya, yang penting baginya halaman luas. Lalu kenapa sang istri mendadak ingin menjual mobil segala?
"Enggak, bukan itu, cukup kok, sebenernya kalau nggak ditambah pake tabungan kamu pun cukup."
"Terus?"
"Ibu," cicit Alisa ragu-ragu.
"Ibu?" beo Abbas dengan ekspresi curiga, "maksudnya ibu yang suruh jual mobil kamu?"
"Sebenernya nggak nyuruh jual sih, cuma ibu kayak nggak suka deh aku punya mobil sendiri. Katanya kan kita baru tinggal berdua doang, harusnya satu mobil aja cukup, biar kamu antar-jemput aku, kata beliau biar kita lebih bisa menghabiskan banyak waktu bareng."
Abbas menghela napas. "Oke, pertama aku mau minta maaf karena sikap ibu. Maaf karena udah bikin kamu nggak nyaman. Kedua, kamu nggak usah terlalu mikirin kalimat ibu, ya? Kita lebih tahu apa yang kita butuhin dibandingkan ibu yang cuma ngeliat, Sa. Aku bukan nggak mau anter-jemput kamu, tapi menurut aku kalau kita nggak punya mobil sendiri-sendiri kurang efisien. Nanti semisal pas aku nggak bisa anter atau jemput kamu, kamu kebingungan harus nyari transportasinya. Jadi kamu nggak usah terlalu mikirin itu ya?"
"Jadi aku nggak perlu jual mobil?"
"Ya, enggak lah, itu kan mobil kamu, masa iya kamu harus jual mobil kamu cuma karena kalimat ibu? Enggak perlu lah, Sa. Udah lah, nggak usah terlalu dipikirin yang begituan tuh, sana kamu mending tidur duluan deh biar nggak overthinking."
Alisa menggeleng. "Masih ada yang mengganggu pikiran aku."
"Bukan cuma ibu sih, tapi ya kepikiran aja lagi."
Bukan cuma ibu?
Abbas menghela napas berat. Sepertinya ia mengerti arah pembicaraan Alisa kali ini. Ia lebih mendekatkan tubuhnya ke arah sang istri. Sebelah tangannya kemudian meraih telapak tangan perempuan itu.
"Sa, bukannya kita udah bahas ini sebelumnya?"
"Aku tahu, Bas, tapi menurut aku omongan ibu ada benernya juga. Kita nggak bisa terus-terusan cuma nunggu, kita harus usaha juga kan?"
"Sa, kita juga udah usaha, kalau nggak usaha ya kamu nggak akan bisa hamil. Maksud aku begini, aku nggak mau kamu terlalu merasa terbebani. Yang jalani kita loh."
"Tapi aku juga mau cepet hamil kayak yang lain, Bas. Mala aja bahkan udah hamil lagi, dan sekarang janin yang sedang dikandung kembar. Aku iri, Bas, aku juga mau kayak yang lain bisa cepet hamil. Apalagi posisinya aku udah nggak muda lagi loh, Bas. Gimana kalau kita coba suntik hormon? Katanya dulu Mamanya Mala juga sebelum hamil suntik itu dulu. Gimana kalau kita coba juga?"
__ADS_1
"Sa, apa harus sampai begini?"
"Ya apa salahnya sih nyoba, Bas?"
"Itu ada resiko atau efek samping yang bakalan ditimbulkan nggak?"
Alisa yang tadi sempat mencari informasi di google seketika langsung garuk-garuk kepala bingung. Bukan masalahnya dia lupa atau tidak tahu cara menjelaskan informasi yang ia dapat, melainkan karena dia yang sudah bisa menebak reaksi apa yang akan diberikan sang suami saat mendengar penjelasannya.
"Kenapa diem aja?" decak Abbas karena Alisa justru diam saja dan bukannya langsung menjawab pertanyaannya.
"Ya, segala sesuatu kan pasti ada perjuangannya, Bas--"
"Apa? Efek samping yang ditimbulkan apa?"
"Bukan perkara serius kok, ya cuma kayak orang morning sick pada umumnya."
"Terus nanti kalau kamu hamil harus morning sick lagi?" Abbas menggeleng cepat, "enggak. Kita coba cara lain. Aku nggak setuju kalau kamu suntik hormon."
Kini giliran Alisa yang berdecak kesal. "Ya, jangan langsung bilang nggak setuju dong, Bas, kan kita bisa konsultasi dulu ke dokter. Ntar gimana baiknya atau yang lain, yang penting kita ke rumah sakit dulu buat program deh. Ya, ya, ya? Aku pengen cepet hamil, Bas."
Abbas menghela napas panjang. "Berdua aja dulu emang masalah ya buat kamu, Sa?"
"Bukan masalah atau nggak masalah, Bas, tapi kalau bertiga bukannya lebih bagus. Nanti rumah jadi lebih rame loh."
Abbas mendengus dengan ekspresi menahan sedikit kesal. "Rumah kita bahkan belum jadi, Sa, kalau kamu lupa. Kamu mau nanti anak kita tinggal di apartemen sempit begini? Kenapa nggak nunggu rumahnya jadi dulu aja sih baru kita program?"
Alisa menggeleng tidak setuju. "Enggak mau, Bas, kelamaan kalau harus nunggu jadi dulu."
"Kita bahas ini lagi besok, kamu sekarang tidur duluan aja, nanti aku nyusul bentar lagi."
Ekspresi Alisa langsung kecewa. "Kamu nggak setuju sama usul aku?"
"Bukan nggak setuju, Sa, tapi aku bilang nanti kita bahas lagi. Oke?"
__ADS_1
Alisa tidak mampu menjawab, yang dapat ia lakukan hanya mengangguk dengan anggukan kepala pelan. Baru kemudian ia langsung pergi menuju kamar. Abbas saat melihat punggung kecewa itu jelas saja sedih. Tapi di sisi lain ia tidak tega juga.
Tbc,