Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 32


__ADS_3

Arnez pergi menyelidiki dimana saat ini Meya tinggal, meninggalkan Mira bersama Shaka dengan Nakila menemani hingga pemeriksaan Olla selesai.


Lama menunggu hingga akhirnya dokter keluar, namun penjelasan yang diberikan dokter tersebut membuat ketiganya begitu terkejut.


Olla koma, tak ada yang tahu kapan gadis itu akan kembali membuka matanya. Kini masih tak bisa dipastikan apakah nyawa Olla dalam posisi aman atau masih diambang kematiannya.


Shaka hanya bisa pasrah dan mengerahkan banyak dokter untuk merawat nyawa adiknya, ia hanya berharap Olla yang selalu ceria mampu bertahan dengan semua keadaannya.


Direstoran kini kondisi Laisa sudah baik-baik saja, tak ada rasa sakit lagi yang menghujam dadanya. Rasa panas seperti terbakar membuat Laisa hampir tak bisa menahan dirinya, beruntugn Laisa dapat mengendalikan dirinya.


"Apa sebaiknya kita kerumah sakit aja, kita cek semuanya," tawar Alex yang masih saja khawatir.


"Udah bapak nggak usah lebay deh, aku udah gpp kok."


"Benar sayang, nggak sebaiknya kita kerumah sakit aja. Kamu juga belum lama operasi kan," sambung Arga yang sama khawatrinya dengan Alex.


"Udah ya, kalian berdua nggak usah khawatri karena aku baik-baik saja," yakin Laisa.


Namun kini pandangan Arga kabur setelah membaca sebuah pesan dari putranya, pesan yang ternyata menyampaikan kondisi Olla saat ini.


Dadanya terasa amat sesak mendengar apa yang menimpa gadis cerewet dikeluarganya itu, ia benar-benar tak menyangka ada orang yang sekeji itu terhadap Olla.


"Pah, ada apa," tanya Laisa yang melihat wajah Arga pucat tiba-tiba.


"Ada apa om, apa makanannya tadi nggak enak atau gimana," tanya Alex.


Arga mengangkat wajahnya, menatap putrinya dengan tatapan penuh harap. Arga menggenggam tangan Laisa, genggaman yang begitu erat hingga mempengaruhi perasaan Laisa saat ini.

__ADS_1


"Ada apa pah, cepat katakan sama Laisa apa yang terjadi?"


Alex hanya bisa terdiam melihat interaksi ayah anak didepannya, ia juga tak mengerti apa yang sedang dibahas oleh keduanya. Sebab yang ia tahu hanyalah ikatan batin juga kepekaan antara keluarga satu sama lainnya.


"Olla koma!"


Laisa segera menarik tangannya dari genggaman Arga, ia menatap tak percaya apa yang baru saja diucapkan oleh papanya.


Olla, adiknya yang begitu ceria tidak mungkin dalam keadaan koma, siapa yang tega melukainya sedang Olla tak pernah berselisih dengan siapapun.


Dadanya terasa amat sakit, air mata deras mengalir tanpa bisa ia cegah. Memikirkannya saja sudah begitu sakit, Laisa tak bisa membayangkan bagaimana jika ia harus melihat sendiri keadaan adiknya itu.


"Olla," tangisnya menyebut nama adiknya.


"Olla papa, " tangisnya dalam pelukan Arga.


"Adikku," tangis Laisa, sedang Alex yang belum mengenal Olla hanya bisa ikut bersedih dengan keadaan saudari dari wanitanya.


.........


Olla telah dipindahkan keruang rawatnya, kini tak hanya ada Mira juga Arnez namun sudah ada Letta juga Jesika yang sedang menangisi anaknya.


Jesika tak menyangka jika akan ada hari dimana ia menangisi putrinya tanpa bisa berbuat apapun, jika bisa ditukar ia bersedia menggantikan putrinya terbaring diranjang pesakitan itu.


"Olla bangun nak, ini bubu disini. Pupu bentar lagi juga datang nak, ayo bangun," pinta Jesika menggenggam erat tangan putrinya.


"Tenang Jes, yakinlah putrimu akan baik-baik saja," seru Letta memeluk tubuh Jesika yang bergetar karena tangisnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakuin kak, apa yang harus aku lakuin kalau anakku meninggalkanku. Olla satu-satunya harta terpentingku," tangisnya memeluk tubuh Letta dengan begitu erat.


"Singkirkan fikiran itu, Olla akan baik-baik saja," tegas Letta memperingati Jesika.


Orland tiba bersama dengan Arga Laisa juga Alex, laki-laki yang bisa terlihat cuek dan konyol itu kini begitu hancur dan berantakan.


Apa yang menimpa putrinya membuat Orland begitu terpukul, ia merasa gagal dalam menjadi pupu untuk Olla anaknya.


"Sayang lihat, pupu udah datang ini. Bangun yuk nak," seru Jesika.


Semua orang begitu terluka saat melihat Orland yang biasa konyol kini menangis tersedu-sedu didepan tubuh putrinya, putri semata wayangnya yang begitu amat dicintainya itu.


Orland hancur, ia merasa gagal menjaga putrinya sendiri, ia bersumpah untuk membunuh pelaku yang tega meracuni putrinya.


Laisa tak sanggup melihat Olla, ia tak sanggup melihat Olla yang ceria kini terbaring tak berdaya diatas ranjang pesakitan dengan berbagai alat menempel ditubuhnya. Laisa tak berani mendekat, ia hanya berdiri didepan pintu tak berani lebih dekat dan melihat dengan jelas kondisi adiknya.


Arga juga Letta berusaha membawa Laisa untuk lebih dekat dengan Olla, namun Laisa selalu menepis tangan kedua orangtuanya dan tetap berdiri ditempatnya.


Ia melihat kesekelililngnya, tak ada Shaka disana dan tak mungkin Shaka tak tahu keadaan Olla saat ini.


Laisa menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan kakaknya, ia keluar dari kamar dan menghubungi anak buah kakaknya tersebut. Alex dengan setia terus mengikuti wanitanya, ia tahu jika ini keadaan yang begitu berbahaya bagi wanitanya maka dari itu ia ingin selalu berada disampingnya.


"Apa? Berikan alamat lengkapnya, jangan katakan apapun pada siapapun tentang ini," seru Laisa dari balik telponnya.


"Mau kemana," tahan Alex pada tangan Laisa saat gadis itu bersiap untuk pergi dari hadapannya.


"Bapak ngapain disini, sebaiknya bapak pulang saja."

__ADS_1


"Nggak! Saya akan tetap bersama kamu, menjaga kamu dan memastikan keselamatan kamu!"


__ADS_2