
Lorong panjang juga sepi dilalui Arletta sambil menggerutu, ia tak sadar kakinya melangkah kemana gara-gara rasa kesalnya.
"Pengen banget gue ehh .. ehh , " meremas-remas tangannya, tanpa ia tahu ada dua pasang mata yang memperhatikannya.
"Siapa lagi kalau bukan pak Arga yang menyebalkan!!" kesalnya berucap tanpa tau siapa yang bertanya.
Spontan Manda yang mendengar gerutuan istri bosnta itu terkikik sendiri, membuat Arletta menghentikan langkahnya lalu membalik badannya.
"Astagaaaa !!" kagetnya menutup mulutnya.
Langkah kaki Arga perlahan berjalan mendekati Arletta, semakin dekat Arga semakin Arletta memundurkan langkahnya.
"Mau stop apa mau aku kunciin diruangan aku !" ancamnya sukses membuat Arletta menghentikan gerakannya.
"Manda .. jangan biarkan siapapun masuk kedalam ruangan saya .. " titahnya kemudian berjalan menggandeng tangan Arletta.
"Baik pak .. " serunya, ia juga memberikan semangat pada Arletta kala Arletta menatapnya memelaskan wajahnya.
Arletta terkejut saat Arga mengunci pintu ruangannya, dan memojokkan dirinya ditembok. Dengan rasa gugup ia menahan dada suaminya itu agar tak lebih dekat dengannya.
"Mas .. mas mau ngapain ??" tanyanya gugup sekali.
"Mau ngapain coba .. " tanya balik Arga menunjukkan seringai liciknya membuat Arletta menelan ludahnya .
"Katakan.. siapa yang membuatmu kesal hingga kamu sampai kesasar diarea ruanganku ??" mengangkat dagu Arletta dengan telunjuknya.
"Siapa lagi kalau bukan kamu .. " ketusnya menangkis tangan Arga dari dagunya.
"Aku ??" mengerutkan dahinya.
"Mas tau nggak gimana usaha aku, kerja keras aku buat dapatin proyek itu .. terus sekarang mas seenaknya aja ngalihin itu proyek sama Bella ?? siapa yang nggak kesel coba .. " serunya menggebu-gebu melipat tangannya didada, Arletta juga membuat mimik wajahnya semarah mungkin.
Namun bukannya merasa bersalah pada istrinya Arga malah tersenyum penuh kemenangan. Arletta bertambah kesal karena dengan bangganya Arga menunjukkan senyum termanisnya disaar dirinya sedang merasa kesal.
__ADS_1
"Siapa yang nyuruh senyum ?" tanyanya ketus sambil berkacak pinggang.
"Memang siapa yang berani melarang apa yang ingin saya lakukan ??" tanya Arga dengan nada yang kembali terdengar dingin, membuat Arletta tiba-tiba saja berkaca-kaca.
"Iya aku tau aku bukan siapa-siapa yang bisa ngelarang larang kamu,, aku tau kamu nikahin aku cuma gara-gara anak ini .. aku juga sadar diri siapa aku .. aku tau itu jadi nggak perlu diingetin lagi !!" marahnya dengan segera berbalik membukan kunci pintu ruangan Arga dan berlalu pergi berurai air mata.
Arga yang terkejut dengan pemikiran istrinya itu hanya diam mendengar ucapan Arletta barusan, namun saat ia sadar Arletta telah pergi ia buru-buru mengejarnya.
"Sayang .. " teriaknya keluar dari ruangannya.
"Maaf pak ,nyonya sudah turun menggunakan lift., " seru Manda saat tahu bos nya sedang mencari istrinya.
_____
Dikampus terlihat Jesika tengah serius mengerjakan tugas dikantin, namun tiba-tiba dering ponsel mengagetkan dirinya.
"Astagaaa !! siapa sih yang gangguin gue ngerjain tugas .. " kesalnya saat merogoh tas mencari ponselnya.
"Ohh .. Letta , eh kak Letta .. " mengangkat telponnya.
"_____ "
"Loh .. kak , kakak kenapa nangis ?? kakak dimana sekarang ??"
"________ "
"Yaudah aku kesana sekarang ya .. kaka jangan kemana-mana oke .. ??" tanpa banyak bertanya lagi, Sika segera mengakhiri panggilannya kemudian pergi meninggalkan kampus.
