Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 31


__ADS_3

Bibir Olla sudah membiru, wajahnya pucat serta nadinya begitu lemah. Mira tak hentinya menangisi adiknya, entah apa yang terjadi kini ia menemani Olla didalam ambulance dengan membawa semua sample makana serta minuman yang baru saja mereka konsumsi.


"Lebih cepat lagi, pasien semakin lemah," teriak seorang petugas medis.


Mira panik, ia sungguh tak bisa memikirkan apapun lagi saat ini kecuali menangis. Tangannya gemetar mendengar apa yang baru saja petugas medis itu katakan. Ia tak ingin berfikiran buruk, namun bayangan-bayangan buruk itu terus singgah didalam fikirannya.


"Bertahan La, loe harus kuat," ucap Mira menggenggam erat tangan Olla.


Setibanya dirumah sakit Olla segera dilarikan ke UGD, Mira meminta bantuan pada dokter untuk menguji semua makanan dan minuman yang dibawanya. Mira curiga jika ada yang sengaja meracuni Olla, namun entah targetnya Olla atau dirinya.


"Siapa yang melakukan ini, apa tujuan mereka ini," batin Mira meremas kedua tangannya.


Ia begitu panik dengan kondisi Olla saat ini, takada lagi fikiran apapun dalam benaknya selain menjaga saudarinya itu.


Saat menuju kekantor tanpa sengaja Nakila melukai tangannya hingga mengakibatkan darah yang terus saja mengalir, niat awal ingin membantu seorang pemulung memunguti barangnya yang terjatuh namun siapa sangka ada sebuah pecahan kaca yang tak sengaja menusuk telapak tangan Nakila.


"Nez, kerumah sakit ya. Cepat," panik Shaka yang terus saja meniup telapak tangan Nakila.


Untuk menghentikan alirandarahnya, Shaka menggunakan dasinya untuk membungkus luka Nakila agar tak mengeluarkan darah lebih banyak lagi. Nakila yang terluka nampak begitu tenang, namun Shaka begitu berbeda ia begitu panik hingga kalang kabut dibuatnya.


Sesampainya dirumah sakit Shaka segera menarik Nakila keluar dan membawanya keruang dokter bedah kenalannya. Arnez yang ditinggal begitu saja mengira jika tuannya akan membawa sang kekasih menuju UGD hingga ia kini berjalan kearahnya.


"Mira," gumam Arnez dari kejauhan.


Dari kejauhan Arnez melihat Mira tengah tertunduk sambil menggoyangkan kedua kakinya, kebiasaan Mira yang tak bisa berubah adalah selalu menggoyangkan kakinya disaat dia begitu khawatir atau sedang cemas.

__ADS_1


Arnez berjalan mendekati Mira, tangannya terulur menyentuh bahu wanita itu. Mira yang merasakan ada yang menyentuh bahunya mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya ia saat melihat Arnez sedang tersenyum kepadanya.


Mira yang kalut segera memeluk tubuh Arnez, melihatnya menangis serta mendapat serangan mendadak membuat Arnez menjadi bisu.


"Tolong, tolong aku kak," pinta Mira disela-sela tangisnya.


Arnez tersadar, ia menarik tubuh Mira lepas dari pelukannya. Ia hendak bertanya pada Mira apa yang sebenarnya terjadi, namun baru ia membuka mulutnya tiba-tiba suara seorang suster menahannya.


"Dengan nona Mira."


"Saya sus, bagaimana," tanya Mira dengan panik.


"Kami telah menguji semua makanan serta minuman yang anda bawa, memang benar jiika beberapa makanan itu memang mengandung racun yang sama dengan yang terdapat pada tubuh adik anda," jelas suster panjang lebar.


"Kalau begitu saya permisi."


"Siapa yang mencoba menyakiti kalian," tanya Arnez panik sambil meneliti seluruh badan Mira, memastikan jika wanita yang ada didepannya kini dalam kondisi baik-baik saja.


"Olla, dia makan semua makanan yang beracun ini," sesal Mira menunjukka jenis makanan yang dimakan oleh Olla.


"Astaga," ucap Arnez yang kembali memeluk tubuh Mira.


Tiba-tiba saja ponsel Arnez berdering, dan ternyata itu adalah Shaka yang telah mencarinya. Ia meminta Shaka untuk menemuinya didepan ruang UGD, namun ia tak memberitahu Shaka tentang apa yang terjadi saat ini.


"Kenapa anak itu minta kita ke UGD?"

__ADS_1


"Entahlah, mungkin asissten Arnez terluka?"


"Kalau dia terluka dia tahu harus pergi kemana, bukan ke UGD."


"Itu asisstennya, tapi sedang memeluk siapa ya," tunjuk Nakila yang melihat punggung Arnez dari kejauhan.


Shaka mengenali keluarganya walau hanya nampak dari samping saja, namun ia begitu yakin jika itu adalah Mira adik sepupunya.


"Mira," panggil Shaka sambil berjalan mendekati keduanya.


"Tuan sebaiknya kita bicara berdua."


"Ada apa ini, kenapa adik saya menangis seperti ini," tanya Shaka melihat Mira menangis dipelukan Nakila.


"Saya jelaskan dulu tuan."


Panjang sekali Arnez bercerita, Shaka marah dibuatnya. Ia benar-benar telah kecolongan, bisa-bisanya adiknya dicelakai hingga seperti ini. Ia menarik tubuh Mira dan memeluknya, ia tahu pasti saat ini Mira begitu menyalahkan dirinya.


"Olla kak," tangis Mira.


"Kakak akan pastikan Olla baik-baik saja, jangan nangis lagi."


Tangan Shaka terkepal hebat saking marahnya, kini hanya ada satu nama yang bisa berbuat keji seperti ini. Siapa lagi jika buka Meya Agrasi, wanita yang telah mengobarkan bendera perang pada keluarganya.


"Nez, selidiki ini. Jangan terlewatkan satu hal kecilpun. Bunuh siapapun yang menghalangi!"

__ADS_1


__ADS_2