Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 2


__ADS_3

Laisa yang happy setelah mendapat ijin dari kakaknya segera memasuki kelasnya, namun disana banyak mahasiswa yang sedang bergerombol entah membahas apa itu. Laisa yang cuek segera duduk dibangkunya sambil memainkan ponsel kesayangannya, ponsel yang dibelikan Shaka dari hasil proyek pertamanya dulu.


"Sa," panggil salah seorang temannya.


"Ya?"


"Loe tahu nggak kalau dikampus kita nanti akan ada dosen baru?"


"Mana gue tahu, loe pikir gue temenan sama pihak informan kampus apa," candanya.


"Isshh, loe mah gitu. Ini itu ganteng banget tau Sa," puji mereka yang sudah terpesona padahal belum pernah bertemu.


"Yayaya, kalian aja sana yang cari informasinya ya nanti biar gue yang nikahin," ucap Laisa diakhiri dengan tawa renyahnya.


"Huu, nak di loe sepet dikita-kita dong," protes para teman kelasnya.


Hampir 3 jam Laisa mengikuti kelasnya, dan hampir 3 jam pula ia lupa memberi kabar pada Mira tentang ijin dari kakaknya.


"Aduh mampus gue lupa," gumamnya dengan suara paling kecil.


Jari-jari lentiknya kini tengah sangat profesional menean layar ponselnya,dan tak butuh waktu lama sebuah pesan sudah terkirim pada Mira saudaranya.


Kelas telah usai, banyak anak yang memilih meninggalkan kelas dan berlarian menuju kantin untuk mengisi tenaga mereka namun tak jarang ada anak yang lebih tertarik diam dikelas menunggu kelas berikutnya seperti Laisa ini.


"Woy," sapa Mira yang masuk kedalam kelas Laisa.


Mira hanya selisih dua semester dari Laisa, sebab kecerdasan yang dimiliki Laisa membuat gadis itu bisa menempuh dua semester dalam waktu satu bulan saja.


"Sayangnya aku," merentangkan tangannya, namun dengan kasar ditepis oleh Mira.


"Ngapain aja, lama bener ngabarinnya," protes Mira yang duduk didepannya.

__ADS_1


"Lupa gue tadi, kelas keburu mulai tadi. Maaf yaa," mengatupka kedua tangannya.


"Haish, pakai mode ini lagi. Jadi ajak Olla nggak nih?"


"Jadilah, jangan sampai dia ngambek sama kita bisa repot 7 hari 7 malam nanti," ucap Laisa.


Namun tanpa mereka berdua sadari ada satu orang yang ada didalam kelas tengah memperhatikan keduanya, bahkan dengan sangat serius mendengarkan obrolan keduanya.


Dia adalah Danu Western, laki-laki dengan penampilan cupu juga kaca mata tebalnya yang sangat mengagumi Laisa dari pertama kali ia melihat Laisa dikampus. Bahkan ia sangat bahagia saat Laisa bergabung dikelasnya dan menjadi teman sekelasnya.


"Hai kalian," sapanya yang memberanikan diri mendekati dua gadis cantik.


"Hai."


"Hai Danu, ada apa ya," tanya Laisa yang to the point. Danu yang tahu persis gimana sikap Laisa yang teramat cuek tak mengambil pusing tanggapan gadis itu akan kedatangannya.


"I.. itu, sorry gu.. gue tadi nggak sengaja denger kalau kalian nanti mau nonton ya?"


"Ehm, bo.. boleh nggak kalau gue ikut kalian nonton?"


Mira saling berpandangan dengan Laisa dengan ekspresi yang sama, yaitu sama-sama terkejut dengan apa yang Danu ucapkan. Ini acara wanita, terus kenapa Danu bisa berfikir untuk bisa bergabung disana??


Dan Laisa pun mengisyaratkan Mira untuk menolak Danu bergabung dengan mereka. Laisa merasa tak nyaman karena ia tahu jika selama ini Danu sering memperhatikannya.


"Sorry ya kak, tapi ini adalah me time gue sama saudara-saudara gue aja. Jadi gue nggak menerima orang luar untuk masuk didalamnya," tolak Mira yang berusaha tak menyinggung siapapun.


Danu hanya diam tak menyahutinya, namun penolakan itu membuatnya marah hingga mengepalkan kedua tangannya dan pergi menjauhi keduanya.


........


Kantor,

__ADS_1


Shaka tengah memeriksa beberapa dokumen yang ada di meja kerjanya, tangannya fokus menulis sedang matanya dengan teliti melihat tabel didalam laptopnya. Ketampanan yang mampu menyihir setiap wanita padahal ia hanya duduk tak berlaku apa-apa.


Tokk, tok ..


"Masuk," sahut Shaka.


"Maaf tuan, meeting kita satu jam lagi. Kita harus berangkat sekarang juga."


"Apa semuanya sudah siap, berkas-berkas sama filenya gimana," tanya Shaka yang masih fokus dengan kegiatannya tadi.


"Sesuai perintah tuan, semua sudah saya siapkan. Dan nanti tuan bisa memeriksanya selama diperjalanan."


Arnez Alfred, ia adalah sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan yang Shaka pekerjakan untuk membantu dirinya dalam semua hal bahkan dilaur kantor seklaipun. Seorang laki-laki yang sangat loyal pada Shaka juga sangatlah setia, sebab itu Shaka selalu melindunginya agar tetap aman bersamanya.


"Kita berangkat kalau gitu," ucap Shaka pada asisstennya.


Namun baru saja kakinya keluar dari pintu ruangannya, sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Shaka hanya membaca pesan tersebut dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Kedua pria itu bersama-sama turun kebawah, dan saat mereka berjalan layaknya seorang model professional yang sedang melakukan peragaan busana. Banyak karyawan wanita yang tersihir dengan ketampanan keduanya hingga sangat bersyukur bisa cuci mata setiap harinya.


"Gimana sama tempat meeting kita nanti Ar," tanya Shaka dalam perjalanannya.


"Semua diatur oleh client kita tuan, mereka hanya memberikan alamat mall nya saja."


"Yaudahlah, tapi selesai meeting nanti kamu ikut saya bertemu dengan adik saya ya."


"Baik tuan."


Dan sesampainya mereka dimall, ada beberapa laki-laki berbaju hitam datang menghampirinya. Mereka lantas menuntun keduanya untuk menemui bosnya yang sudah menunggu.


"Silahkan masuk," ucap laki-laki yang membukakan pintunya.

__ADS_1


"Selamat datang tuan Shaka," ucap seorang wanita dengan suara mendayu juga dengan busana seksinya.


__ADS_2