Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 13


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Alex kehilangan jejak mobil yang membawa Laisa, ia terus menerus memukuli kemudinya karena tak berhasil menemukan keberadaan Laisa.


"Loe tenang dulu, kalau loe ngamuk kayak gini mana bisa ketemu," ucap sang teman yang diketahui bernama Mike.


Mike yang telah mengenal lama sahabat serta rekan kerjanya itu merasa kebingungan dengan sikap yang saat ini ditunjukkanya, sikap seorang yang sedang mencemaskan kekasihnya.


"Kita cari disana, siapa tahu kita melihat mobil yang tadi bawa pacar loe itu," ucap Mike menunjuk sebuah jalan didepannya.


"Ralat ucapan loe, dia cuma asisten gue bukan pacar," ketusnya menjalankan mobilnya.


Namun entah mengapa Alex begitu gelisah ketika teringat dengan wajah ketakutan dari wanita yang sering ia jahili itu, perasaan yang sudah sangat lama tak pernah ia rasakan. Matanya terus menatap jalan berusaha menemukan keberadaan mobil tadi.


Mira hanya bisa menangis sambil memeluk tangannya yang terluka, ia merasa begitu tak berguna karena tak bisa melindungi Laisa yang juga adiknya. Laisa, dia masih mengidap trauma akibat penculikan dirinya sewaktu kecil dan itu membuat Mira takut jika itu akan membuatnya kembali.


"Sa loe harus baik-baik aja, gue mahon," tangisnya.


Tak lama tiga buah mobil berhenti didepan mobilnya, Mira sudah tak sanggup lagi membuka matanya karena kini ia hanya ingin melihat Laisa atau Shaka. Shaka turun dan berlari menghampiri Mira, wajah panik juga deru nafasnya yang tak beraturan menandakan jika kini Shaka tengah sangatlah panik.


"Mira, kemana Laisa dibawa?"


"Nggak tahu kak, aku nggak bisa kejar mereka. Kalian pergi cari Laisa kak, " mencengkeram kerah Shaka.


"Tangan kamu luka, Nez bantu obatin Mira."

__ADS_1


"Nggak, aku nggak perlu obat. Aku cuma mau Laisa kak, ayo," pinta Mira.


"Nez loe sama Mira naik mobil ini, yang lain ikutin dari belakang," titah Shaka penuh wibawa.


Empat mobil melaju dengan begitu kencangnya membelah padatnya kota, berharap bisa menemukan keberadaan adiknya yang entah berada dimana.


Sedang Laisa kini masih meringkuk ketakutan disudut kamar, terus menangis memeluk kedua kakinya sambil memanggil mamanya. Gadis itu begitu ketakutan, terlebih kamar yang saat ini digunakannya itu begitu minim cahaya.


"Mama, Laisa takut ma. Tolongin Laisa," tangisnya.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan sosok yang ada dibalik semua penculikan Laisa. Sambil tertawa ia terus melangkahkan kakinya, Laisa mengenal suara itu.


"Danu," gumamnya mengangkat kepalanya.


"Selamat datang dirumahku sayang," ucapnya yang kini berada tepat didepan Laisa.


Tangan Danu terulur ingin menyentuh wajah Laisa, namun dengan begitu kasarnya Laisa menepisnya hingga membuat amarah Danu muncul.


Plakk..


"Mama, tolong Laisa. Takut mama," tangisnya saat Danu mencengkeramnya.


Seolah sadar apa yang ia perbuat, Danu segera melepas tangannya dan ekspresi wajahnya pun ikut berubah.


"Maaf sayang, maafin aku. Apa tadi sakit?"


Lama mencari hingga akhirnya Alex menemukan mobil yang dicarinya, satu mobil yang membawa Laisa kini terparkir disamping sebuah halaman yang cukup luas. Karena penasaran Alex serta Mike turun dari mobil dan mulai berjalan mencari Laisa.


