Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 38


__ADS_3

"Panggil aku Ara, karena begitulah suami juga mertuaku memanggilku."


"Dan kami adalah kenala suami anda dari Indonesia," seru Arga.


"Tenang saja, keponakan tersayangku ini sudah menceritakan semuanya. Biarkan saya membantu kalian kali ini, tapi saya butuh imbalan untuk itu."


"Bibi," panggil Alex yang terkejut dengan ucapan bibinya.


Arga mengangkat sebelah tangannya, ia meminta Alex untuk tetap tenang sebab ia bersedia melakukan apapun untuk ini.


"Apa yang bisa saya berikan untuk bantuan ini nyonya Ara."


"Sesuatu yang mungkin merepotkan tuan Arga juga keluarga tentunya."


Ketiganya saling bertukar pandang, ada rasa penasaran dengan apa yang saat ini dimaksud dengankan Ara kepadanya. Namun Arga bertekat akan memberikan apapun untuk bantuan ini.


"Katakan," ucap Reno.


"Saya hanya ingin kalian menerima keponakan tersayangku ini sebagai menantu keluarga anda."


"Astaga bibi," seru Alex terkejut bercampur malu.


Bagaimana bisa bibinya Ara itu menggunakan cara ini untuk membantunya memenangkan hati keluarga Laisa. Ia kini rasanya tak berani mengangkat kepalanya tegak, hanya bisa pasrah menundukkan kepalanya.


Arga menepuk kepala Alex beberapa kali, ia tak menyangka jika imbalan yang diinginkan Ara adalah hal ini.

__ADS_1


"Tenang saja, sebelum sampai disini kami sudah membicarakan masalah ini dengan keduanya."


"Karena semua sudah sepakat, maka biarkan anak laki-lakiku ini kembali ke Indonesia. Rasanya percuma menahan raganya disini sedang nyawanya bersama menantu saya," seru ayah Alex.


"Hentikan pah, itu memalukan," protesnya.


"Pergilah, mama sudah memesankan tiket penerbangan dua jam lagi. Dan kita juga harus segera bergerak mengunjungi tuan Edo."


Semua orang mulai bergerak menuju rumah sakit jiwa dimana Edo ditahan disana, sebelum itu Alex memperingati semuanya tentang siapa yang saat ini ada dibelakang Meya melindunginya. Dan benar saja, baru tiba rombongan mereka sudah lebih dulu dicegat oleh lima orang berbaju hitam.


"Inilah tameng Meya," seru Ara dengan mata yang tak lagi terkejut dengan pemandangan didepan matanya.


"Kalian tetap didalam, biarkan saya yang turun," seru Arga.


Ara begitu terkejut, ia tahu bagaimana kejamnya mereka yang selalu menjaga Meya sesuai perintah tuannya, sekarang Arga turun dan bertindak seorang diri menghadapi kelima orang tersebut. Ingin sekali rasanya ia turun dan menolongnya.


Arga mencoba bernegosiasi dengan kelima orang tersebut namun buntu dan berakhir dengan perkelahian. David turun dan membantu Arga mengatasi mereka, hingga kini semua laki-laki itu tunduk dibawah kakinya.


Arga meminta mereka menyampaikan sebuah pesan untuk tuannya, Arga meminta tuan mereka untuk menemui Arga ditempat dimana Edo terpenjara dan jika ada penolakan Arga tak segan meledakkan semua harta yang ditimbun orang tersebut.


......


...


Indonesia,

__ADS_1


Laisa begitu berusaha keras dalam latihannya, hampir setiap hari ia bergulat dengan pisau panah hingga tembakan. Semua yang ia lakukan kini hanya demi bisa membebaskan kakak tercintanya, ia begitu merindukan Shaka yang sudah tiga hari tak ada disampingnya.


"Akhhh!"


"Tenangkan fikiranmu, fokus," seru Mike yang memang sedang melatih Laisa.


Laisa berbalik, ia berjalan melewati Mike dengan begitu saja. Mike berusaha menahan gadis itu.


"Percuma terus berlatih, gue mau bawa pulang kakak gue," serunya menghempas kasar tangan Mike dari lengannya.


"Berhenti ditempatmu," seru Letta, namun Laisa tetap kekeh dengan keinginnanya.


"Pikirin juga keselamatan loe Sa," cegah Mira.


Laisa sama sekali tak menghiraukan mereka semua, kini ia hanya ingin bertemu kakaknya memeluknya dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Hanya itu, ia hanya melakukan itu dan kenapa semua terasa begitu sulit baginya.


Ia membuka pintu rumahnya dengan menahan semua rasa dihatinya, ia hanya ingin melakukan apa yang kini sedang dipikirkannya.


"Mau kemana?"


Air mata itu tak lagi bisa dibendungnya, melihat siapa yang kini berdiri didepannya membuat semua pertahannya luntur dengan begitu saja. Laisa menangis, ia memeluk erat tubuh didepannya itu.


Laisa menumpahkan semua rasa sakitnya, emosinya juga air matanya. Laki-laki itu adalah Alex, orang yang membuat pertahanan Laisa luntur begitu saja.


Alex menggendong Laisa masuk layaknya ia sedang menggendong anak usia 5 tahun. Ia duduk diruang tamu sambil memangku Laisa diatas pahanya. Letta hanya bisa menghela nafasnya, ia hanya bisa mengandalkan Alex kali ini untuk menenangkan putrinya.

__ADS_1


Namun siapa sangka jika Laisa yang semua menagis tersedu-sedu kini tertidur dalam gednongan Alex. Begitu juga dengan Alex yang kelelahan dalam perjalanannya kini juga terlelap sembari memeluk punggung Laisa begitu erat.


"Wowwww."


__ADS_2