
...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...
○like
○komen
○vote
○share cerita
○juga masukan dalam keranjang favorit kalian
...-------------------------🌾------------------------------...
Laisa termenung seorang diri dikelasnya, ia masih saja memikirkan tentang kecurigaannya kemarin tentang Danu. Tapi tak ada satupun bukti yang dimilikinya, ia juga tak bisa menuduh orang dengan secara sembarangan.
"Hai Laisa," melambaikan tangannya tepat didepan wajah Laisa.
"Hai juga. Loe ngapain duduk didepan gue," tanyanya sedikit menjauhkan dirinya.
"Nggak, cuma mau ngobrol aja sama Laisa. Aku pengen lebih kenal sama Laisa," ucapnya senyum-senyum sedari tadi.
"Oh gitu ya."
"Laisa, gimana kemarin nontonnya sama saudara kamu?"
Laisa tak langsung menyahutinya, ia memicingkan matanya menatap curiga pada Danu yang kini dengan santainya sedang bertanya pada dirinya.
"Bagus kok, semuanya happy," jawabnya.
Laisa tak bisa menemukan jawaban dari reaksi yang Danu perlihatkan, Danu begitu tenang dan selalu dengan ekspesi yang sama.
"Berani sekali loe bohongin gue Sa, loe nggak jalan sama saudara loe kemarin," geram Danu dalam batinnya yang selalu ia tahan.
Namun saat akan kembali membuka suara, seorang anak basket tiba-tiba masuk dan menarik paksa Laisa untuk mengikutinya. Danu begitu marah saat laki-laki itu dengan sangat berani menarik tangan Laisa didepan matanya.
"Mau kemana sih?"
"Udah ikut aja, yuk."
__ADS_1
Danu berdiri menggebrak meja yang ada didepannya. Ia tak suka, ia marah melihat laki-laki lain seenaknya menyentuh Laisanya. Dengan sangat berani Danu memukul wajah laki-laki tersebut hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
"Danu! Gila ya loe," seru Laisa yang terkejut. Ia berjongkok mengecek kondisi temannya.
"Loe gila Danu, dia temen gue," seru Laisa yang kesal dengan sikap Danu.
"Tapi dia udah berani narik-narik tangan Laisa," ujarnya membela dirinya.
"Udah lah Sa, gue gpp. Mending kita buruan yuk, anak-anak pada nungguin ini," ucap teman tersebut.
Tanpa banyak bicara Laisa segera membantu temannya dan keluar dari dalam kelas. Danu geram, ia ingin sekali menarik Laisa dan memakinya karena berani memarahinya dengan sangat berani. Ia hanya bisa terdiam menahan amarahnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Shaka tak bisa fokus dengan semua pekerjaannya, wanita itu terus saja menangis dan mengganggunya hingga semua pekerjaannya terbengkalai. Shaka yang murka karena adiknya dilukai meminta Arnez untuk melenyapkan perusahaan milik wanita tersebut.
"Bagaimana ini tuan," tanya Arnez yang melaporkan jika wanita tersebut masih berdiam didepan perusahaannya dan menjadi tontonan semua orang.
"Singkirkan saja dia, dia sudah membuat semua pekerjaanku terganggu," membuang semua berkas yang ada didepannya.
"Baik tuan," patuhnya dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
Wanita tersebut masih berdiam diri didepan perusahaan, bahkan saat semua pengawal Shaka menatapnya dengan tatapan membunuhnya. Ia tak bergeming, tak sedikitpun ia bergerak dari tempatnya.
"Selamat siang dan selamat datang nona Nakila Wiyoto," sapa Arnez dengan sangat sopannya.
"Selamat siang juga pak Arnez," dengan ramahnya.
Namun pandangan Nakila kini tertuju pada wanita yang tengah berdiri dengan sangat menyedihkan didepan perusahaan rekannya tersebut. Dengan peluh yang sudah sangat membasahi wajahnya, wanita tersebut masih bertahan dengan posisinya.
"Apa lihat-lihat, saya congkel mata anda mau," sinisnya pada Nakila yang sedang menatapnya.
"Wow, galak sekali. Saya baru tahu jika anda memelihara seekor anjing diperusahaan ini," sindir Nakila sambil berlalu pergi.
"Sifat yang sama pada keduanya, sempurnya," batin Arnez yang sedang memandu Nakila.
"Sebelah sini nona Nakila," ucap Arnez menunjuk sebuah ruangan.
Nakila mendorong pintu tersebut, Shaka sudah siap ditempatnya. Berdiri menyambut kedatangan rekan kerja barunya dengan sangat antusias.
"Selamat datang nona Nakila, senang bekerja dengan anda," mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Nakila melangkah maju mendekati Shaka, membalas uluran tangan laki-laki tersebut dengan seulas senyum manisnya. "Senang bekerja sama dengan anda, tuan Shaka."
Semua orang sedang berseru dengan sangat riuhnya, lapangan basket itu kini ramai dengan beberapa laki-laki juga perempuan yang sedang melihat pertandingan basket atau lebih tepatnya permainan Laisa melawan seorang laki-laki dari kampus lainnya.
"Laisa is the best.."
"GO Laisaa."
"Kalahin dia Sa, jangan lemah coy!"
"Yeyyyyyyy," seruan yang mengakhiri pertandingan keduanya. Tentunya dengan Laisa keluar sebagai pemenangnya.
"Sorry," ucapnya dengan seulas senyum.
"Gue belum kalah, ini baru permulaan saja cantik."
"Nggak mau ngakuin kekelahan itu sikap pengecut," hardiknya dengan sangat santainya hingga membuat lawannya naik darah.
"Kenapa, mau tonjok gue tuh tangan," melirik tangan yang sudah terkepal kuat dihadapannya.
Semua orang begitu tegang melihat kemarahan yang ditunjukkan lawan Laisa, namun hingga detik berikutnya tanpa sengaja bola yang sedang Laisa mainkan meleset dari lemparannya dan mengenai seseorang.
Semua orang segera berlari meninggalkan lapangan meninggalkan Laisa seorang diri, dengan rasa bersalahnya Laisa hanya bisa berjalan mendekati seseorang tersebut.
"Loe yang ngelempar bola ini?"
"Iya, maaf ya nggak sengaja."
"Maaf, loe pikir maaf bisa bikin kepala gue nggak benjol lagi."
"Kan nggak sengaja juga pak, kenapa sewaot banget sih."
"Pak? Loe pikir gue bapak loe apa."
"Yaudah maunya gimana, udah kena bola juga kan kepalanya," pasrah Laisa yang sudah kesal.
"Loe ingat ini, kita bakal ketemu lagi. Dan pertemuan kedua kita, gue bakal tagih ganti rugi atas kejadian ini."
•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••
__ADS_1