Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 15


__ADS_3

Letta memeluk tubuh putrinya, ia begitu tak tega melihat apa yang kini terjadi dengan Laisa. Air mata sukses mengalir membasahi wajahnya, sedang kini Arga sedang berbicara berdua dengan Shaka diluar ruangan.


"Dimana laki-laki itu," tanya Arga.


"Aku sembunyikan."


"Jangan macam-macam Shaka," peringatan Arga yang sudah mewanti-wanti putranya.


"Dia sudah berani melukai adiku, berani membuka dunia gelap adikku yang sudah susah payah kita tutup."


Terlihat jelas kemarahan Shaka, ia begitu tak terima dengan apa yang terjadi dengan adiknya setelah ia juga menyalahkan dirinya sendiri. Arga begitu cemas dengan apa yang akan dilakukan putranya, ia ingin mencegahnya namun itu tak akan membuat emosinya reda begitu saja.


"Dengerin papa, jangan gegabah dalam bertindak. Ingat nak, adik kamu masih sangat membutuhkan kamu," ucap Arga menepuk bahu putranya.


Shaka hancur dengan keadaan adiknya saat ini, hatinya begitu sakit melihat air mata kedua wanita yang sangat dicintainya itu. Ia merasa begitu gagal dan tak berguna, ia gagal menjadi adik juga anak yang baik.


Sorot mata yang selalu ditakuti Arga kini benar-benar muncul, sorot mata membunuh putranya kini muncul didepannya.


"Aku bunuh dia," geramnya dengan tatapan tajam.


"Boy tenang," ucap Arga yang panik saat Shaka tiba-tiba bangkit dan berjalan.


"Tuan, tenangkan diri anda. Biar saya yang urus laki-laki itu," ucap Arnez mencoba menahan tuannya.


"Benar kata Arnez, biarkan dia yang menyelesaikan laki-laki itu."


Shaka hanya terdiam, namun matanya itu menatap tajam Arga dengan Arnez secara bergantian. Seringai itu menghiasi wajah Shaka, tiba-tiba saja Arga juga Arnez merasa begitu takut menatapnya.

__ADS_1


"Tanganku ini yang akan memberi tahunya bagaimana sakitnya Laisa akibat perbuatannya," mengepalkan tangannya dan memperlihatkanya.


Keduanya menelan salivanya, kemarahan dan kebencian Shaka benar-benar tak bisa dihindarinya.


"Tuan, tolong ingatlah nona Laisa."


"Diam!"


"Kak, benar yang dikatakan kak Arnez, ingat Laisa kak," ucap Mira yang berjalan mendekati ketiganya, meninggalkan Nakila seorang diri menjadi penonton.


"Diam kamu, ini juga terjadi karena kamu nggak becus jagaian Laisa," bentak Shaka pada Mira.


Mira menangis, ia tahu kesalahannya tapi ia tak tahu jika Shaka semarah ini hingga menyalahkannnya. Mira tertunduk, ia tak berani lagi berbicara apalagi menatap Shaka.


"Cukup, jangan keterlaluan kamu Shaka. Dia adik kamu juga," tegur Arga.


"Tuan."


"Nez kejar Shaka," ucap Arga panik.


Arnez berlari mengejar tuannya, ia kini begitu khawatir dengan tuannya yang diliputi dengan kebencian. Ia takut jika tuannya akan terluka atau melukai dirinya.


"Nak, maafin kakak kamu ya. Dia sedang kalut tadi," ucap Arga mengelus kepala Mira.


Mira tiba-tiba memeluk tubuh Arga, ia merasa begitu bersalah.


"Maafin Mira pah, maafin Mira nggak bisa jagain adik Laisa," sesalnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah, kita lihat keadaan Laisa kedalam aja yuk," ajak Arga.


"Nona Nakila, mari ikut dengan kami," ramah Arga yang memang menyadari kehadiran Nakila juga mengenalnya.


Laisa sudah dalam keadaan yang jauh lebih stabil, kini ia ada dalam pelukan Letta yang senantiasa menemaninya.


"Sa," panggil Mira dengan berderai air mata.


Laisa mengurai pelukannya dengan Letta, ia merentangkan kedua tangannya menyambut Mira yang bersiap masuk kedalam pelukannya.


"Sa maafin gue ya, mnaafin gue yang nggak bisa jagain loe," ucap Mira tersedu-sedu.


"Maaf ya gue pasti bikin loe kaget tadi, dan ini bukan salah loe kok."


"Maafin gue Sa," mengeratkan pelukannya.


"Oh iya kenalin. Ini Nakila, rekan kerja Shaka," ucap Arga memecah kecanggungannya.


"Halo semua, saya Nakila."


"Hai kak Nakila, " sapa Letta penuh senyuman diwajahnya.


"Pantas Shaka begitu mencintai adiknya, ternyata adiknya semanis ini," batinnya.


Mata Laisa menyisir seluruh ruangannya, ia mencari sosok yang sedari tadi tak ditemuinya.


"Kak Shaka, dimana kak Shaka," tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2