Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 14


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Shaka terpaksa membawa adiknya ke rumah sakit, disana Laisa diikat diatas ranjang karena terus memberontak dengan sangat kuat. Bahkan psikiater yang selama ini menanganinya kesusahan menenangkan Laisa yang histeris ini.


"Dok, apa kasih obat penang lagi aja dok. Jangan ikat adik saya seperti ini," pinta Shaka yang begitu tak tega dengan adiknya.


"Jangan, itu bisa membunuh adik anda tuan muda. Kali ini adik anda benar-benar butuh kontrol emosinya."


Shaka mengusap kasar wajahnya, ia begitu tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Ia keluar dan melampiaskan amarahnya dengan memukul-mukul tembok rumah sakit. Nakila begitu tak tega, ia menghentikan Shaka dan menariknya kedalam pelukannya.


"Tenangkan diri kamu Shaka, yang adik butuhkan adalah kamu yang kuat," ucap Nakila membelai punggung Shaka.


"Aku benar-benar nggak becus jadi kakak, aku udah biarin adik aku kembali hidup dalam traumanya."


Nakila mengurai pelukannya, mensejajarkan wajah kedauanya sambil merapikan rambut Shaka yang begitu berantakan.


"Percaya semua akan baik-baik saja. Dia pasti kuat karena kakaknya juga kuat demi dia."


"Shaka," teriak Arga dari kejauhan.


Shaka menegakkan tubuhnya dan bersiap menyambut kedatangan orangtuanya. Arnez menarik Nakila agar sedikit menjauh dari tubuh tuannya, karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Arga datang dan langsung mencengkeram kerah baju Shaka anaknya, ia yang diliputi kecemasan tak bisa berfikir dengan jernihnya.


"Apa yang terjadi dengan adikmu, kenapa dia bisa kambuh sampai separah ini!"


"Tenangkan dirimu sayang," ucap Letta menahan tangan suaminya.

__ADS_1


Bukan bermaksud menyalahkan hal ini terhadap Shaka sebagai kakaknya, tapi Arga punya cara tersendiri untuk menahan hasrat berbahaya yang telah ditidurkan selama beberapa tahun belakangan ini.


(flash back on)


Semua itu bermula saat Laisa baru saja masuk sma, karena loncat kelas akhirnya Laisa lebih dulu lulus dari pada Mira yang seusianya. Awalnya semua orang berbahagia dengan hal itu namun senyuman dan tawa itu memudar ketika Laisa pulang dengan begitu kacaunya.


Mereka tak mengira jika Laisa akan mengalami pembullyan disekolah barunya, disana tidak ada Mira yang selalu membantunya membuat Laisa tak ingin membuat masalah yang akan merugikan dirinya.


Namun fikiran itu semakin membuat mereka membullynya karena dianggap lemah, suatu ketika Laisa pulang dengan seragam compang-camping serta rok yang robek dimana-mana. Darah Shaka mendidih melihat kondisi adiknya, ia yang selama ini diam kini tak dapat menahan gejolak dalam dirinya.


"Akh, brengsek!"


"Boy tenang," ucap Arga menenangkan putranya.


"Bagaimana kau bisa tenang jika adikku dilecehkan seperti ini pah, bagaimana!"


"Papa tahu, kita akan tempuh jalur hukum untuk hal ini. Mereka masih dalam perlindungan boy."


"Hem. Papa tahu, aku sebenarnya sudah tahu siapa-siapa saja yang berani melukai adikku. Tangan mereka terlalu kotor untuk dibiarkan dalam kondisi sehat-sehat saja," ucapnya menyeringai.


Arga juga Letta terkejut melihat sorot mata membunuh pada putranya, ada yang berbeda dari Shaka tapi keduanya tak tahu itu apa. Namun sorot mata itu membuat Letta begitu tak karuan, ada perasaan takut yang datang bersamaan dengan rasa cemasnya.


Shaka yang terlalu emosi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, dalam pikirannya kini hanya ingin menemukan para bajingan yang berani menyentuh adiknya.


Tibalah Shaka disebuah gudang yang ternyata markas mereka, kakak kelas yang mengerjai Laisa.


Brug,


Shaka menendang pintu hingga menimbulkan suara dentuman yang begitu keras. Semua orang didalamnya begitu terkejut, terlebih mereka terkejut dengan kedatangan Shaka yang begitu mengintimidasi.


"Siapa loe, berani banget masuk kemarkas gue."


"Ingat, gue shaka kakaknya Laisa."


"Oh kakanya si idiot tenyata guys, hahaha," tawa semua orang mentertawakan Shaka.


"Banyak bacot," seru Shaka saat maju melawan mereka semua.


Satu banding sembilan, Shaka kalah dalam jumlah memang tapi ia lebih nggul dalam taktik yang begitu brilian. Sekali h ajar Shaka sudah melumpuhkan hampir semuanya, masih sisa beberapa ekor yang begitu menyakiti matanya.

__ADS_1


"Ber,, berhenti atau gue lapor polisi nih," ancam anak sma tersebut.


"Lapor, silahkan lapor. Karena sebelum polisi datang gue udah habisin loe."


Mereka ketakutan terhadap Shaka yang seperti kesetanan, pukulanya benar-benar sepenuh tenaga hingga meninggalkan bekas sakit juga lebab yang begitu dalam.


Krakkk,


Shaka mematahkan tangan mereka, memelintir dengan tatapan bengin hingga terdengar ketukan tulang-tulang.


"Aakkkkhhh," teriak mereka satu persatu.


Belum puas dengan itu, tiba-tiba Shaka mengeluarkan pisau dari dalam sakunya. Pisau lipat yang begitu langka didunia ini, pisau itu begitu indah hingga bisa membawamu berlumur darah. Shaka kehilangan kontrol kendalinya, ia gelap mata dan mengarahkan pisau itu pada perut anak sma tersebut.


Beruntung pisau meleset sebab anak sma tersebut menghindarinya.


Shaka naik keatas tubuh laki-laki tersebut, memainkan pisau lipatnya diarea wajahnya. Laki-laki itu begitu ketakutan hingga tanpa sadar mengompol. Shaka mengangkat pisaunya, ia sudah tak tahan dengan laki-laki bejat yang kini berada dibawah dirinya.


"Mati loe."


"Stop!"


Pisau itu terhenti diudara, Shaka terdiam ia tak tahu apa yang ia saksikan. Ia mengenali suara teriakan itu, suara yang selalu menjadi candu bagi dirinya.


"Jangan bunuh dia kak, kak Shaka tolong lepasin. Sini sama aku kak."


"Terlambat, tangan ini yang sudah berani menyentuh adik kesayanganku," menatap ngeri pada lengan laki-laki tersebut.


"Gue bakal ajarin gimana rasanya sakit yang begitu menyakitkan dari pada sebuah hinaan," lanjut Shaka.


"Akkkhhhhhh," pekik kesakitan yang memenuhi area markas. Semua tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Shaka yang selalu pendiam ternyata bisa semengerikan itu. Shaka secara berkali-kali menusukkan pisau lipatnya tepat ditangan laki-laki itu.


Jeritan kesakita, lenguhan kekejaman begitu nyaring menggoda. Menggoda untuk seger membunuhnya.


"Ini belum seberapa, tunggu saja."


(flash back off)

__ADS_1


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...


__ADS_2