Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II ‐eps 44


__ADS_3

"Silahkan lewat sini tuan Alex."


Suara itu sungguh membuat Alex terkejut, suara yang familiar terdengar oleh telinganya. Benar saja, itu adalah Arnez si tangan kanan Shaka.


(Flash back on)


Malam itu dihari keberangkatan keluarganya ke luar negeri, Laisa sempat menyelinap keluar dari rumah dan menemui Arnez diam-diam.


Keduanya bertemu dimarkas milik anak buah Shaka, semua orang sudah mengetahui siapa Laisa jadi mereka patuh selayaknya kepada Shaka.


Disana keduanya menyusun sebuah rencana untuk menyergap Meya lebih dulu, Sebenarnya malam itu juga Arnez sudah mengetahui lokasi Meya berada.


Namun karena banyaknya anak buah yang ditugakan Meya membuat Laisa harus benar-benar memperhitungkan semuanya.


Arnez akan membawa anak buahnya mengatasi seluruh anak buah Meya yang bertugas, baru setelah itu ia akan membebaskan Shaka dari tangan wanita itu. Namun Laisa menolak rencana itu.


"Kakak bawa anak buah dan lumpuhkan penjaga dilantai tiga, lalu gantikan penjaga itu dengan anak buah kita. Ikuti alur, jangan bertindak sebelum ada perintah dari saya."


"Jadi nggak kita habisi semua saja?"


"Jangan kakak, itu akan lebih memancing kecurigaan Meya dan akan membahayakan mereka disana. Meya itu peka dengan sekitarnya, dan instingnya kuat jadi jangan sampai kita ketahuan."


Jadi malam itu semua bergerak sesuai dengan instruksi Laisa.


(Flash back off)

__ADS_1


Arnez begitu prihatin dengan kondisi Nakila, ia segera menggendongnya dan membawanya turun. Beruntung mereka berpapasan dengan rombongan Arga.


"Nez, serahkan pada istriku dan kamu segera naik kembali," seru Arga.


"Baik tuan."


"Kita bicara nanti ya, kita selamatkan dulu calon istrimu," seru Daniel yang menepuk bahu Alex.


Didalam ruangan itu benar-benar mencekam, ternyata orang yang dianggap Meya sebagai anak buahnya adalah anak buah Laisa yang sedang menyamar. Meya marah, ia merasa ditipu habis-habisan oleh Laisa.


"Permainan loe udah kelar, menyerahlah dan gue bakal mengampuni loe."


"Mimpi," seru Meya yang bergerak dengan cepat. Kini Shaka ada ditangan Meya, ada pisau saat ini yang mengancam keselamatan kulih leher Shaka.


"Berani maju, satu tetes darah."


Laisa mencoba bernegoisasi dengan Meya, ia berharap ada celah untuk anak buahnya menyelamatnya kakaknya. Namun lama ia berbicara ternyata Meya begitu fokus pada sanderanya dan tak memberikan Laisa celah sedikitpun.


"Satu lawan satu, biarkan mereka semua keluar," tantang Laisa.


"Nggak, jangan dek," lemah Shaka berucap.


"Kenapa diam, takut?"


"Sombong sekali, apa jaminan untuk ini."

__ADS_1


"Anak buahku yang akan memegang kakakku sedang kita duel disini, ditempat ini."


"Deal."


Perkelahian tak lagi dapat dihindari, Laisa mati-matian mencoba bertahan dan tak kalah dari Meya. Apa yang dikhawatirkan Alex memang benar adanya, Meya benar-benar menguasai ilmu bela diri diatasnya.


"Gue nggak akan menyerah," seru Laisa menyeka darah disudut bibirnya.


Shaka benar-benar tak sanggup melihat adiknya dihajar didepan matanya, ia ingin berlari melindungi adiknya namun ia sungguh tak memiliki tenaga untuk itu.


Meya mengambil sesuatu dari balik punggungnya, ternyata wanita itu menyimpan senjata api dibalik badannya.


"Mau apa loe," seru Laisa terkejut saat pistol itu ditodongkan kepadanya. Reflek ia pun menegapkan tubuhnya dan menatap tajam Meya didepannya.


Shaka panik, ia tak ingin sesuatu buruk terjadi pada adiknya. Ia berusaha menggerakkan kakinya namun tetap tak bisa, tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan.


"Hhahhaha, kaget ya gue punya pistol ini. Sengaja, buat bunuh loe disini," seringainya dengan tawa yang begitu menggelegar.


"Jangan gila, ini kriminal."


"Loe bodoh ya, gue emang kriminal. Baru tahu?"


"Sebenarnya apa salah gue juga keluarga gue sama loe, kenapa loe sebenci ini terhadap kami, " tanya Laisa yang sedang mengulur waktunya.


"Loe masih tanya! Gara-gara loe gue kehilangan nyokap gue, gue juga kehilangan oma yang begitu menyayangi gue. Dan tak hanya itu, setelah semua itu gue juga harus pergi jauh meninggalkan negara ini negara tempat gue dilahirkan," serunya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Gue tahu apa yang loe rasain, kita sama-sama perempuan dan gue ngerti itu," seru Laisa mencoba mendekati Meya.


Dorrr ..!!


__ADS_2