Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
150


__ADS_3

Daniel begitu marah, ia geram saat melihat Arletta tersenyum dihadapannya tanpa menjawab pertanyaannya.


"Singkirkan tanganmu dari istriku," bentak Arga. Namun Daniel tak menggubrisnya, ia masih mencengkeram dan menatap Letta tajam.


"Saya bilang lepaskan tangan anda dari istri saya dokter Daniel!"


Ditariknya paksa tangan Daniel lepas dari kedua bahu istrinya. Arga begitu murka saat ada laki-laki berbuat kasar dengan istrinya, bahkan didepan wajahnya sendiri.


"Loe bener-bener udah nggak anggap gue ada ya," kesal Arga menyembunyikan Letta dibalik tubuhnya.


"Sorry Ga, tapi gue perlu bersikap tegas dengan istri loe."


"Siapa loe, berani sekali bersikap tegas sama istri gue!"


"Tapi Ga-


"Nggak ada siapapun yang berhak berlaku tegas dan kasar terhadap istri gue, apalagi loe yang nggak ada hubungan apapun sama dia!"


"Tapi dia udah bawa Cally pergi dari gue," murka Daniel yang juga tak terima.


"Bukan saya yang membawa pergi Cally, tapi Cally sendiri yang pergi atas kemauannya," batah Arletta dengan begitu kesal.


"Jangan bohong loe ya," Daniel menunjuk Letta dengan begitu geram.


"Singkirkan tangan loe," menepis kasar tangan Daniel yang tepat didepan wajah Arga.


"Cukup," seru Reno yang sudah tak tahan melihat perdebatan ketiganya.


"Kalian bertiga duduk!"


"Papa bilang duduk semua," bentak Reno saat tak ada yang menuruti kata-katanya.


Arga membawa Letta duduk disebelahnya, sedang Daniel ditarik oleh Orland untuk duduk disebelahnya sedikit menjauh dari Arga juga Letta.


Suasana begitu tegang saat tak ada satupun yang membuka suaranya. Jesika berulang kali bertukar pandang dengan Seruni yang juga penasaran.


"Siapa yang mau jelasin ada masalah apa ini," tanya Reno menatap ketiganya bergantian.


"Aku sendiri juga gak begitu paham pah sama masalah mereka," seru Arga menggenggam tangan istrinya.


"Gimana sih kamu ini," ucap Elena pada anaknya.


"Saya hanya ingin tahu dimana Letta menyembunyikan Cally om," ucap Daniel pada akhirnya.


"Saya tidak pernah menyembunyikan Cally, dia sendiri yang pergi atas kemauannya sendiri," sanggah Letta yang tak terima dengan tuduhan Daniel.


"Tapi tetap saja loe tau dimana dia kan!"


"Kalaupun gue tau gak akan gue kasih tau."


"Om, om lihat sendiri kan. Letta tau om, tapi dia gak mau kasih tau aku," adunya menatap Reno.


"Tunggu sebentar, papa ini nggak tau sebenarnya ada masalah apa antara kalian bertiga," seru Reno yang kebingungan.


"Papa tanya sendiri, bagaimana bisa ada laki-laki yang mengaku cinta tapi membiarkan wanitanya hancur terhina oleh keluarganya sendiri," sindir Letta menatap tajam Daniel yang tertunduk dengan ucapannya.


"Daniel," panggil Reno meminta penjelasan.


"Om, bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya-


"Hanya tidak bisa membela wanita karena takut," seru Letta.


Ditatapnya tajam Letta yang tengaj tersenyum padanya. Daniel begitu kesal dengan tingkah Letta, ia bahkan tak bisa mendapatkan info apapun tentang wanitanya.


"Turunin pandangan loe dari istri gue," tak terima Arga.


"Cih."


"Ada apa ini Daniel," tanya lagi Reno dengan nada seriusnya.


"Hanya kesalahpahaman aja om," kilahnya.


"Tidak mungkin hanya salah paham kalau sampai membuat Cally pergi Niel," sahut Elena yang merasa ragu dengan jawaban Daniel.


Sebelum Daniel menjawab, tiba-tiba saja masuk seorang perempuan dengan langkah angkuhnya.


"Daniel," panggilnya dengan suara lantangnya.


"Mimi," kaget Daniel saat melihat mimi nya datang menemuinya.


"Bagaimana kerja kalian, kenapa orang asing bisa masuk dengan seenaknya saja kerumah saya!"


