
Hai semua kita update lagi,
maaf ya kalau ada beberapa kata yang typo pada penulisannya itu gak disengaja kok š¤ ..
Dan semoga kalian menikmati ceritanya dan jangan lupa kalo ada apa-apa isi di kolom komentarnya šš
kalau mau kirim kado sama vote juga bisa banget..š¤£
[ JANGAN LUPA MASUKAN CERITA LETTA KEDALAM FAVORIT KALIAN, AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATENYA ] š
_______________________________________š¾
...ā...
Malam semakin larut, Cally mulai tersadar dari tidurnya. Namun saat matanya terbuka, ia tak mengenali dimana dia berada.
Ia ketakutan, tubuhnya menggigil ketakutan. Perlahan bibirnya menggumamkan nama Daniel, memanggilnya dengan lirih.
"Dok, dokter Daniel.." lirihnya ketakutan.
Namun tak kunjung ada sahutan, Cally semakin dibuat takut sebab cahaya didalam kamar hanya ada cahaya dari luar.
"Daniel .." serunya.
Cally sudah sangat takut, air matanya mulai deras membasahi wajahnya.
"Daniel.. dokter Daniel !!" Teriaknya ketakutan sambil memeluk lututnya.
Sedangkan Daniel yang sedang berkutat dengan laptopnya begitu terkejut mendengar suara teriakan Cally. Ia segera bergegas menghampirinya didalam kamar.
"Heii .. ada apa.. "serunya menyalakan lampu kamar.
Cally yang ketakutan dengan reflek berlari memeluk erat tubuh Daniel. Air matanya tumpah membasahi kemeja Daniel, bahkan tubuhnya bergetar ketakutan.
"Hai, Cally ada apa ??" Tanya Daniel panik.
"Aku takut, aku takut sendirian.." cicitnya masih membenamkan wajahnya didada Daniel.
"Tenanglah, ada saya disini.." memeluk erat tubuh Cally.
Dan saat dirinya tenang, Cally baru tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dengan perlahan ia melepas pelukan dokter Daniel sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf.." cicitnya malu.
"Tenanglah, sebaiknya kita duduk dulu diluar.." ajaknya menggandeng tangan Cally keluar.
Daniel menyalakan lampu ruangannya, kemudian ia mendudukan Cally disofa. Daniel mengambil dua buah kotak makan, dan dibawanya ke sofa.
"Makan dulu ya.."
"Makan ?? " linglung Cally.
"Iya, ini sudah malam. Kamu harus makan atau anak kamu bisa kelaparan.."
Cally begitu terkejut saat melihat jam dinding dan sudah menunjukkan pukul 19.15.
"Astaga aku tidur lama banget .." serunya.
"Maaf ya dok, " ucap Cally merasa tak enak hati.
"Tenanglah, lagian saya juga senang. Karena saya jadi ada temen lemburnya.. " tulusnya berucap dengan senyuman.
Sesaat Cally begitu terpana dengan senyum tulus yang Daniel berikan untuknya. Saking terpesonanya, tanpa sadar Cally juga ikut tersenyum.
"Makanlah.. " menyodorkan kotak.
Dengan lahap keduanya pun menikmati makan malam sederhananya. Baru kali ini Cally merasakan nasi kotak, dan seumur hidupnya baru kali ini ia merasa senang bisa memakannya.
"Kenapa ??" Tanya Daniel yang melihat Cally tersenyum sedari tadi.
"Seneng.."
"Karena ??"
"Karena aku bisa makan nasi kotak ini ??"
"Memangnya kamu tidak pernah memakan nasi kotak ??"
"Tidak .."
__ADS_1
Daniel begitu terkejut mendengar penuturan Cally. Dalam fikirannya kini jelas kehidupan mewah Cally selama ini.
Namun keduanya menikmati makan malam sederhana itu dengan suka ria, terlebih Cally yang terus tersenyum bahagia.
Tepat pukul 20.00 dokter Daniel mengajak Cally untuk pulang bersamana. Cally memegangi ujung gas Daniel.
"Kenapa ??" Tanya Daniel.
"Takut.." cicitnya.
Daniel pun mengambil inisiatif menggandeng tangan Cally dan dimasukkan kedalam saku jas nya.
Suasana malam yang gelap serta semilir angin dingin membuat suasana begitu romantis. Daniel dengan jelas memperlakukan Cally dengan begitu istimewa.
*
Dimalam yang sama Arga juga tengah terjaga menunggu Arletta yang tak kunjung sadar. Lukanya tak cukup serius, sehingga Arga tak perlu begitu khawatir lagi.
"Sayang bangunlah.." pinta Arga sambil menggenggam tangan Letta.
"Aku janji aku nggak bakal marahin kamu yank, tapi aku mohon bangunlah.." lanjutnya.
Tanpa Arga sadari ternyata Arletta sudah sadar semenjak tadi. Namun rasanya ia takut untuk membuka matanya, ia takut jika harus menerima amukan suaminya itu.
"Janji ??" Tanya Letta.
"Iya sayang aku janji, aku janji nggak akan marah-
Arga yang tersadar segera mengangkat wajahnya dan menatap wajah Letta yang juga sedang menatapnya.
Arga bangkit dari duduknya dan berhambur memeluk tubuh istrinya itu. Arga begitu bersyukur istrinya bisa tersadar tanpa kurang satu apapun.
"Terima kasih sayang, terima kasih.." harunya menghujani wajah Letta dengan ciuman.
"Sayang cukup.." seru Letta.
Arga segera menegakkan tubuhnya. Ia menatap geram pada Letta didepannya kini. Menyadari situasinya, membuat Letta mencoba berpura-pura.
