Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
102


__ADS_3

Hai semua kita update lagi,


maaf ya kalau ada beberapa kata yang typo pada penulisannya itu gak disengaja kok 🤭 ..


Dan semoga kalian menikmati ceritanya dan jangan lupa kalo ada apa-apa isi di kolom komentarnya šŸ˜„šŸ˜„


kalau mau kirim kado sama vote juga bisa banget..🤣


[ JANGAN LUPA MASUKAN CERITA LETTA KEDALAM FAVORIT KALIAN, AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATENYA ] šŸ˜‡


_______________________________________🌾


...āœ...


Esok hari yang begitu cerah, namun tak secerah raut wajah Cally yang nampak murung diatas ranjangnya.


"Apa yang harus gue lakuin sekarang??" Bingungnya.


Lalu tak lama ia pun bangkit dan membersihkan dirinya. Menggunakan dress berwana nude dengan rambut diikat kuda, Cally berjalan keluar rumah tanpa memperdulian panggilan pelayannya.


"Berisik sekali.." gerutunya saat memasuki mobil.


Perlahan mobil melaju menuju rumah sakit Harapan Bunda, dalam perjalanannya Cally kembali teringat dengan seseorang yang semalam menelponnya yang ternyata adalah polisi.


"Gue harus lihat apa benar yang dikatakan polisi semalam .." gumamnya.


Sesampainya dilahan rumah sakit dan memarkirkan mobilnya, Cally berjalan cepat menuju ruang informasi.


"Permisi mbak, ruang mayat dimana ya ??" Tanyanya.


"Kalau boleh tau ada perlu apa ya buk ??" Tanya balik petugas resepsionis.


"Oh semalam polisi menghubungi saya dan meminta saya menemuinya diruang mayat," jelas Cally.


"Oh ibu keluarga korban kecelakaan ya?? Ibu lurus aja nanti belok kiri. Diujung nanti itu ruang mayat, semua polisi juga disana.." petugas itu menjelaskan pada Cally.


Lalu setelah berterima kasih Cally mulai melangkahkan kakinya menuju ruang mayat, namun tiba-tiba saja ia bertemu suster yang kemarin menemaninya tes urine.


"Ibu Cally ??" Panggil suster.


"Oh suster, ada apa ??" Tanya jutek Cally.


"Untuk hasil lab ibu sudah keluar, bisa ikut saya sebentar ke lab bu ??" Ajak suster.


Cally bimbang, ia ingin sekali segera keruang mayat, namun ia juga penasaran dengan hasil lab nya.


"Baiklah sus.." lalu Cally berjalan mengikuti suster didepannya.


Berdiri didepan ruang lab, suster menyerahkan hasil lab yang masih tersegel kepada Cally. Gugup, tangan Cally bergetar saat ingin membukanya.


Matanya membulat, air matanya tiba-tiba saja mengalir membasahi pipinya.


"Gak mungkin ini, gak mungkin gue bisa hamil.." gumamnya menolah tes yang menyatakan jika ia positif mengandung.


"Selamat ya bu Cally, ibu bisa menemui dokter untuk penjelasan yang lebih rinci.." ucap suster.


Cally hanya diam, ia memundurkan beberapa langkah kakinya lalu berlari meninggalkan suster dengan raut bingungnya.


"Itu bukan Carlos!! Bukan!!" Gumamnya disepanjang jalan menuju kamar mayat.


Cally sampai, ia sudah melihat ada beberapa petugas polisi yang berjaga didepan kamar mayat.


"Permisi.." sapa Cally ragu.

__ADS_1


"Bisa kami bantu ??" Tanya salah seorang polisi.


"Saya Cally, semalam salah satu polisi menghubungi saya.."


"Oh ibu Cally, silahkan masuk saya antar.."


Berjalan mengikuti polisi didepannya, Cally begitu ketakutan saat ada beberapa mayat terbaring didalam ruangan itu.


"Saya permisi dulu bu, " serunya setelah mengantarkan Cally didepan jenazah Carlos.


Cally diam, ia masih mematung menatap tubuh yang tertutup kain putih. Ragu,Cally ragu saat ingin membuka kain yang menutupi jenazah.


"Hahhh .. !!!" Seru Cally terjekut dengan reflek membekap mulutnya.


Jenazah itu memang benar Carlos, laki-laki yang harusnya bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Menangis histeris Cally memukul-mukul dada Carlos dan memintanya untuk bangun.


"Bangun Carlos !! Brengsek loe, dasar brengsek !!" Amuknya sambil memukul-mukul dada Carlos yamg sudah sangat dingin.


"Loe gila apa pergi gitu aja saat gue lagi hamil anak loe !! Bangun Carlos, bajingan loe !!" Umpatnya mengelurkan emosinya.


Suara tangis Cally terdengar dari luar yang menimbulkan iba pada siapapun yang mendengarnya.


Satu polisi wanita masuk, didekatinya Cally yang tengah menangis meraung-raung memukuli jenazah Carlos.


"Tenanglah buk, ikhlaskan.." seru polisi itu memeluk tubuh Cally dari belakang.


Namun tubuh Cally tiba-tiba lemas dan pingsan tak sadarkan diri. Polisi segera berteriak meminta bantuan untuk membawa tubuh Cally keluar.