"Maafkan kami tuan, " sesal kedua penjaga rumahnya.


"Keluar," perintah Arga.

__ADS_1


"Maaf, tapi saya kesini hanya ingin menjemput anak saya."


"Jadi anda mimi nya dokter Daniel, orang yang telah menghina saudara saya hingga membuatnya terluka," sinis Letta menegankkan tubuhnya.


"Saya tidak pernah menghinanya, saya hanya menyatakan fakta saja tentang dirinya."


"Angkuh sekali anda ini nyonya," seru Letta.


"Katakan dimana kesalahan saya. Benar bukan dia hamil diluar nikah ? Dia juga hanya bisa membuat anak saya dalam bahaya saja. Bener-bener ****** yang sempurna," sombongnya.


"Jaga ucapan anda nenek tua," teriak Letta marah saat Cally dihina.


"Nenek tua! Berani sekali mulutmu itu, mau saya robek itu mulu."


"Sebelum anda merobek mulut istri saya, sudah saya patahkan terlebih dulu tangan anda!"


"Arga, dia nyokap gue. Jangan keterlaluan," bela Daniel.


"Pergi kalian berdua dari rumah gue, kami tidak menerima orang-orang sombong macam kalian," usir Arga yang murka.


Malam mulai larut, namun Cally tak kunjung bisa memejamkan matanya. Letta menghubunginya, ia menceritakan semua yang terjadi dirumah sore tadi.


Hatinya sakit mendengarnya, dan keputusannya untuk pergi kini makin bulat. Ia tak lagi ingin kecewa.


"Udah malam nanti kesambet setan loh," tegur Sarah yang melihat Cally duduk melamun ditangga rumah kayunya.


"Loe sendiri udah malam masih keluyuran aja," balas Cally dengan jutek.


"Gue habis cetak foto-foto kita tadi kali."


Tanpa permisi Sarah langsung duduk disamping Cally, memberikan buku album ke pangkuannya.


"Kalau punya masalah itu dikeluarin, jangan dipendam karena bisa bikin makin luka loh."


"Sok tau."


"Bukan sok tau, tapi itu nyatanya. Luka, semakin dipelihara hanya akan semakin bikin sakit aja."


"Ya terus," sahut Cally dengan mata fokus menatap foto-fotonya.


"Keluarin, loe buang rasa sakit loe."


"Udah kok, cuma sekarang gue cuma mau pergi aja ."


"Mau ikut gue nggak ?"


"Maksud loe apa?"


"Loe bilang mau pergi kan? Gue tau maksudnya loe mau ninggalin semuanya kan."


"Terus," heran Cally.


"Daripada loe kabur sia-sia mending kabur sama gue, jadi model gue dan menghasilkan uang," tawar Sarah begitu antusias.


Cally hanya diam, ia termenung memikirkan jawabannya.


"Gue gak maksa kok, loe boleh fikirin itu semua."


...***...


Pagi hari saat mentari masih mempersiapkan diri, Cally sudah tiba kembali di Jakarta didepan rumah Arga.


"Cally, " peluk Letta yang merindukannya.


"Ta, lebay banget deh. Gue juga baru pergi beberapa hari aja," seru Cally melepaskan diri dari pelukan Letta.


"Astaga pagi-pagi buta udah ribut aja deh," seru Jesika berjalan sambil mengucek kedua matanya karena masih mengantuk.


"Pagi Jes," sapa Cally pada Jesika.


"Cally, " seru Jesika berhambur memeluk tubuh Cally dengan erat.


"Sama aja ini mah," ucap Cally yang begitu pasrah dengan kelakuan Letta juga Jesika yang terus memeluknya.


Saat mentari keluar menghangatkan buminya, Cally juga tengah menyibukkan diri dengan memasak sarapan untuk semua orang dirumah.


"Kapan kamu pulang nak," sapa Elena saat melihat Cally sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.


"Tante, " memeluk Elena.


"Semua baik-baik saja kan nak," Elena membelai sayang kepala Cally yang mengangguki pertanyaannya.


Pagi yang begitu hangat saat semuanya menikmati sarapan bersama-sama. Cally begitu senang bisa berada ditengah-tengah mereka semua.


Namun itu tak berlangsung lama saat tiba-tiba saja Daniel datang menemuinya. Suasana nampak canggung, Cally hanya diam begitu juga dengan Daniel.

__ADS_1


"Pergilah kalian berdua, selesaikan masalah kalian."


