Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 42


__ADS_3

Dorr..


Beruntung Alex datang tepat pada waktunya, salah seorang anak buah Meya hampir saja menusuk punggung Laisa. Dengan raut wajah marahnya, Alex menginjak tubuh laki-laki itu tepat pada luka tembaknya.


"Dimana bos kalian," serunya.


"Katakan!"


"A-a-ada dilantai paling atas," serunya terbata-bata.


Suara tembakan begitu jelas terdengar, Meya mendengar dan meminta salah satu anak bauhnya untuk turun mengeceknya.


Meya melangkah masuk kedalam ruangan Shaka, semakin berjalan mendekat dan semakin dekat.


"Mau apa loe," tanya Nakila dengan sinisnya.


"Permisi, tapi saya harus membawa laki-laki ini pergi bersama saya," serunya Meya ketika Nakila tetap memeluk tubuh lemah Shaka.


"Nggak! Gue nggak akan biarin loe ngebawa dia," mempertahankan Shaka dengan sekuat tenaganya.


"Sombongnya," tersenyum begitu sinis.


Sedang dibawah Laisa menatap tak percaya Alex yang sedang berdiri menatapnya, ia tak percaya jika laki-laki itu akan benar-benar ada sesuai dengan yang diucapkannya. Dan Laisa tak bisa menahan dirinya lebih lama, ia melangkah memeluk Alex dengan begitu eratnya.


"Makasih pak, makasih udah datang," ucapnya.

__ADS_1


Alex hanya diam, ia masih terkejut dengan pelukan Laisa namun tangannya tergerak untuk membelai kepala serta punggung wanitanya itu. Ada rasa lega ketika Alex melihat tak ada luka ditubuh pujaannya.


"Kita naik, kita selesain ini secepatnya," ucap Alex merenggangkan pelukannya.


Laisa benar-benar malu saat Alex merenggangkan pelukannya, ia merasa jika Alex tak menyukai tindakannya itu dan ia sungguh malu dibuatnya. Namun dibalik sikap dingin yang sedang ditunjukkan Alex sungguh ada jantung yang siap meledak saat kedua tubuh itu saling bertaut.


"Ehm," singkatnya sambil memanyunkan bibirnya.


Alex tersenyum melihat muka masam Laisa, ia begitu gemas dan ingin sekali melahapnya sampai habis.


"Nggak usah cemberut, nanti selesai ini kamu bisa memelukku sepuasmu," bisik Alex tepat ditelinga Laisa.


Ada sensasi menggelitik saat nafas Alex langsung menyentuh telingannya, sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Sensasi yang membawa hawa panas menyeruak dari dalam tubuhnya, membuat wajah Laisa begitu panas seperti terbakar.


"Kenapa diam aja, ayo," seru Alex ketika Laisa hanya terdiam dibelakangnya.


Samar-samar ada suara yang cukup familiar ditelinga Laisa, dan itu ternyata suara Nakila. Nakila berteriak saat tubuh Shaka terus ditarik dan coba dipisahkan darinya.


"Lepas nggak," teriaknya.


Brakkk!!


Pintu itu ambruk dengan sekali tendang Alex, mereka yang awalnya sedang menarik tubuh Shaka terkejut dan berbalik menyandera tubuh Shaka juga Nakila.


"Kakak," panggil Laisa.

__ADS_1


Wajah Shaka sudah sangat pucat, tubuhnya tampak begitu tak bertenaga hingga begitu lemah dilihatnya. Mata Laisa memanas melihat kondisi sang kakak, namun saat akan melangkah maju Meya berterika dan mengentikannya.


"Mau apa loe," tanyanya.


"Gue hanya ingin melihat kondisi kakak gue, apa salahnya?"


"Tentu saja salah, tanpa persetujuan dari gue nggak ada yang boleh mendekati tawanan gue."


Laisa mengepalkan kedua tangannya, ia berusaha menahan semua emosinya. Ia tak hanya melihat Shaka yang lemah, ada banyak luka lebam menghiasi wajah tampannya juga. Bahkan Nakila yang seorang perempuan tak lepas dari hiasana memar diwajahnya.


"Hanya binatang yang berani melukai yang lemah," geram Laisa berucap.


Meya tertawa, ia tertawa mendengar Laisa yang mengejeknya. Mungkin semua mengira Meya telah menjadi gila karena dendamnya namun kenyataannya Meya akan selalu bahagia ketika menyaksikan wajah marah Laisa.


"Gue bakal kasih lihat loe, apa itu binatang sesungguhnya," seru Meya dengan begitu misterius.


Meya entah mengapa menyeringai tepat dihadapan Laisa, dan entak mengapa jantung Laisa begitu tak karuan berdetaknya.


"Bawa wanita itu kesini," perintah Meya.


Kini Nakila ada ditangan Meya, entah apa yang ingin dilakukannya namun Meya terlihat menarik sisi tangan Nakila dan membentangkannya.


"Mau apa loe," panik Laisa.


"Apa lagi, tentu saja mematahkannya."

__ADS_1


"Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh."


__ADS_2