Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 28


__ADS_3

Laisa mengenali suara yang memanggilnya, ia menghentikan langkah dan berbalik menatap kebelakang arahnya. Alex mengikuti arah pandangang Laisa, betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang tengah memanggil Laisanya.


"Papa," seru Laisa sambil tersenyum.


Sedang Alex tiba-tiba saja membeku saat melihat tuan Arga kini tengah berdiri didepannya, rasanya ia begitu kikuk hingga tak tahu harus berbuat apa.


Arga melangkah semakin mendekat dengan keduanya, jarak semakin tipis hingga degub jantung Alex semakin tak tak karuan.


"Aww," pekik Laisa tiba-tiba.


Alex yang gugup tanpa sadar meremas tangan Laisa hingga membuat wanita itu kesakitan dibuatnya. Namun sungguh Alex tak dapat mengendalikan dirinya saat ini, jantungnya semakin berpacu dengan aliran darahnya membuat ia dibanjiri oleh peluh yang bercucuran.


"Papa ngapain disini," tanya Laisa saat Arga kini tepat berada didepannya.


"Papa tadi nemenin rekan papa lihat proyeknya. Kamu sendiri ngapain disini," tanyanya sambil curi pandang pada Alex yang nampak sekali gugup.


"Siang om," sapa Alex menjabat tangan Arga.


"Siang nak Alex."


"Kalian kesininya bareng?"


"Ya bareng lah pah, orang aku diajakin sama pak Alex ini kesini."


"Oh," komentar Arga sambil melirik Alex.


"Ehm tadi niatnya mau nganterin pulang om habis ulangan susulan tapi ditengah jalan ada yang harus saya tinjau langsung jadi terpaksa saya mengajak Laisa kesini sebentar," gugupnya menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


"Hhaha, santai saja nak Alex. Kamu gugup banget loh ini, " tawa Arga.


"Kelihatan banget ya om?"


"Kelihatan lah, aku aja tau bapak lagi gugup sekarang. Nih sampai tangan aku diremes-remes kayak krupuk," menunjukkan tangannya.


"Kan udah minta maaf."


"Ya."


"Kalian udah makan siang," tanya Arga membelai kepala sang putri.


"Belum pah, aku nggak dikasih makan pak Alex ini. Masa aku dibiarin kelaparan, aku lapar banget papa," manjanya bergelayut pada lengan Arga.


Alex begitu panik mendengar Laisa mengadukan dirinya pada Arga, ia benar-benar lupa mengajak wanita itu untuk makan siang bersama gara-gara urusan pekerjaan yang tak bisa ditundanya tadi. Dengan panik ia mencoba sebisa mungkin menjelaskan pada Arga.


"Lapar papa," goda Laisa yang merengek pada Arga.


Alex semakin gugup, keringat membanjiri seluruh wajahnya. "Kita makan siang dulu aja yuk om."


Arga bersama Laisa tertawa terbahak-bahak melihat reaksi panik Alex karena ulah Laisa, benar-benar polos dan baik dimata Arga. Arga yang biasanya begitu selektif terhadap semua teman anaknya entah mengapa percaya dengan Alex begitu saja.


"Hhaha, jangan nakal nak," tegurnya pada Laisa.


"Bercanda pak, jangan tegang gitu napa sih pak."


Alex begitu kesal, ingin sekali ia menarik tangan Laisa dan mengurungnya dalam pelukannya. Namun itu hanya bisa ditahannya, kini ia hanya bisa tersenyum kecut dihadapan ayah juga anak tersebut.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu kita makan siang bersama aja gimana? Kebetulan rekan bisnis papa masih ada kerjaan disini."


"Kalau gitu biar saya saja om yang bawa mobilnya."


Benar-benar calon menantu yang baik juga idaman para mertua. Alex sungguh bisa merebut hati Arga yang terkenal dengan keras dan dinginnya. Namun sejujurnya bagi Alex sendiri ia juga masih tak bisa memastikan perasaannya terhadap Laisa, apa itu cinta atau hanya simpati saja.


Kini disebuat restoran ketiganya duduk bersama dalam satu meja, Alex begitu melayani Arga dengan begitu baik hingga Laisa merasa cemburu dengan sikapnya itu.


"Pak, aku nggak dituangin airnya," tanya Laisa melihat Alex menuangkan air putih pada gelas Arga.


"Punya tangan kan," bisik Alex pelan pada Laisa disebelahnya.


Arga melihat interaksi keduanya yang begitu menggemaskan hanya bisa menggelengkan kepala, tingkah keduanya begitu lucu seperti pasangan pengantin baru.


"Tuangin lah pak, papa aja bapak tuangin airnya."


"Itu kan om Arga, kamu ya tuang sendiri."


"Kan yang dari tadi nemenin bapak saya bukan papa, kenapa yang dituangin air papa?"


"Bawel banget sih cuma nuang gini aja," menuangkan air digelas Laisa.


"Kalian ini, apa kalian sedang pacaran ?"


Laisa tersedak minumannya, sedang Alex terdiam seribua bahasa. Entah apa yang harus dilakukannya dengan pertanyaan Arga yang dilontarkan pada keduanya.


"Maaf om, tapi saya tidak akan menjadikan putri anda sebagai kekasih saya."

__ADS_1


__ADS_2