"Ahh, kepalaku sakit sekali. Sebaiknya aku tidur dulu.." mencoba memiringkan tubuhnya.
"Arletta Ferrour, nyonya Arga Wijaya!!" Serunya.
"Tau apa kesalahan kamu ???"
"Tadi udah janji nggak akan marah-marah.." memelaskan wajahnya.
"Apa sekarang saya terlihat seperti marah-marah ????"
"Tidak.." cicitnya takut.
"Kamu dengar ini baik-baik, ini adalah pertama dan terakhir kalinya kamu bertindak sendiri tanpa saya.."
"Iya.."
"Jangan cuma iya iya aja !!!"
"Terus gimana dong, ??"
"Janji dulu, kalau perlu bersumpah.. "
"Iya saya Arletta berjanji tidak akan membuat keputusan sendiri tanpa persetujuan suami saya tercinta berana Arga Wijaya.." seru Letta.
"Bagus, kemarilah biarkan aku memelukmu sayang.." seru Arga memeluk erat tubuh istrinya.
"Kamu tahu gimana takutnya aku kehilangan kamu ?? Gimana gilanya aku saat melihat ada darah ditubuh kamu.."
"Maaf ya.."
"Rasanya ingin sekali aku bunuh mereka semua yang ada disana, aku patahkan tubuh mereka berkeping-keping jadinya. ."
"Aku gak akan ulangin lagi sayang, tenang ya.. " membelai dada Arga agar lebih rileks.
"Yank .."
"Hmm.."
"Kamu tau kita dimana kan ??"
"Tau lah, kita dirumah sakit.. "
__ADS_1
"Jadi hentikan tanganmu dan jangan menggodaku.." seru Arga memperingati.
Arletta melupakan satu hal dari suaminya ini, jika Arga adalah laki-laki dengan libido yang sangat besar. Hanya belaian sedikit saja ditubuhnya dapat membuatnya sangat terangsang.
"Ah maafkan tanganku yank.." cengengesannya menatap tanpa dosa pada Arga.
Arga tak menghiraukannya, ia tiba-tiba saja masuk kedalam selimut Letta dan berbaring bersama Letta diatas ranjang.
"Nanti ada suster.."
"Udah malam suster lagi tidur.."
"Aiss sayang bener-bener ya.."
"Tutup mata kamu istiratah, besok kita pulang.."
Dan dengan patuh Letta menuruti ucapan suaminya, sambil memeluk erat tubuh Arga dirinya terlelap dalam tidurnya.
_____________________________________________
Pagi yang cerah, namun tak secerah raut wajah Loise yang terus memancarkan aura kemarahannya.
Ia begitu murka saat mengetahui jika semua anak buahnya sudah berhasil diringkus oleh Arga juga teman-temannya.
"Kalian fikir kalian sudah menang ?? Kalian salah..!!" Gumam Loise.
"Seorang Loise tidak akan begitu saja kalah apalagi dengan anak kemari sore macam kalian semua.. "
"Dan Letta, saya terlalu meremehkan anak itu. Lama tak berjumpa ternyata sudah mahir lempar pisau.." sinisnya mengingat saat Letta melemparinya dengan belati.
"Kita akan lihat siapa yang akan jadi pemenangnya, kita lihat siapa yang akan tertawa diakhir cerita .." marahnya mengingat semua keluarga Letta.
Bagi Loise kali ini bukan karena ia kalah. Namun ia lebih mengalah pada anak kecil yang sudah beranjak dewasa itu.
Kini saatnya ia menyusun rencana untuk mengalahkan anak Mark yang sudah dewasa itu. Baginya kini Letta adalah ancaman terbesarnya.
"Tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkanku!! Baik Mark ataupun keturunannya, dan hanya aku yang bisa menguasai semua kekayaan mereka !!" Ambisinya.
"Tuan Loise .." sapa anak buahnya.
"Hm, apa ada berita ??"
"Nona Letta saat ini sudah pulang kerumah nya bersama suaminya.."
"Lalu ??"
"Sepertinya mereka masih belum memulai rencana apapun tuan.."
"Bagus, terus awasi mereka terutama Letta. Saya mau setiap gerak gerik Letta selalu ada laporan.."
"Baik tuan "
"Dan juga cari tahu, dimana Cally saat ini berada. Anak itu harus segera menandatangi surat pemindahan kekuasaan perusahaannya.."
"Baik tuan.. "
Lalu setelah anak buahnya pergi, Loise yang masih berada diatas ranjangnya bergerak ingin turun.
Namun bahu juga betisnya terasa begitu sakit saat ia baru mencoba menggerakannya. Wajahnya memerah menahan sakit juga amarahnya.
"Brengsek .." menahan kesakitannya.
"Sakit sekali bahu dan kakiku .." memegangi bahunya.
Dengan perlahan ia kembali keposisinya semua, yaitu diam bersandar pada kepala ranjangnya. Kini Loise tak bisa hidup bebas, karena ia tahu jika pasti Reno juga anak buahnya akan mencarinya terus.
Satu-satunya cara agar dia bisa hidup adalah bersembunyi, paling tidak hingga luka dibahu juga betisnya sembuh.
"Anggap saja ini waktu untuk kalian saling bersenda gurau, karena pada akhirnya nanti hanya akan ada air mata darah diantara kalian semua.."
......š¦©......
Terima kasih sudah mau mampir membaca dan semoga kalian suka .. š
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di like and kolom komentarnyaš, tekan favorit agar tidak ketinggalan lanjutannya.
Tinggalkan juga kritik saran kalian agar ceritanya lebih seru nantinya.š¤
......HAPPY READING GUYS,......
__ADS_1
...šš...