
Sudah hampir satu minggu Arletta dalam keadaan tak sadarkan diri, bahkan Varrel Bella juga Lio hampir setiap hari datang mengunjunginya.
Hari ini, semua bukti yang menyatakan Alfon bersalah telah diserahkan kepada pihak polisi dan tak lama mereka sudah menangkap Alfon dikantornya.
"Lepaskan saya!! saya tidak bersalah!!" teriaknya saat dua orang polisi memasukkannya kedalam sel tahanan.
"Brengsekk!! sialan, anak sial itu berani melaporkanku!!" makinya dengan amarah memuncak.
"Lihat saja! pembalasanku akan segera kalian terima!!" sinisnya dengan memukul mukul jeruji besi.
Suasana didalam kamar rawat Arletta masih sama, hanya kini Arga juga yang lainnya sudah diijinkan untuk masuk kedalamnya.
"Morning sayang.." mengecup mesra seluruh bagian wajah Arletta juga kandungannya.
"Sayang, lihat hari ini ak bawain kamu bunga matahari .. " meletakkan rangkaian bunga itu divas meja.
"Kamu tau yank, arti dari bungan matahari buat aku ..?"
"Bunga matahari adalah bunga yang patuh dan penurut kayak kamu .. yang selalu patuh dan menuruti semua keinginan suamimu ini.." candanya sambil sesekali mengecup tangan Arletta.
"Bunga matahari tumbuh mengikuti kemanapun cahaya matahari bergerak hingga tenggelam yank.. dan ak mau kita juga akan terus bergerak bersama hingga tua dan menutup mata .. " sendunya tanpa ia sadar ia juga menangis karnanya.
"Bangun yank, ku mohon bangun .. aku akan lakuin apapun asalkan kamu mau bangun ..!!" air mata yang tak mampu lagi ia bendung akhirnya tumpah juga. Dengan menyembunyikan wajahnya dibawah tangan Arletta, Arga menangis tersedu-sedu.
Tanpa Arga sadari suara tangisnya telah mengusik tidur nyenyak Arletta. Dengan perlahan Arletta membuka matanya dan merekahkan senyum dibibirnya saat mendengar ocehan sang suami.
Dengan lemahnya ia mencoba menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Arga, namun ia tak bisa. Saat Arga menegakkan badannya tanpa sadar kedua mata mereka saling berpandangan dan terkunci satu sama lain.
"Astaga gara-gara nangis mata gue jadi halu .." serunya sambil mengucek kedua matanya dan menarik ingus dari hidungnya.
__ADS_1
"Mas jorok .. " ucap Letta lemah saat melihat Arga yang biasanya hidup bersih sedang membersihkan ingusnya menggunakan lengan bajunya.
"Dikit doang.." acuhnya dan tetap membersihkan ingusnya. Namun tiba-tiba ia tersadar dengan suara yang menegurnya.
"Sayang!! astaga sayang kamu beneran udah bangun yank ???" happynya yang kemudian berlari memanggil para dokter.
"Gimana istri saya dok .. ??"
"Kondisinya sudah stabil pak, dan kini istri bapak tinggal masa pemulihannya saja.. "
"Terima kasih dok .."
"Sama-sama nyonya. Kalau begitu saya permisi.."
Arga yang terlalu bahagia sampai lupa memberikan kabar terbaru Arletta kepada keluarganya. Yang ada difikirannya kini hanyalah memiliki waktu berdua dengan istrinya.
"Iya ?" kagetnya.
"Mau sampai kapan berdiri dideket pintu ??" candanya.
"Astaga! maaf yank lupa.."
Duduk saling berpandangan membuat Arga mampu melihat wajah pucat istrinya berhias senyum yang selalu dirindukannya.
"Jangan tinggalin ak lagi yank!!" mengecup mesra punggung tangan Letta.
"Mas,"
"Ya.. "
__ADS_1
"Selama aku tidur mas nggak macem-macem kan ??" tanyanya dengan sorot mata mengintimidasi.
"Mana ada aku macem-macem. Tiap hari ak selalu mikirin kamu yang nggak bangun-bangun.." bantahnya.
"Kata Lio mas sempet gombalin rekan bisnis mas ya..??"
"Lio?? kapan kamu ngobrol sama Lio ??" herannya bertanya-tanya.
"Aku memang tidur mas, tapi aku denger loh kalo kalian bicara.." cemberutnya.
"Lio bilng apa memangnya yank.. "
"Mas bilang kalo hati mas luas .." kesalnya.
"Astaga!! Itu yang bilang temen bisnis mas, bukan mas loh.. " menepuk jidatnya. Arletta yang masih tak percaya hanya diam memanyunkan bibirnya.
"Beneran temen mas, bukan mas. Katanya hatinya itu seluas samudra yank jadi dia bisa nampung banyak wanita didalamnya gt.. " jelasnya.
"Terus maa juga sama gitu dengan rekan mas itu??" sewotnya namun masih dengan kondisi lemahnya.
"Kamu tenang saja yank!! Seluas apapun hati mas, dan sedalam apapun rasa mas .. itu hanya akan ada satu nama didalamnya, cuma Arletta Ferrour pemilik sahnya.." ucap tulua Arga menatap manik mata Arletta.
"Terima kasih mas.. andai mas tadi bilang kalo mas juga sama, aku yang bakalan mundur mas. Karena mau bagaimanapun keadaannya nggak ada wanita yang mau berbagi laki-laki bersama.." serunya dengan membelai pipi Arga.
"Nggak akan ada wanita lain diantara kita sayang, mas bisa pastikan itu.. " serunya penuh keyakinan.
"Terima kasih mas .. " senyumnya.
________________________________________
__ADS_1