Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 22


__ADS_3

Sudah satu minggu Laisa sadarkan diri, semua pemeriksaan atas dirinya juga menunjukkan hasil yang memuaskan. Shaka tak membiarakan adiknya melakukan kegiatan apapun selama masa penyembuhannya, bahkan makanpun harus ia sendiri yang menyuapinya.


"Kak, aku bisa sendiri tau," ucap sang adik.


"Buka mulut kamu," pintanya menyodorkan satu sendok penuh.


Dan dengan terpaksa Laisa hanya bisa menuruti sang kakak, jika tidak Shaka akan lebih gila lagi memperlakukannya. Namun ia begitu bahagia melihat kakaknya kini baik-baik saja, tak ada yang kurang dari dirinya.


"Kenapa liatin kakak gitu," tanya Shaka.


"Nggak, kakak aku kok cakep banget sih," puji Laisa.


"Tapi sayangnya jomblo karatan, " sindir Letta.


"Gimana nggak karatan ya mah, yang dilirik cuma adiknya terus sih," timpal Arga.


"Ih siapa bilang cuma lirik aku, kakak kak lagi pdkt sama kak Nakila," seru Laisa membuat Shaka menggelengkan kepalanya.


"Mama setuju kok, kamu sama dia nak," semangat Letta mendekati putranya.


Ditempat lain terlihat Alex begitu kehilangan fokusnya, ia terdiam sambil memainkan ponselnya. Mike melihat temannya yang mulai kehilangan kewarasanya, dan sebuah ide pun terpikir dibenaknya.


Mike berlari menghampiri Alex yang saat ini terdiam didepan meja makannya, berpura-pura panik ia mendekati sahabatnya itu dengan wajah cemasnya.


"Ada apa sih, loe gila ya," seru Alex saat tubuh Mike tiba-tiba saja menghantam dirinya.


"Gawat ini bro, gawat," serunya.

__ADS_1


"Gawat apa, loe putus?"


"Bukan."


"Terus apa?"


"Gawat ini," serunya lagi lalu mengambil air minum milik Alex.


"Duduk deh, ngomong yang bener."


Mike baru saja duduk dikursinya, ia seolah mengatur nafasnya yang begitu tersenggal-senggal.


"Laisa nggak ada," ucap Mike.


Alex bangkit dan menggebrak mejanya, ia begitu panik dengan peluh yang mulai bermunculan diwajahnya. Tangannya gemetar tak bisa tertahan, bibirnya terasa begitu kelu hanya untuk sedikit bertanya.


Tanpa berpamitan atau berkata-kata Alex berlari keluar sambil membawa kunci mobilnya, Mike yang terkejut beruntung bisa mengejarnya. Dengan kecepatan penuh Alex mengendarai mobilnya, hanya Laisa kini yang memenuhi pikirannya.


"Woy, slow dong. Gue belum mau mati ini," ucap Mike katakutan setengah mati didalam mobil dengan Alex.


Dan setibanya dirumah sakit ia segera berlari menuju ruang rawat Laisa, ia begitu panik hatinya begitu tak karuan saat ini. Hanya ingin melihat Laisa, itulah tujuannya.


Dan setibanya didepan pintu kamar, Alex mendorong pintu itu sambil meneriakan nama Laisa.


"Laisa," teriak Alex menerobos masuk begitu saja.


Tubuhnya begitu kaku, kini didepannya sedang menetap dirina beberapa orang yang bisa dipastikan adalah keluarga Laisa. Alex dengan susah payah menelan salivanya, menghapus perlahan keringan yang melewati pelipisna.

__ADS_1


"Ma-maaf, salah kamar," cicitnya.


"Bapak nyari saya," sebuah suara yang sangat dikenalnya, suara yang muncul dari balik tubuh laki-laki didepannya.


Yah, Laisa mencoba mengintip dari balik tubuh Shaka yang menutupinya. Semua orang juga sama terkejutnya dengan Alex saat ini, terlebih Shaka yang kini mengerutkan dahiny.


"Anda Alex Vedernal bukan," ucap Arga yang memecah kesunyian.


"I-iya om."


Arga melangkah masuk dan membawa Alex serta Mike mendekat, ia kemudian memperkenalkan siapa Alex kepada yang lainnya.


"Sebenarnya tuan Alex ini jugalah pahlawan nona Laisa tuan," ucap Arnez.


"Maksud kamu apa Nez," tanya Shaka.


"Betul tuan muda, ini adalah laki-laki yang lebih dulu datang menyelamatkan nona muda sebelum kita. Saya sebelumnya juga sudah menyampaikan keadaan ini kepada tuan Alex, bukan begitu tuan Alex?"


"Ya, benar. Kurang lebihnya saya sudah mengerti."


Shaka melangkah dan mengulurkan tangannya kepada Alex, ia hanya ingin berjabat tangan dan berucap rasa terima kasih pada laki-laki yang terlah menyelatkan adiknya. Alex menerima uluran tangan tersebut.


"Terima kasih tuan Alex, " ucap Shaka tulus.


"Dengan senang hati tuan Shaka," balas Alex.


"Jadi bapak seneng nih nolongin saya, beneran seneng atau hanya pura-pura ini," seru Laisa dengan semua tanyanya.

__ADS_1


"Gadis ini benar-benar."


__ADS_2