Ada beberapa rumah disana namun tak seperti tak berpenghuni, kosong juga penuh dengan debu. Suara jeritan terdengar begitu keras, Alex mengenali pemilik suara tersebut.


"Laisa. Itu tadi suara Laisa," ucapnya.


Baru beberapa langkah saja, kini sudah ada beberapa laki-laki menghadang keduanya. Mereka cukup banyak hingga membuat Alex memutar otaknya. Namun memang tak ada lagi jalan selain melawan mereka semua ini.


Lama keduanya berkelahi hingga seluruh tenaga terkuras rasanya, bukan berkurang mereka malah bertambah banyak juga agresif. Alex geram, hanya keselamatan Laisa yang utaman maka ia harus menghadapinya.


"Lex, makin banyak. Gimana kalau kita mundur dulu cari bala bantuan?"

__ADS_1


"Nggak, kita mundur mereka pasti membawa pergi Laisa."


Mike tak tahu lagi, ia sudah cukup lelah menghadapi laki-laki yang tak ada habisnya itu. Rasanya mereka mirip kuman yang satu dibasmi makan akan tumbuh ribuan.


Bantuan tiba, orang-orang yang sedang mengeroyok keduanya kini dilibas habis oleh laki-laki yang tak diketahui mereka itu siapa. Namun saat ia melihat Mira ia sedikit paham bawahan siapa yang sedang menolongnya.


Danu mencoba membawa Laisa naik keatas ranjangnya, dengan sengaja merobek baju yang sedang dikenakan Laisa. Geram, Laisa kembali melayangkan tamparannya dan itu membuat dirinya juga menerima tamparan dari Danu.


"Nggak, lepasin! Tolong," teriak Laisa.


Alex berhasil masuk dengan meninggalkan Mike untuk menghadapi sisa anak buah didalam rumah. Ia terus berlari hingga tiba disebuah pintu yang terkunci. Alex mendobrak pintu itu hingga hancur dan terlepas dari tempatnya.


Darahnya mendidih saat ia melihat Laisa ada dibawah kungkungan Danu sambil terus histeris, tangannya terkepal kuat dan melempar jauh tubuh Danu dari Laisa. Namun tanpa diduga Laisa juga takut kepadanya, Alex terdiam sebentar menatap Laisa yang terlihat begitu hancur.


"Ini saya, Alex."


"Nggak, pergi. Mama Laisa takut ma, tolongin Laisa," teriaknya sambil menutup kedua telinganya.


Alex membatu, ia tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba Shaka masuk dan berusaha memeluk tubuh adiknya, Laisa menjerit ketakutan saat tubuhnya bersentuhan dengan Shaka. Shaka marah, tangannya terkepal kuat.


"Tuan Shaka begitu menyayangi adiknya ternyata," batin Nakila yang menyaksikan pemandangan haru saat Shaka berusaha menyadarkan adiknya.


Alex tak tahu siapa Shaka, ia berusaha menahan Shaka saat laki-laki itu akan memeluk kembali tubuh Laisa. Arnez menghentikannya, menarik Alex sedikit menjauh dan menjelaskan situasinya. Alex kini paham alasan histerisnya Laisa, dan ia bersimpati dengan itu.


"Kalian bawa laki-laki bejat ini ke markas. Jaga baik-baik jangan sampai lengah," ucap Arnez pada beberapa bawahannya. Tubuh Danu diseret keluar.


"Sa, ini gue. Gue Mira,"ucap Mira berlinang air mata.


"Nggak, mama. Tolongin Laisa ma," masih terus histeris.


Hingga terpaksa Shaka memukul tengkuk adiknya, terlihat jelas jika Shaka menyesal memukul adiknya barusan tapi hanya itu satu-satunya cara ia membawa sang adik pulang. Menggendong tubuh adiknya, Shaka terlihat begitu penuh dengan aura membunuhnya.


"Nez, beri dia pelajaran paling setimpal. Sisakan sedikit untuk tangan saya."


"Baik tuan."


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...

__ADS_1


__ADS_2