
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Wanita itu mulai menjalankan tugasnya, menggerayangi tubuh Danu dengan tangan yang berbalur sarung hitam begitu elegan. Danu terperanjat ketika merasa ada yang sedang menggerayangi dirinya, dan benar saja kini ia melihat wanita cantik tengah berada diatasnya.
Bermain dengan begitu lihainya hingga ia tak memiliki kesempatan untuk sedikit menikmati gemulai tangannya. Danu memuka matanya lebar-lebar ketika wanita itu mempermainkan miliknya yang sudah menegang.
"Oh darling, itu begitu nikmat," ucap Danu yang sudah kehilangan kontrolnya.
"Apa ini juga nikmati," tanya wanita tersebut dengan gerakan membelainya.
"Ahh, sangat-sasangat nikmat," ucap Danu.
Wanita itu mulai menyeringai sebab ternyata tugasnya begitu mudah, bahkan sangat mudah. Ia tak menyangka jika Danu akan semudah itu terangsang oleh permainan tangannya, ia tak bisa membayangkan bagaimana gilanya Danu saat ia bermain tak hanya dengan tangannya.
"Lebih dalam lagi darling," pinta Danu yang merasa akan pada puncaknya.
Namun tiba-tiba wanita itu mengelurkan jarum yang diberikan oleh Arnez tadi, dan ketika milik Danu sudah sangat tegang ia menghentikan permainannya dan segera menyuntikkan jarum itu pada milik Danu.
__ADS_1
"Akhhh, " teriak Danu kesakitan saat tajamnya jarumm itu menembus kulit kejantanannya.
"Wanita brengsek, apa yang sudah loe suntikkan," tanya Danu murka yang merasa begitu sakit pada areanya.
"Bukan apa-apa, hanya sedikit obat untuk mematikan syaraf nakal milikmua," ucap wanita itu dengan nada manjanya.
Mata Danu terbelalak, ia tak menyangka akan semakin menyiksa dirinya. Obat itu kini mulai bereaksi, rasanya begitu panas hingga terasa miliknya itu terbakar dengan api yang begitu besar.
"Akhh, tolong tolongin gue," pintanya menahan kesakitan yang begitu luar biasa.
"Ini bahkan belum cukup menebus kesalahan kamu terhadap nona muda kami," seru Arnez yang melangkah masuk kedalam ruang tersebut.
Danu yang terkejut berusaha menyembunyikan miliknya itu, pusaka yang kini sudah sangat layu dan begitu menyiksa.
"Keterlaluan, apa yang loe suntikkan ini. Kenapa rasanya begitu menyakitkan juga panas membakar," bentaknya.
"Hhaha, tidak ada. Hanya obat yang mampu menghilangkan hasrat busukmu itu," ucap Arnez dengan pandangan mata yang begitu tajam menusuk Danu.
Danu begitu menggila, tak tahan dengan kesakitan itu hingga ia kehilangan kesadarannya dengan begitu saja.
"Buang dia didepan rumahnya, jangan sampai ada orang yang melihat kalian saat membuangnya," ucap Arnez.
Shaka yang menerima kabar dari Arnez sedikit merasa lega sebab kemarahannya sedikit terbayarkan. Namun rasanya itu tak cukup membalas Danu yang membuat sang adik masih tak sadarkan dirinya.
"Ini hanya permulaannya, kita lihat selanjutnya nanti," gumamnya meremas ponsel yang ada ditangannya.
Dirumah sakit tiba-tiba saja Laisa membuka matanya, Elena segera memanggil dokter untuk datang memeriksa sang cucu. Reno begitu senang, begitu juga dengan Elena juga Mira saat dokter mengatakan jika kini mereka akan membawa Laisa kedalam ruang operasi.
Shaka bersama kedua orang tuanya bergegas kerumah sakit saat Mira memberitahu dirinya tentang kesadaran Laisa. Shaka tak hentinya bersyukur dengan keajaiban itu, ia bersumpah akan lebih melindungi sang adik mulai dari saat ini.
__ADS_1
"Kamu harus baik-baik saja dek, kakak akan selalu ada bersama kamu," batinnya menahan air matanya.
Setibanya disana ternyata Laisa sudah berada didalam ruang operasi, kini semua orang tengah dengan ketegangan masing-masing menunggu jalannya operasi tersebut.
Shaka terus berjalan kesana kemari saking gelisahnya, ia terus saja tak tenang dan merasa sudah cukup lama semuanya berada didalam ruangan.
"Boy, duduklah," ucap Arga menepuk bangku yang ada disebelahnya.
Shaka menuruti Arga dan duduk, Arga menggenggam tangan putranya memberikan kekuatan serta keyakinan jika semua akan baik-baik saja.
"Adik pasti kuat," ucapnya kepada sang putra.
"Adik harus kuat pah, dia harus kembali lagi," ucap Shaka yang sungguh tak bisa menutupi ketakutannya.
Ia menyembunyikan wajah juga air matanya didalam pelukan sang papa, sedang Arga menepuk punggung putranya berharap akan menenangkannya.
Alex yang kini sedang mengajar terkejut saat salah satu dosen masuk kedalam kelasnya dan meminta semua murid untuk membantu Laisa lewat doa nya. Jantung Alex berdetak begitu tak karuan mendengar kabar terbaru dari Laisa, entah kenapa saat ini ingin sekali rasanya ia lari dan menghamiri gadis itu.
"Cewek bar-bar loe harus baik-baik aja," batinnya.
Shaka dengan keluarganya terus berdoa dengan cemas saat beberapa suster keluar dan kembali masuk dengan kantong darah ditangannyna. Tak ingin berfikiran buruk, namun tak bisa dipungkiri jika ketakutan itu membawa pemikiran buruk dibenak mereka masing-masing.
"Shaka tenang nak, jangan sampai kamu kehilangan kendali," ucap Reno melihat sang cucu begitu gemetar ketakutan.
"Opa," menundukkan kepalanya dengan begitu frusrtasi.
"Adik kaka mohon kamu harus baik-baik saja. Please balik sama kaka dek," batinnya terus berdoa.
Sedang didalam sana Laisa juga tengah berjuang dengan kegelapannya, gelap yang terasa tanpa ujung bagi dirinya.
__ADS_1
...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...