
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Alex terus saja memperhatiakan Laisa dari mejanya, tatapan tak suka dari Danu membuatnya sedikit memicingkan matanya.
"Anak ini dari tadi ngelihatin gue, tatapan nggak suka. Atau jangan-jangan dia pacarnya si gadis tengik itu," batin Alex bertanya-tanya.
"Selesai kalian dengan esai pertama kita, kalian bisa kumpulkan pada asisten saya," seru Alex sambil merapikan mejanya.
"Baik pak," serempak.
"Nona asisten, jangan lupa taruh semua tugasnya dimejan saya," pergi begitu saja meninggalkan kelasnya.
"Gue patahin lama-lama tuh kakinya," geramnya meremas bolpoinnya.
"Biar gue bantu kumpulin ya Laisa," Danu tiba-tiba saja datang menghampirinya dan membuatnya terkejut.
Laisa dengan spontan menolak bantuannya, membuat Danu menahan rasa kesalnya dengan penolakan tersebut. Semua anak mulai mengumpulkan tugasnya pada Laisa, dan setelahnya ia bersiap membawa tugasnya pada dosennya.
"Aduh lupa lagi, ruangannya dimana ya si killer? Masa iya jadi satu sama dosen yang lainnya," ocehnya sambil membawa tumpukan kertas esai ditangannya.
__ADS_1
"Permisi buk, mau tanya mejanya pak Alex dimana ya," tanya Laisa yang memasuki ruang dosen.
"Oh, ruangan pak Alex bukan disini. Kamu jalan lurus saja didekat ruang dekan, disana ruangan pak Alex."
"Oh, makasih buk. Maaf mengganggu," ucapnya sebelum meninggalkan ruang dosen.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ehm," suara dari dalam ruangan.
"Bukannya suruh masuk malah cuma ehm aja nih dosen," gerutunya pelan.
Tok.. Tok.. Tok.. (lebih keras)
"Masuk," serunya.
Laisa masuk, dan ia benar-benar disambut dengan aura dingin didalam ruang tersebut. Bulu kudunya tiba-tiba merinding merasakan aura dingin ruang dosen killernya, belum lagi tatapan mata Alex padanya.
"Maaf pak, ini tugas anak-anak," meletakkan diatas meja.
"Tunggu," cegah Alex saat tangan Laisa hampir menyentuh gagang pintu.
"Ada apa lagi pak," malasnya berbalik menatap Alex.
"Siapa yang memberi ijin kamu untuk keluar," tanyanya menyebalkan.
Dengan malas Laisa berjalan kembali mendekati meja dosennya, ia berdiri sambil menundukkan kepalanya dengan mulut yang terus berkomat-kamit.
"Yaudah, kamu boleh pergi," santainya menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.
Mata Laisa melotot tajam mendengar apa yang baru saja didengarnya, ia tak menyangka akan dikerjai dipertemuan kedua mereka ini. Ingin sekali ia mengacak-acak semua isi ruang dosen killer tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih," ketusnya lalu berbalik meninggalkan ruangannya.
"Seru juga bermain dengan dia."
Diperusahaan Shaka tengah fokus dengan penjelasan yang kini Nakila sampaikan, ide yang sangat sempurna bagi Shaka yang baru saja memulai bisnis barunya. Ia sangat puas dengan ide tersebut, sungguh tak sabar rasanya ingin segera terjun mengerjakan proyek tersebut.
Prok.. Prok.. Prok..
Riuh suara tepuk tangan yang puas dengan presentasi dari Nakila, gadis muda itu berhasil memukau banyak orang dengan ide cemerlangnya. Shaka maju dan mengulurkan tangannya pada Nakila.
"Semoga semua kerja sama kita berjalan sempurna," ucapnya dan keduanya saling berjabar tangan.
Semua orang keluar dari ruang meeting, Nakila yang sedang membereskan berkasnya terkejut dengan kedatangan Shaka mendekatinya.
"Boleh saya traktir nona Nakila makan siang?"
Sempat tertegun dengan pertanyaan Shaka, namun Nakila dengan segera menganggukan kepalanya menyetujui ajakan tersebut. Keduanya keluar berdampingan dengan Arnez menjaga disisi belakang.
Banyak karyawan yang saling berbisik melihat kedekatan atasannya dengan rekan bisnisnya, mereka menduga jika atasnnya itu tengah menjalin hubungan dengan rekan tersebut.
"Apa yang ingin nona Nakila makan?"
"Apa saja, saya bukan orang yang pilih-pilih makanan."
"Nez, kita ke resto langganan adik saja," ucap Shaka pada asistennya.
"Baik tuan."
"Ternyata rumor memang hanya rumor, Shaka bukan orang licik juga picik seperti yang sering aku dengar. Memang sih, lebih dingin juga pendiam dari pebisnis lainnya," batinnya terus memperhatikan Shaka yang sedang serius dengan ponselnya.
"Apa ada yang aneh dengan wajah saya nona Nakila?"
__ADS_1
"Tidak, hanya saja terlalu tampan."
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••