
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Laisa sudah siap dan sedang menunggu Mira saat Arnez datang untuk menjemput Shaka tuannya. Arnez turun dari mobilnya dan menyapa nona mudanya.
"Pagi nona Laisa," sapanya sopan.
"Pagi kak Arnez, mau jemput kak Shaka ya?"
"Betul, dimana tuan Shaka memangnya," tanyanya berbasa-basi.
"Masih didalam, katanya tadi ada yang tertinggal."
Arnez hanya menganggukinya saja, Laisa fokus dengan ponselnya saat mata Arnez terus memandanginya. Entah mengapa ia begitu mengagumi Laisa yang kini ada dihadapannya, bahkan matanya selalu menatap Laisa kapanpun saat ada kesempatn.
"Laisa, kak Arnez," gumam Mira yang melihat keduanya tengah berdiri didepan mobil.
Namun ia malah menghentikan langkahnya, menatap intens dua orang yang sedang menikmati dunianya. Mira mengerutkan dahinya saat menyadari jika Arnez selalu menatap Laisa dengan pandangan yang berbeda menurutnya.
"Kenapa diam aja disini," tegur Shaka mengejutkan Mira. Karena tak ingin Shaka tahu, ia dengan sengaja mengeraskan suaranya.
"Kak Shaka, bikin kaget aja deh," teriaknya kencang.
Shaka menutup telinganya, teriakan Mira benar-benar mengguncang gendang telinganya. Laisa berlari menghampiri kedua kakaknya itu dan dengan santainya ia menyelipkan tangannya diantara tangan Shaka.
"Ayo berangkat," ajak Laisa yang menarik Shaka mendekati mobilnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu," cegahnya saat Laisa akan melangkah maju.
"Ada apalagi sih kak, aku bisa telat nih nanti," protes Laisa.
"Kalian berdua ikut mobil kakak, untuk sementara waktu kakak akan antar jemput kalian berdua sampai masalah kemarin selesai."
Laisa juga Mira paham betul bagaimana watak dari kakanya itu, dan dengan patuh keduanya berbalik dan masuk ke dalam mobil Shaka.
Danu rasanya sudah tak sabar menunggu kedatangan Laisa ditaman kampus depan kelasnya, entah mengapa ia sangat merindukan Laisanya itu. Semua mahasiswi begitu heboh dengan kedatangan dosen baru yang sempat mencuri perhatian mereka.
"Dasar orang gila semua," gerutunya saat melihat para teman-temanya.
Tak lama matanya melihat kedatangan Mira juga Laisa dari jarak jauh, ia segera berlari dan mendekati kedua gadis tersebut.
"Ayo buru Mir, gue udah mau telat ini."
"Ya sabar ini juga udah cepet, gara-gara kak Shaka ini mah kita jadi lama dimobilnya."
"Ih nggak boleh nyalahin kakak gue loe ya, gue aduin biar dimarahin."
Keduanya dengan spontan menghentikan langkah kakinya, menatap Danu bersamaan dari atas hingga kebawah. Saling mencuri pandang keduanya melemparkan isyarat yang tak disadari semua orang.
"Hai juga," balas Mira.
"Laisa mau masuk ke kelas ya, kalau gitu barengan sama Danu aja ya."
"Ehm, nggak usah makasih. Mira mau nganterin gue kok, " tolaknya dengan halus.
"Yaudah gpp deh, aku ikutin kalian aja dari belakang," girangnya.
Namun sesampainya didalam kelas, Laisa merasa heran saat semua temannya sudah berada didalam kelas dan duduk dengan sangat tenangnya dibangku masing-masing.
"Ehm Laisa, aku langsung duduk ya. Maaf nggak bisa nemenin kamu ngobrol dulu dimeja kamu," tak enaknya.
"Iya gpp, nggak usah ngobrol juga gpp kok," berjalan menuju bangkunya.
"Selamat pagi semuanya," seru seorang dosen yang tiba-tiba masuk kedalam kelasnya.
__ADS_1
Laisa yang masih malas menjawab sapaan tersebut dengan menundukkan kepalanya, namun tak lama mata keduanya bertemu tanpa sengaja. Saling menatap dan mengingat apa yang sudah keduanya alami.
"Loe," batinnya serempak.
"Hari ini saya belum akan memberikan kalian semua mata kuliah, tapi sebelum itu saya ingin mengenal kalian satu persatu," ucapnya.
Semua orang dengan semangat menyebutkan nama juga identitasnya secara lengkap hingga membuat kelas menjadi riuh ramai. Namun saat tiba giliran Laisa, ia hanya menyebutkan namanya saja tanpa hal lainnya.
"Nama saya Laisa."
"Laisa, gue bakal selalu inget nama itu," batinnya dengan tatapan tajamnya.
"Karen kalian semua sudah perkenalan maka kini giliran saya. Perkenalkan saya adalah Alexio Verdernal, kalian bisa memanggil saya pak Alex."
"Cihh, ganjen," lirih Laisa mengomentari.
"Apa yang kamu ucapkan barusan nona Laisa?"
"Ehm, bukan apa-apa pak A.l.e.x.i.o," mengeja namanya dengan penekanan.
"Gadis ini terang-terangan menantang saya, lihat apa yang bisa saya lakukan sama kamu ini," batinnya menahan kesal.
"Kalau begitu saya akan memilih assisten saya," ucapnya yang membuat semuanya yang terutaman wanita menjadi gaduh sendiri.
"Bodo amat, yang penting jangan gue asdos (asisten dosen) nya si killer," batin Laisa berdoa.
"Laisa Aura yang akan menjadi asisten saya mulai dari sekarang," tegasnya dalam menyampaikan.
Mata Laisa membulat diikuti seringai dingin dari Alex untuknya. Alex meminta Laisa maju kedepan mendekatinya, mengulurkan tangannya dan saling berjabatan antar keduanya.
"Selamat datang di hari-hari penyiksaan."
"Selamat datang di hari-hari penuh drama."
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••
...Hai semua .. tolong jaga kesehatana kalian selalu ya, 🌹...
__ADS_1