Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 18


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Pagi yang begitu cerah saat Alex membuka matanya, hari ini adalah hari libur. Hari yang selalu dinantinya selama satu minggu, namun entah mengapa ia kini tak begitu senang saat minggu datang menghampirinya.


Ia yang sedari tadi begitu malas-malasan kini hanya duduk terdiam sambil memainkan ponselnya. Sudah tiga hari ia sama sekali belum mendengar kabar dari Laisa, bahkan dikampusnya hanya beredar kabar jika Laisa ijin sementara waktu karena sakit.


"Ada apa ini, kenapa gue kepikiran mulu sama cewek bar-bar itu," gerutunya.


Alex meneguk segelas air putih didepannya hingga habis tak tersisa, berusaha mengalihkan pikirannya dari Laisa yang sudah beberapa hari tak dilihatnya.


"Mending baca buku aja lah," menyalakan tv dengan chanel kesukaannya.


Suasana begitu tenang hening juga sangat nyaman, Alex begitu menikmati waktunya membaca buku dengan bahagia.


Namun mungkin waktu itu tak akan bertahan dengan lama, sebab Mike datang dengan begitu tergesa-gesa dan mengganggu waktu membacanya.


"Lex, ALex. Loe dimana," teriaknya saat memasuki rumah Alex.


Semenjak kuliah Alex memang sudah tinggal seorang diri diaparteman miliknya, hidup terpisah dengan kedua orang tuanya yang lebih sering melakukan perjalanan bisnisnya.

__ADS_1


"Akhirnya ketemu juga," teriak Mike begitu bersyukur.


"Loe ngapain sih datang kesini pagi-pagi, ganggu aja deh," kesal Alex.


"Gue kesini bawa kabar penting buat loe, sangat penting karena loe harus dengar ini," seriusnya.


"Nggak butuh, gue nggak butuh info apapun dari loe. Makasih," bangkit dan berjalan meninggalkan Mike seorang diri.


"Cewek loe mau dioperasi," teriak Mike yang berhasil menghentikan langkah kaki Alex.


"Sudah gue duga, pasti loe bakal perduli dengan cewek ini," batin Mike tersenyum senang.


Tubuh Alex tiba-tiba saja begitu kaku setelah mendengar kabar yang dibawa Mike padanya, ia tahu jika yang dimaksud Mike pasti adalah Laisa sebab Mike hanya tahu jika dirinya perduli dengan Laisa.


"Dia bukan cewek gue, dan gue nggak perduli," ucapnya dan hendak melangkahkan kakinya.


"Okelah, padahal gue mau kasih tau kalau dia kritis sekarang," gumamnya yang dengan sengaja diucapkan dengan nada begitu keras.


"Katakan," perintahnya dengan tegas.


"Katanya nggak perduli," ledek Mike.


"Loe ngomong atau gue lempar pakai buku ini," mengangkat buku yang ada ditangannya itu.


Mike menelan salivanya saat membayangkan buku yang begitu tebal jatuh dengan sangat kerasnya menghantam kepalanya. Ia segera menggelengkan kepalanya ketakutan, membuat Alex mengerutkan dahinya curiga.


"Nggak, nggak. Gue kasih tau," ucap Mike gugup.


Mike kemudian menceritakan awal mula tujuannya datang kerumah sakit, namun tanpa sengaja ia mendengar percakapan dokter dengan suster tentang seorang pasien. Dan saat Mike terus mendengarkan ia mencoba mencuri pandang pada data pasien yang sedang dilihat oleh sang dokter.


"Terus," tanya Alex dengan wajah yang sangat serius.

__ADS_1


"Sepertinya kondisi adik ipar kurang bagus, harus operasi tapi kondisinya belum memungkinkan," ucap Mike dengan mimik wajah sedihnya.


"Siapa yang loe panggil adik ipar, jangan ngawur," memukul keras kepala Mike dengan buku yang dipegangnya.


"Woy gila ya loe, bisa gegar otak nih gue gara-gara buku loe," teriak Mike pada Alex yang sudah berjalan menjauhinya.


Sedang dirumah sakit kini Shaka tengah terjaga menjaga sang adik, ia benar-benar tak bisa memejamkan matanya walau hanya hitungan detik saja. Kejadian itu membuatnya dihantui ketakutan akan adiknya.


"Kamu juga butuh istirahat nak," ucap Letta yang melihat putranya masih terjaga dengan kantung matanya.


"Aku baik-baik aja mah."


"Pulang, istrirahat. Biarkan papa yang menjaga adik kamu disini," tegas Arga.


Shaka tak bergeming, ia masih tetap setia duduk ditempatnya. Arga hanya bisa menarik nafasnya, ia tak tahu bagaimana menghadapi putranya yang begitu terluka dengan kondisi adiknya.


"Suster, gimana kondisi adik saya," Shaka yang melihat suster keluar segera berlari menghampirinya.


"Kondisinya masih sama tuan, berdoa saja agar pasien bisa segera pulih dan dapat melakukan operasinya."


Shaka hanya bisa mengusap kasar wajahnya, ia tak menyangka akan ada saat dimana ia tak berdaya melihat adiknya yang terluka.


"Bantu adikmu dengan doa," ucap Arga menepuk bahu putranya.


Shaka memeluk tubuh Arga, ia yang takut hal buruk terjadi dengan adiknya begitu tak kuasa menahan kesedihannya. Arga mengerti dengan putranya, ia juga takut hal buruk terjadi dengan anaknya tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


Namun tiba-tiba Shaka pergi menjauh dari kedua orang tuanya, disebuah taman ia mencoba menghubungi Arnez yang sedari tadi tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Halo tuan."


"Jadikan dia cacat."

__ADS_1


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...


__ADS_2