Reno tak ingin masalah ini menjadi berlarut-larut. Dimintanya keduanya untuk segera pergi menyelesaikannya.


Ditaman belakang, Daniel menatap Cally yang hanya diam membelakanginya.


"Cally, " sapa Daniel.


"Aku tau aku salah karena nggak ngejar kamu," lanjutnya.


"Jadi menurutmu hanya itu kesalahan kamu," sinis Cally masih membelakangi Daniel.


"Iya."


"Lalu menurutmu kamu benar saat hanya diam saja ketika mereka menghinaku."


"Kamu salah paham, mereka nggak bermaksud menghina kamu. Mereka hanya menyatakan fakta saja," seru Daniel dengan pembelaannya.


Cally terkejut mendengar ucapan Daniel, hatinya sakit mendengar laki-lakinya berucap demikian.


"Benar, aku memang hamil diluar nikah. Benar memang aku jahat, benar memang hanya bisa membahayakanmu saja dan memang benar aku cuma wanita ******!"


"Bukan itu, Cally dengarkan aku."


Cally hanya diam, namun ia tengah mencoba menghubungi seseorang lewat sambungan telponnya.


"Aku terima tawaran kamu, siapin tiketnya dan kita pergi."


"Cally," teriak Daniel saat Cally pergi meninggalkannya.


Letta menahan Daniel saat akan mengejar Cally masuk kedalam kamar. Dengan bantuan penjaga, mereka membawa Daniel keluar secara paksa.


Cally berderai air mata saat mengemas kembali pakaiannya. Letta paham betul bagaimana sakitnya Cally, ia hanya diam mendukung apapun keputusannya.


"Ta, gue harus pergi," ucap Cally memeluk erat tubuh saudarinya itu.


"Loe mau kemana ?"


"Gue punya temen namanya Sarah, gue bakal ikut dia sebagai modelnya ke Amerika," melepaskan pelukannya.


"Gue bakal siapin semua keperluan loe disana," sahut Arga yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar.


"Thank's Ga. Aku nitip mommy ya disini, juga perusahaan daddy," pintanya menggenggam tangan Arletta.


"Tentu aja, tapi ingat ya kamu harus kembali."


"Tentu aja, "senyum Cally yang begitu bersyukur memiliki Letta sebagai saudaranya.


Semua orang mengantarkan Cally didepan rumah, hanya Arga juga Letta yang pergi kebandara mendampingi Cally.


"Ingat kasih kabar tante ya setelah disana."


"Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa hubungin om."


"Baik-baik disana, gue tengokin kalo lagi bisnis disana."


"Kalau sukses jangan lupa ajakin."


Dan begitulah mereka semua melepas kepergian Cally, membiarkan ia pergi untuk menenangkan diri.


Sesampainya dibandara, Sarah sudah menunggu kedatangannya. Cally memperkenalkan ketiganya, Arga juga memberikan semua file atas kepemilikan apartemen yang nantinya Cally tempati.


"Titip Cally ya, hubungin gue kalau ada apa-apa," ucap Letta pada Sarah.


"Tentu aja, loe tenang disini karena dia akan baik-baik aja sama gue," seru Sarah percaya diri.


"Ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa telpon aja disana," memberikannya pada Sarah sebuah kartu namanya.


"Baik-baik ya disini Ta, aku bakal kangen banget sama kamu," memeluk erat tubuh Letta yang sedang berurai air mata.


"Jangan nangis," menghapus air mata Letta.


"Ga, titip Letta ya," memeluk erat tubuh Arga.


"Tentu aja, jangan khawatir."


Letta terus memandangi kepergian Cally, hatinya berat harus melepas Cally tiba-tiba. Namun ini keputusan yang harus ia dukung untuk saudaranya.


"Dia akan baik-baik aja," seru Arga menenangkan istrinya.


Arga memeluk tubuh istrinya, berjalan meninggalkan bandara.


"Aku melepasnya untuk terbang menikmati indahnya awan, tapi aku juga mengingatkannya akan indahnya rumah tempat ia bersemanyam," batin Letta menatap keluar jendela mobilnya.


"Semua telah usai, kini aku hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Terima kasih karena selalu ada buat kami, salam rindu selalu dari kami yang selalu merindu."

__ADS_1


...—END—...


Terima kasih buat semua dukungan dan suportnya selama ini, pamit dulu untuk keluarga Arga ya. Jangan lupa mampir di "Terjebak Cinta". ❣


__ADS_2