Ia begitu panik saat memikirkan Arletta yang tengah menangis dan berada di cafenya saat ini. Sekeluarnya Arletta dari ruangan Arga, ia memutuskan untuk ijin pulang terlebih dahulu dengan alasan gak enak badan. Namun karena rasa kesalnya yang teramat kepada Arga, ia memutuskan untuk ke cafenya dan menghubungi Sika adiknya sekaligus sahabatnya.
"Kak Letta ... " seru Sika langsung berlari memeluk tubuh Arletta yang sudah bergetar berlinang air mata.
"Kenapa kak ?? Cerita sama aku ya ,, siapa yang buat kakak sampai nangis begini .. ??" menghapus air mata Letta dengan kedua tangannya sendiri.
__ADS_1
Kemudian Arletta menceritakan semua yang terjadi hari ini dikantor kepada Sika, ia juga menceritakan rasa kesalnya akhibat ulah suaminya itu. Sika yang mendengar merasa ikut jengkel dengan tingkah kakaknya yang tak punya rasa peka apalagi ditengah sensifitas istrinya yang sedang hamil muda.
"Dasar kak Arga ini ya ,, nggak ada peka-pekanya dikit. Masa ngomong gitu sama istrinya , ya nangis kejer gini deh hasilnya .. " batin Sika mengumpati kakaknya sendiri.
"Udah ya kak jangan nangis lagi .. gimana kalau kita jalan-jalan. Kita kulineran aja yukk .." ajak Sika sengaja karena semenjak Arletta hamil selera makannya bertambah banyak.
"Yaudah .. ayo ,, " lesunya.
"Jangan lesu gitu dong .. senyum ,," menarik kedua sudut bibi Arletta untuk tersenyum.
'Nah gini kan cantik ,, yaudah aku telpon kak Orland sama kak David dulu kak ya biar kita aka teman makan.. " serunya bersemangat sambil meneliti ponselnya.
Tanpa keduanya sadari ada Arga yang saat ini kebingungan mencari istrinya. Ia sudah berkali-kali menghubungi bahkan mengirimi Arletta pesan namun tak satupun yang di responny. Ia sangat gelisah saat ini, ia juga merasa bersalah dengan ucapannya siang itu.
Setelah semua berkumpul keempat orang itu segera melajukan mobil menuju restoran ternama dengan hidangan menggugah selera sesuai rekomendasi dari Orland.
"Kak kok lama sih ,, udah laper nih .. " rengek Sika saat tak kunjung sampai.
"Sabar ya dek , bentar lagi sampai .. " halus David berbicara namun segera dipotong oleh Orland disampingnya.
"Ikar aja tu perut loe biar nggak berisik,, suaranya sampai sini lagi .. " godanya membuat Sika kesal dan memelototkan matanya pada Orland.
"Hhhaaha .. kalian berdua kok lucu sekali sih. Jangan gitu dek ,, ntr jatuh cinta gimaba hayo ,?? goda Letta saat melihat wajah Sika ditekuk.
Tak begitu lama sampailah mereka disebuah cafe dengan nuansa bambu hijau menyejukkan mata mereka. Sepanjang mata mereka memandang hanya ada bambu hijau menyejukan serta bunyi bambu yang bergerak tertiup angin.
"Wah .. disini enak banget deh suasananya .. " seru Sika begitu senang.
"Iya Sika .. aku juga seneng banget mana sejuk banget lagi .. " tambah Arlett mengagumi.
"Ayo buruan masuk, mau jadi tukang parkir disitu ,, " seru Orland, sedang David sudah masuk terlebih dahulu memesan tempat.
"Duh .. tu orang bisa nggak sih nggak ngrecokin mulu .. " gerutunya kesal, namun membuat Arlett tersenyum melupakan rasa kesalnya.
__ADS_1
Seorang pelayan cafe menuntun kami menuju meja pesanaan David. Selama berjalan mata kita selalu disuguhi oleg hijaunya bambu serta merdunya batang bambu yang saling bersahutan tertiup angin. Banyak dari mereka yang memilih makan langsung dibangku dibawah bambu ada juga yang memilih digazebo dan pilihan kami adalah makan ditengah papan kayu bulat yang terbuat dari bambu dengan ukuran besar.
Kita berempat makan dengan nyaman diatas bangku itu, membuat hati Arletta menjadi gembira melupakan masalahnya. David yang mengetahui masalah antara sahabatnya itu tak lupa mengirimu foto Arletta yang sedang makan juga tertawa pada Arga, karena ia tahu saat ini Arga sedang gusar mencari keberadaan istrinya.