Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 30


__ADS_3

Tidak akan menjadikan Laisa sebagia kekasihnya, kata-kata itu terus berpurat memenuhi pikiran Arga. Entah mengapa ia terganggu dengan kata-kata yang tak ia tahu kepastiannya.


"Apa maksud nak Alex ini, apa anda memang sengaja untuk mempermainkan anak gadis saya," tanya Arga yang menunjukkan rasa tak sukanya.


Laisa terkejut dengan perubahan sikap papanya, entah mengapa makan siang ini begitu mencekam. Terlebih ekspresi Arga benar-benar menunjukkan rasa tak sukanya, membuat Laisa begitu canggung dengan Alex.


"Papa, kita kan mau makan siang kenapa malah bahas yang nggak penting sih," serunya.


"Menurut kamu, tapi buat papa ini sangatlah penting. Kamu putri papa satu-satunya dan papa nggak akan mengijinkan siapapun menyakiti kamu," tegasnya menatap Alex.


"Pah," panggil Laisa yang hanya bisa menyembunyikan wajahnya.


Jantungnya berdebar dengan begitu tak karuan, ia kini benar-benar merasa tak enak dengan Alex. Entah kenapa Arga bisa berfikir hal yang memang tak mungkin antara dirinya dengan Alex dosennya itu.


"Saya memang tidak akan pernah menjadikan Laisa sebagai kekasih saya sampai kapanpun tuan ta-


"Keterlaluan," marahnya menggebrak meja.


Tak hanya Laisa, bahkan Alex sendiri juga terkejut dengan suara kerasa akibat tangan Arga yang menggebrak meja mereka. Raut wajah marah begitu kental kentara, Alex sungguh takut menatao wajah Arga saat ini .


"Kita pulang nak," ajak Arga menarik tangan Laisa.


"Papa."

__ADS_1


"Tuan Arga dengarkan saya," tahan Alex pada tangan Arga.


"Menurut saya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, biarkan saya membawa putri saya pulang agar tidak merepotkan tuan Alex."


"Papa jangan gitu dong."


"Nak," menatap mata putrinya dalam-dalam.


Alex panik saat Arga sudah melangkah menjauh membawa Laisa bersamanya, bukan ini yang dimaksudnya bukan pernyataan itu juga inti dari kata-katanya.


"Saya tidak ingin menjadikan Laisa sebagai kekasih saya, tapi saya mau Laisa berdiri sebagai calon istri saya," teriak Alex.


Langkah Arga terhenti, ia begitu terkejut dengan apa yang didengarnya. Arga berbalik dan berjalan mendekati Alex sambil menarik tangan putrinya. Menatap Alex, mencari kebohongan dimata itu.


"Bapak jangan asal bicara ya," tegur Laisa yang sangat terkejut dengan ucapan dosennya tersebut, hingga rasanya jantungnya terhenti seketika.


Arga melepas gandengannya pada tangan Laisa, kini ia mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Alex. Ia begitu bangga dengan pemikiran dewasa dalam hubungan menurut Alex, menurut Arga sangat jarang bagi anak muda memiliki pemikiran sedewasa itu.


"Mari kita duduk dulu, bukankah kita belum makan," seru Arga.


"Bukankah papah tadi yang menarik Laisa pergi."


"Ayo kita lupaka saja, lebih baik kita makan bersama saja," senang Arga.

__ADS_1


"Apa saya boleh berkunjung dengan keluarga saya om," tanya Alex memberanikan diri.


"Tentu saja, rumah kami terbuka untukmu nak. Tapi sebelum itu kamu bisa pergi dulu menemui kakaknya yang terlalu mencintai adiknya ini," seru Arga agak kikuk ketika membahas putranya.


Memang benar, daripada menghadapi Arga maupun Letta maka lebih sulit lagi menghadapi Shaka yang super protektif dengan adiknya ini. Shaka selalu mengutamakan Laisa, apapun ia tak pernah ingin ketinggalan satu hal pun tentang adiknya itu.


Andai ia tahu jika Alex sudah mengutarakan niatnya dengan baik pada Arga, apakah dia akan dengan mudah menerima Alex semudah Arga menerimanya.


Namun tiba-tiba saja saat makan rasanya dada Laisa begitu sakit, entah apa yang terjadi namun sakit itu begitu menusuk dadanya.


"Akhh," pekiknya memegangi dadanya.


Alex juga Arga terkejut dan sama-sama memegangi tangan Laisa, keduanya begitu panik saat wajah Laisa tiba-tiba saja begitu memucat.


"Nak apa yang terjadi?"


"Katakan, dimana yang sakit? Bagian mana?"


"Sakit," keluh Laisa menahan nyeri didadanya.


"Nak."


"Laisa katakan dimana sakitnya."

__ADS_1


"Sakit."


"Sakit sekali."


__ADS_2