Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 33


__ADS_3

Shaka bersama Nakila mendatangi alamat yang baru saja Arnez kirimkan, namun sebelum itu ia meminta Arnez untuk kembali dan menemani Mira selagi dirinya pergi.


Dan disinilah kini Shaka bersama dengan Nakila, didepan sebuah rumah yang nampak begitu sederhana namun begitu penuh suasana mencekam.


"Benar disini," tanya Nakila.


"Benar, ini alamat yang Arnez berikan. "


"Tapi rumah ini begitu sepi, seperti tak ada penghuninya."


"Tidak, dia ada disini. Sepi bukan berarti kosong, kita harus lebih waspada dengan iblis ini."


Benar saja, tak lama Shaka berucap mucullah Meya dari dalam rumahnya dengan begitu sombongnya.


Gadis itu berdiri diambang pintu dengan melipat tanganya didada, gayanya begitu menantang Shaka untuk melawannya.


"Selamat datang dirumah sederhanaku ini kak Shaka yang begitu mencintai adik-adiknya."


"Banyak omong! Loe kan yang udah ngeracunin Olla," serunya to the point.


"Hhahaha, lucu sekali kakak ini. Apa yang gadis lemah ini bisa lakukan," ucapnya dengan ekspresi menghinanya.


Shaka mengepalkan kedua tangannya, matanya teruju pada Meya karena amarahnya. Akibatnya ia tak memperhatikan sekitarnya dan kecolongan dengan rencana licik Meya.


Tiba-tiba saja mereka berdua terkepung, banyak orang-orang Meya yang keluar dan menahan Meya agar Shaka tunduk padanya.


"Bawa mereka pergi," seru Meya setelah para anak buahnya membuat keduanya tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kamu tinggallah disini, saya yakin gadis tengik itu akan datang mencari kakak tercintanya."


"Baik bos."


Meya pergi, ia pergi dengan membawa Shaka serta Nakila ikut bersamanya. Mereka memindahkan lokasi persembunyiannya untuk mengecoh Laisa. Meya begitu dendam dengan gadis yang bernama Laisa itu hingga membuatnya diliputi rasa kebencian.


...... ...


Laisa kini tiba dua jam lebih lama dari kepergian Meya, ia datang dengan Alex disisinya. Ia menatap rumah sederhana itu dengan kening berkerutnya, merasa ada yang aneh hingga Laisa begitu waspada.


"Ada apa," tanya Alex.


"Rumah ini tidak sesederhana penampilannya pak, sebaiknya kita berhati-hati."


Baru saja dibicarakan, sudah ada dua orang laki-laki yang tiba-tiba muncul dan menyerang keduanya. Beruntung Alex dapat melindungi Laisa, ia menghajar kedua laki-lki itu hingga jatuh tak sadarkan diri dibawah kakinya.


Pintu rumah tersebut perlahan Laisa buka, benar-benar sepi seperti tak berpenghuni. Namun semakin ia melangkah masuk maka ia akan menyadari jika ada seseorang yang sedang mengawasinya.


Dengan gerakan cepat Laisa mengambil salah satu vas dan melemparkannya pada sudut yang dicurigainya.


Dan benar saja, ada mata yang tengah mengawasi gerak gerik keduanya.


"Keluar," teriak Laisa.


"Hebat, tidak menyangkan keturunan Wijaya bisa sehebat itu diusia mudanya," muncullah seorang laki-laki asing didepan keduanya.


"Siapa loe," tanya Alex menarik Laisa kebelakang dirinya.

__ADS_1


"Hhahah, nggak penting siapa saya! Yang paling penting saya punya pesan dari bos saya yang harus wanita itu dengar," menunjuk Laisa.


"Turunkan tangannya itu," geram Alex yang tak suka Laisa ditunjuk dengan seenaknya.


Laisa tahu jika sebenarnya dirinyalah tujuan utamanya, Olla hanya digunakan untuk memancing dirinya keluar dari perlindungan keluarga Wijaya terutama keluar dari perlindungan Arshaka Putra Wijaya.


"Datanglah sendiri, dan hadapi gue sendiri! Satu lawan satu tanpa pembantu."


"Baik, sampaikan kepada tuanmu saya menerima tantangn itu. Tapi sampaikan juga jangan sampai dia atau siapapun menyentuh kedua kakakku itu atau kalian semua akan merasakan akibatnya," seru Laisa dengan sedikit ancamannya.


"Baik, tapi ingat itu. Hanya kamu dengan tuanku, tanpa pembantu," sambil melirik Alex yang setia berdiri disamping Laisa.


Cally dengan David tiba, ia kembali dengan putranya yang sudah sehat itu. Manggala, itulah nama anak laki-laki mereka adik dari Samira.


Bersamaan dengan itu ternyata Reno bersama denagn Elena juga tiba. Kini kelimanya datangn bersamaan menuju rumah sakit setelah mengetahui keadaan Olla.


Ada rasa marah teramat besar pada Reno dengan apa yang menimpa cucunya, rasanya tak ada habisnya para cucunya menjadi incaran para orang jahat.


Jesika memeluk erat tubuh Elena, mencurahkan semua kekhawatirannya tentang keadaan putrinya.


"Dimana Laisa dengan Shaka," tanya David setelah melihat semua keluarganya.


"Oh tidak, apa mungkin mereka mendatangi pelakunya," seru Orland.


"Maksudmu mereka tahu siapa yang melakukan ini Land," tanya Arga.


"Mereka pasti tahu pah, karena aku juga tahu siapa pelaku dibalik ini semua."

__ADS_1


__ADS_2