
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Shaka tiba, aura membunuhnya begitu pekat terasa hingga anak buah yang melihatnya tak mampu menatap wajahnya. Langkah besarnya membawa Shaka tiba lebih cepat kedalam markasnya, sedang Arnez yang baru tiba berlari sekencang mungkin mengejar tuannya.
"Dimana tuan," tanyanya kepada anak buah yang sedang berjaga didepan.
"Tu tuan ada didalam bos," gagapnya.
"Kenapa dengan kalian berdua?"
"Tuan muda menakutkan, aura membunuhnya bikin merinding bos."
Arnez tak menyahuti, ia berlari masuk kedalam ruangan mencari tuan mudanya. Shaka masuk ke sebuah ruangan, disana ada Danu yang terikat dengan rantai yang terhubung langsung dengan tembok.
"Jadi ini yang melukai adik saya," katanya begitu geram.
Bugh..
"Akhh," pekik Danu saat Shaka memukul perutnya.
"Lancang sekali tangan kotor ini menyentuh adik saya," dan dengan bringasnya Shaka mematahkan sebelah tangan Danu yang disentuhnya.
__ADS_1
Danu menjerit kesakitan, rasanya seluruh tulangnya kini saling berkesinambungan. Saling terikat dan saling berbagi rasa, hingga rasanya tak hanya tangannya yang telah dipatahkan.
"Mana lagak loe saat nyekap adik gue, mana nyali loe," bentak Shaka murka.
Danu tak kagi merespon, ia sudah tak lagi bertenaga dengan sakit ditangannya. Ia hanya bisa mendengar semua kemarahan serta ocehan Shaka yang mengumpatinya. Dan Shaka yang tak puas ingin kembali menghajar Danu yang sudah babak belur, beruntung Arnez datang dan menahannya.
"Tuan cukup, kita keluar dulu."
"Lepas, gue bunuh bajingan ini dulu."
"Tuan tenang, ingat ada nona muda yang akan kecewa dengan tindakan tuan ini."
Arnez terus berusaha menarik tubuh Shaka keluar sedang Shaka menarik kembali dirinya masuk kedalam ruangan Danu. Dan hasilnya keduanya hanya tarik menarik dengan begitu tak jelasnya.
"Tuan saya mohon tenang dulu ya, saya kesulitan menahan beban tubuh anda ini," keluh Arnez.
"Lepas Nez, gue bilang lepas. Gue baru puas kalau bajingan ini berlumur darah."
Arnez terus berusaha menarik tubuh tuannya begitu juga dengan Shaka yang berusaha tetap berada didalam membalas dendamnya. Hingga ponselnya berdering dan bergetar Arnez juga tak tahu karena asik dengan kegiatannya.
"Loh, loh kamu mau kemana nak. Eh jangan," seru Letta yang terkejut saat Laisa ingin melepas infus ditangannya.
"Ma lepasin, aku harus lihat kak Shaka. Aku nggak mau kaka aku itu berlaku bodoh demi aku mah."
"Wajar kalau kakak kamu bertindak bodoh, kamu tahu dengan jelas gimana sayangnya kak Shaka sama kamu ini," ucap Arga.
"Arggg," erang Laisa saat kepala bagian belakangnya terasa begitu nyeri.
"Ada apa, kenapa sayang," panik Letta juga semuanya.
"Kak Shaka, aku mau kak Shaka,"lirihnya menahan sakit.
Arga berusaha menghubungi Shaka juga Arnez namun sama sekali tak ada jawaban dari keduanya hingga membuatnya murka. Lalu ia teringat dengan pimpinan dari anak buah Shaka, dan ia pun segera menghubunginya.
__ADS_1
"Laisa, ini kaka Shaka. Kamu bicara sama kakak kamu," ucap Arga yang membawa masuk ponselnya dengan tergesa-gesa.
"Kak Shaka," lirihnya kesakitan.
"Dek, kamu kenapa dek. Apa yang sakit," Shaka yang kini fokus kepada adiknya berjalan keluar.
"Kepala aku sakit kak, aku mau sama kaka," tangisnya pecah saat mengadu dengan sang kakak.
Hati Shaka rasanya teriris perih mendengar tangis kesakitan dari adiknya, hingga tanpa disadarinya matanya memanas. Arnez mengintruksikan kepada pimpinan untuk mengawasi Danu, lalu setelahnya ia memberi isyarat kepada Shaka untuk segera masuk kedalam mobil.
"Kaka dimana, aku butuh kak Shaka."
"Iya iya, ini kaka udah dijalan sama Arnez. Kamu baik-baik dulu dek, tunggu kakak."
Namun tiba-tiba sambungan telponnya terputus, Shaka begitu panik saat tak bisa menghubunginya lagi.
"Nez cepetan, ngebut lagi," seru Shaka panik.
Laisa menangis saat ponsel yang dipegangnya kini mati, sambungan telpon dengan sang kaka juga putus dengan tiba-tiba.
"Papa ponselnya mati," tangisnya menyerahkan kembali ponsel milik Arga.
Pandangan Laisa mulai menghitam, lama kelamaan rasanya semua buram bagi dirinya. Ia ketakutan sambil menahan sakit pada kepalanya. Laisa merasa tangan sang mama, mencari kekuatan untuknya bertahan.
"Sayang ada apa, kenapa nak," panik Letta yang melihat putrinya sudah tak bertenaga.
"Nak, ada apa? Kasih tahu papa mana yang sakit," tanya Arga panik.
"Sakit, sakit sekali pah mah. Gelap," lirihnya begitu tak bertenaga.
Mira menangis dengan histerisnya hingga Nakila mencoba menenangkannya. Letta buru-buru memanggil dokter, sedang Arga terus mencoba memastikan putrinya untuk tetap terjaga.
"Laisa."
__ADS_1
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...