______________________________________________


Arga terbangun, dilihatnya Letta yang masih tertidur pulas disampingnya walaupun jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Sakit sekali semua badan.. " gerutu Arga merenggangkan tubuhnya.


Semalaman ia juga Daniel dan Ali berjaga lantaran Arum histeris menangis memanggil Alfon. Seperti dugaan awal Daniel, Arum mengalami depresi berat atas meninggalnya Alfon suaminya.


"Sayang, sudah bangun ??" sapa Arga mendekati Letta.


Letta hanya diam menatap Arga, dipeluknya tubuh Arga yang hanya mengenakan handuk dipinggangnya.


"Enak.. " ucap Letta sambil memeluk erat binggang suaminya.


"Apanya yang enak yank ??" Bingung Arga, namun tangannya dengan sayang membelai puncak kepala istrinya.


"Suamiku habis mandi, enak dingin-dingin gimana gitu.." komentarnya lagi.


Arga hanya tersenyum mendengar ucapan aneh dari istrinya. Namun tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Siapa ya yank??" Tanya Letta namun masih memeluk pinggang Arga.


"Lepas dulu ya, kamu buka pintu aku pakai baju dulu.. " pinta Arga lembut.


Letta turun dari ranjang dan melangkah membuka pintu kamarnya. Namun ia terkejut saat ditatapnya siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Papa.. " seru Letta.


"Dimana suamimu nak ??" Tanya Reno.


"Ada pah, mas Arga lagi pakai baju.."


"Yasudah, papa tunggu kalian dibawah ya. Ada yang ingin papa sampaikan.."


"Baik pah, Letta bersih-bersih dulu kalu gitu.."

__ADS_1


Letta menutup pintu dan menuju kamar mandi, mengabaikan Arga yang memanggilnya.


"Kenapa lagi tuh anak ya ??" Herannya.


Lama Arga menunggu, akhirnya Letta keluar dengan jubah mandinya berjalan menuju almari pakaian.


"Sayang tadi siapa ??" Tanya Arga berdiri disamping Letta.


"Papa yank, katanya mau ngomong sesuatu sama kita.. " ucap Letta sambil memakai baju didepan suaminya.


*


Sedang dilantai bawah, Reno juga Elena sedang melihat kondisi Arum ditemani Daniel. Daniel dengan rinci menjelaskan kondisi saat ini yang diderita Arum.


"Apa ini akan aman untuk keadaan Letta ??" Tanya Reno.


"Saran saya kita menjauhkan mereka. Pasien dengan tingkat depresi seperti Arum bisa saja melakukan penyerangan tanpa ia sadari.." jelas Daniel.


Elena menggenggam erat lengan Reno menyatakan kekhawatirannya, dan dengan santainya Reno hanya menatap sekilas istrinya itu.


"Segera atur semuanya, bawa Arum ketempatmu dan rawat dia disana.. " perintah Reno.


"Baik, saya akan siapkan semuanya.." patuh Daniel.


Daniel nampak sibuk dengan laptopnya, sedang Reno membawa Elena keluar menunggu anaknya diruang tamu.


"Pah mah.." sapa Letta saat melihat mertuanya.


"Sayang.." seru Elena membawa Letta duduk disampingnya.


"Kamu gimana kabarnya sayang.." rindu Elena bertanya pada Letta.


"Baik kok, aku sama mas Arga baik-baik aja. Mama sama papa gimana kabarnya ..??" Tanya balik Letta.


"Kami juga baik-baik aja. Dan udah gak sabar mau gendong yang disini.." membelai perut Letta.


"Arga, Letta papa sudah meminta Daniel untuk membawa Arum keluar dari rumah ini.." seru Reno.


Letta terkejut, bahkan ia mulai berkaca-kaca. Namun Letta hanya diam, karena ia tahu Reno pasti punya alasannya sendiri.


"Kenapa pah??" Tanya Arga.


"Kenapa kamu tanya ?? Apa kamu gila membiarkan istrimu merawat bibinya yang sedang depresi !!" Bentak Reno.


"Pah sabar.." ucap Elena memperingati istrinya.


"Kamu tahu bahaya apa yang kamu tempatkan didepan istrimu Ga!! Arum itu depresi, ia bisa saja hilang kontrol dan menyerang siapapun termasuk istrimu !!" Jelas Reno.


Arga tersadar dengan kesalahannya, ia meremas rambutnya. Ditatapnya Letta yang juga sedang menatapnya.


Arga berlutut didepan Letta sambil menggenggam kedua tangan istrinya.


"Maafin aku sayang, aku sudah membahayakan kamu.." mengecup lama tangan Letta.


Arga begitu merasa bersalah, ia merasa ceroboh mengambil keputusan saat itu. Dan saat Daniel keluar memberikan form pengisian daftar penanggung jawab pasien, Arga segera mengisinya dan meminta Daniel untuk memindahkan Arum hari ini juga.


......🦩......


Terima kasih sudah mau mampir membaca dan semoga kalian suka .. šŸ˜„


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di like and kolom komentarnyašŸ˜‰, tekan favorit agar tidak ketinggalan lanjutannya.


Tinggalkan juga kritik saran kalian agar ceritanya lebih seru nantinya.šŸ¤—

__ADS_1


......HAPPY READING GUYS,......


...šŸ“–šŸ“š...


__ADS_2