Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
56


__ADS_3

Arum yang sedang dalam perjalanan mengikuti mobil Alfon tak hentinya mengomel didalam mobil.


"Kemana ini si daddy mau pergi.. ???" omelnya mencondongkan sedikit tubuhnya kedepan.


"Aduh kemana sih dad?? mommy udah cantik gini masa enggak dilirik juga .." dengusnya kesal bersandar pada kursi penumpang mobilnya.


Alfon yang sudah sampai di Ferrour Grup segera memasuki gedung setelah memarkirkan mobilnya. Dengan tergesa-gesa ia menaiki lift menuju ruangan Arletta saat ini yang dulunya adalah ruangan Mark Ferrour.


"Pak .. pak, bapak mau kemana .." salah seorang resepsionis yang melihat Alfon masuk begitu saja segera mengejarnya.


"Bapak tunggu.. "


"Ada apa ..??" bentaknya ketus.


"Maaf bapak ingin bertemu siapa biarkan saya yang memanggilkannya.. "


"Saya nggak butuh bantuanmu itu, minggir..!!" dengan kasar Alfon mendorong bahu resepsionis hingga terjungkal kebelakang.


"Pak tunggu pak .." teriaknya sambil berusaha bangkit.


Namun lift yang membawa Alfon sudah terlanjur tertutup. Dengan segera ia kembali ke meja resepsionis dan menghubungi sekretaris Arletta.


Namun bersamaan dengan itu keluarlah Alfon dari lift dengan raut wajah tak bersahabat. Dengan terburu-buru ia mematikan telpon dan menghadang Alfon.


"Maaf bapak siapa ya.?"


"Minggir!!"


"Maaf pak, tidak ada yang boleh bertemu dengan atasan saya.."


"Saya pamannya, jadi saya berhak menemui keponakan saya!!!"


Arletta yang kebetulan sedang memeriksa beberapa file tak mendengar suara keributan yang berasal dari luar ruangannya.


"Maaf pak, selain yang sudah membuat janji dilarang menemui atasan saya.!"


Alfon sangat marah hingga mendorong kasar tubuh sekretaris Arletta hingga membentur tembok dan pingsan.

__ADS_1


"Mati saja kau!!"


Brakk !!


Dengan kasar Alfon membuka pintu dan membantingnya hingga tertutup. Arletta yang berada didalam sangat terkejut mendapati kehadiran pamannya dikamtornya.


"Untuk apa paman datang kemari.." Arletta yang gugup berusaha menahan kegugupannya hingga meremas ujung roknya.


"Tentu saja ingin melihat keponakan sialanku ini!!!!" Alfon yang sudah diselimuti kemarahan segera menghampiri Arletta dan menarik kerah bajunya, memaksa Arletta untuk berdiri.


"Uhukk,, uhukk .. le lepaskan paman.." seru Arletta terbata-bata.


"Melepaakan anak sialan sepertimu ??? tidak akan!!"


Plakkk ..


Satu tamparan lolos mengenai wajah mulus Arletta hingga meninggalkan bekas merah. Namun satu tangan Alfon masih kuat mencengkeram kerah baju Letta.


"Aku harus gimana, aku nggak bisa diam aja! kandunganku bisa dalam bahaya .." batin Letta ketakutan memikirkan calon buah hatinya.


Arga yang sedari tadi sudah kembali dari kantor Arletta terus merasakan cemas pada dirinya, bahkan ia tak mendengarkan ketika semua staff nya sedang memberikan laporan kepadanya.


"Hmm, ada apa ???" kagetnya.


"Maaf pak, kami sudah selesai memberikan laporannya untuk minggu ini.. " lapor Lusi.


"Oh iya, kalian bisa lanjutkan kerja kalian dan tolong kirimkan soft copy nya ke email saya ya. ."


"Baik pak, kalo begitu kami permisi.."


"Hmm .."


Selepas kepergian anak buahnya, Arga terlihat termenung sendiri diruang meeting. menopang dagu, Arga berusaha menelpon Letta istrinya.


"Kenapa nggak diangkat sih.." kesalnya menekan mekan layar ponselnya.


Sedang diruangannya Seruni terkejut saat melihat 2 orang satpam bertubuh besar sedang berlari melintasi ruangannya.

__ADS_1


"Pah .. ada apa,??" tanyanya saat melihat Ilham melintasinya.


"Ada Alfon diruangan Letta!!" serunya panik.


Lalu keduanyapun bergegas menuju ruangan Letta diujung. Namun kondisi Arletta kini sedang tak baik-baik saja, kedua sisi pipinya memerah akibat tamparan Alfon bahkan sudut bibirnya juga terlihat robek.


"Kamu sengaja kan melakukan ini!! katakan!!" teriaknya sambil menggerakkan tubuh Arletta.


"Perutku.. perutku sakit sekalii .." batinya merintih kesakitan hingga keringat dingin membanjirinya.


"Keponakan sialan!!" Dengan kasar Alfon membenturkan kepala Arletta kemejanya hingga terluka.


"Sakit paman.. " lemahnya menahan sakit diperutnya juga pusing dikepalanya.


"Sialan .. "


Brukk .. !!


Alfon melempar Arletta kelantai dengan kasar hingga membuat tubuh Letta limbung kebawah. Mata Arletta memejam menahan rasa nyeri dadi perutnya, pandangannya kini juga terlihat samar-samar.


Alfon tak memperhatikan raut wajah pucat Arletta, ia hanya ingin melampiaskan amarahnya saja. Dan saat Alfon akan kembali menyerang Arletta datanglah kedua satpam yang langsung meringkus tubuh Alfon hingga tak dapat bergerak.


"Letta .. "


"Astaga Arletta ...!!!"


"Nak bangun nak .. Letta bangun, bangun nak ini om Ilham .. " dengan sangat cemas Ilham menepuk pelan pipi Letta yang membengkak itu.


"Pah .. " panggil Seruni dengan nada tercengangnya.


Ilham mengikuti arah tunjuk dari tangan Seruni anaknya, hingga matanya membulat tatkala ia melihat ada darah yang mengalir dari kaki mulus Arletta.


"Darah .. " seru keduanya bersamaan.


____________________________


Happy reading semuanya semoga suka sama episode kali ini ya.. šŸ“š

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya dengan tekan like and votenya, juga tinggalkan kesan atau masukan kalian dikolom komentarnya šŸ‘‡šŸ‘‡


Terima kasih semuanya selamat menikmati.. šŸ˜„


__ADS_2