
Shaka sangat terkejut saat melihat ada perempuan dengan pakaian kurang bahannya tengah berdiri menyambutnya. Ia mengernyitkan dahinya tanpa berniat membalas sapaan wanita tersebut.
"Nez, apa kita salah ruangan?"
"Sepertinya tidak tuan, karena mereka sendiri yang mengantar kita," jawab Arnez menatap laki-laki dibelakangnya.
"Anda tidak salah tempat tuan, memang benar ini tempat pertemuan dengan papa saya. Mari silahkan masuk," seru wanita tersebut.
Shaka hanya bisa mengikuti wanita tersebut dan duduk dengan sopan sambil menunggu rekan bisnisnya. Arnez sebenarnya juga merasa sangatlah risih dengan keberadaan wanita tersebut, sama seperti Shaka tuannya.
"Dimana papa anda nona," tanya Shaka dengan nada dinginnya, bahkan terkesan sangat cuek.
"Mungkin masih dijalan tuan, papa saya habis dari rumah sakit tadi," ucapnya menggunakan nada seksinya.
Shaka sudah sangat risih dengan tingkah wanita didepannya, namun ia berusaha menahannya demi rencana bisnisnya.
"Ahh," ucap wanita tersebut yang tiba-tiba mengeluarkan desahannya, membuat Shaka juga Arnez menatapnya dengan tajam.
"Oh, maafkan saya. Tangan saya tak sengaja mengenai mangkuk panas ini."
"Cepat hubungi papa anda dan katakan saya memberinya waktu 20 menit untuk segera sampai. Jika tidak, saya juga baik-baik saja melepas bisnis ini," seru Shaka begitu tegas dengan tatapan mata tajamnya.
Wanita tersebut menelan ludahnya dengan susah payah, ia mengira jika apa yang digambarkan papanya tentang Shaka hanya bualan semata tapi setelah ia berhadapan langsung rasanya seluruh tubuhnya kini mai rasa.
"Ma.. maafkan saya tuan, saya akan segera menghubungi papa saya," gugupnya.
__ADS_1
Sudah lebih dari 20 menit Shaka menunggu client nya yang tak kunung datang juga, bahkan kini wanita tersebut tak bisa lagi berkutik. Hanya bisa menundukkan kepalanya sambil meremas ujung bajunya.
"Arnez, kita pergi," ucap Shaka yang berdiri dari bangkunya.
"Baik tuan."
"Dan juga, blacklist perusahaan ini dari perusahaa kita karena terlah berani mempermainkan saya!"
"Tuan, ampuni perusahaan saya. Papa saya pasti datang tuan, saya mohon," serunya memohon pengampunan Shaka.
..
Dua gadis remaja kini baru saja keluar dari dalam bioskop dengan mata sembabnya. Mira terus saja menyandarkan kepalanya pada bahu Laisa disampingnya.
"Ngapain kesini," ketus Laisa pada Olla.
"Aduhh ngambek deh, ya maaf. Tadi itu ada tugas dadakan dari guru jadi nggak bisa ikut," menggelayuti tangan Laisa.
"Aduh kalian ini kenapa sih, berat tahu," protes Laisa yang mendorong kedua saudaranya menjauh.
"Kita makan yuk, laper nih belum makan dari tadi," rengek Olla.
"Karena loe ngebatalin janji tiba-tiba, jadi loe harus traktir gue sama Laisa," ucap Mira berlagak marah.
"Yaudah ayo gue traktir. untung aja pupu udah ngasih saku lebih pagi ini," ucapnya dengan sombong.
__ADS_1
"Biar kakak yang traktir aja," Shaka yang tiba-tiba datang langsung menyahuti pembicaraan para adiknya
"Kakakk," girang Laisa yang memeluk tubuh Shaka.
"Kak Shaka darimana?"
"Anak bayi disini juga toh, " tanya balik Shaka pada Olla.
"Enak aja ngatain anak bayi, udah gede ya aku ini,"protes Olla melipat kedua tangannya.
"Kita makan aja yuk, ayukk," ucap Mira yang pergi dengan menggandeng Arnez sedang Laisa menggandeng Shaka kakaknya.
"Terus gue gandeng siapa dong," kesal Olla mencebikka bibirnya.
"Noh cari aja satpam mall yang mau sama loe," teriak Laisa dengan tawanya.
"Dasar para penjajah!"
Ternyata sedari tadi ada mata yang tengah fokus memperhatikan mereka, memperhatikan setiap gerak gerik serta pembicaraan mereka.
...||...
...*Hai jangan lupa tinggalkan jejak dikolom komentar ya .. terus dukung kami dengan cara selalu like vote juga bantu share ke semua teman saudara kalian.....
...Jangan lupa klik favorit agar nggak ketinggalan updatenya*...
__ADS_1