
Hai semua kita update lagi,
maaf ya kalau ada beberapa kata yang typo pada penulisannya itu gak disengaja kok š¤ ..
Dan semoga kalian menikmati ceritanya dan jangan lupa kalo ada apa-apa isi di kolom komentarnya šš
kalau mau kirim kado sama vote juga bisa banget..š¤£
[ JANGAN LUPA MASUKAN CERITA LETTA KEDALAM FAVORIT KALIAN, AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATENYA ] š
_______________________________________š¾
...ā...
Di depan ruang UGD Arga berjalan mondar-mandir dengan begitu gelisahnya. Sudah hampir satu jam Letta berada didalam, namun tak satupun dari dokter ataupun suster keluar untuk memberinya kabar.
"Ga tenanglah.. " seru David.
Nampak dari kejauhan Orland serta Seruni jalan beriringan menuju UGD. Melihat kedatangan Seruni, David buru-buru berdiri dan menghampirinya.
"Duduklah disini.."
"Thanks.."
Orland berjalan mendekati Arga dengan langkahnya yang tertatih.
"Tenanglah Ga, gue yakin Letta bakal baik-baik saja.. "
"Gue takut Land, gue takut istri gue ninggalin gue. Gue takut dipergi dari gue dan anak gue Land.." gelisahnya.
Arga sangat gelisah, fikirannya melayang membayangkan semua hal buruk yang terjadi kepada istrinya.
"Loe harus yakin kalau Letta bakal baik-baik aja. Ucapan loe itu doa buat istri loe Ga.." tegur David yang berjalan menghampiri keduanya.
"Apa salah Letta sampai ia harus menderita sampai seperti ini !!" Sesal Arga merundukkan kepalanya didepan tembok.
Namun tiba-tiba saja seorang suster keluar dari dalam UGD mengejutkan semuanya. Arga buru-buru menghampiri suster tersebut.
"Sus.. suster, gimana istri saya ??" Tanya Arga.
"Tenang ya pak, dokter masih berusaha menolong istri bapak.."
"Sus tapi ini sudah sangat lama, saya perlu melihat kondisi istri saya .."
Arga yang tak sabar berusaha menerobos masuk kedalam ruang UGD. Namun beruntung David juga Orland berhasil menahannya.
"Kalau loe ribut kek gini bisa ganggu dokter didalam Ga, dan itu bisa menghambat kerja dokter ngobatin Letta !!" Marah David.
Dan Seruni hanya diam menangis memandangi ketiga laki-laki didepannya yang bertengkar. Ia juga begitu cemas dan khawatir dengan keadaan adiknya saat ini.
"Mohon semuanya tenang ya, jika tidak saya akan memanggil satpam dan membawa kalian pergi.." ancam suster.
"Iya maaf sus, kami tidak akan berisik.." seru Orland.
Namun saat suster masuk dan hendak menutup pintunya, Arga berusaha menahannya lagi.
"Cukup Ga !!" Marah Orland.
"Kita duduk disana !!" Ajak David, lebih tepatnya David memaksa Arga.
30 menit berlalu, Arga sudah tidak bisa lagi menunggu. Dihampirinya lagi pintu UGD, namun bersamaan dengan itu keluarlah Letta dengan didorong oleh dua orang suster.
"Sayang, bangun sayang .." seru Arga membelai kepala Letta.
Arga begiu terluka melihat istrinya terluka, hatinya sakit dan ia begitu marah dengan dirinya.
Namun amarahnya memuncak mengingat Loise masih berkeliaran diluar sana dengan bebasnya.
"Aku bakal bawa dia berlutut didepan kamu sayang.."
"Maaf pak, pasien harus segera masuk ke kamarnya.."
"Iya.."
Arga menatap kepergian Letta , ia mengepalkan tangannya mengingat Loise kembali. Ia begitu murka sebab Loise berani melukai istri tercintanya.
__ADS_1
Orland berjalan menghampiri Arga, ditepuknya sebelah bahunya.
"Loe tenang aja, Letta nggak ngebiarin Loise bebas dengan damai kok.. " ucap Loise membingungkan Arga juga David.
"Maksud loe apa ??" Tanya David.
"Letta lempar belati tepat mengenai bahu juga betis Loise itu, jadi pasti saat ini dia juga kesakitan.. " ucap Orland senang.
Ada sedikit rasa lega dari Arga mendengar apa yang diucapkan oleh Orland sahabatnya. Paling tidak, Loise tidak akan tertawa saat ini ditengah kondisi istrinya.
"Vid, bantu gue urus kepulangan Letta besok. Gue gak mau dia lama-lama disini.."
"Oke, gue urus. Sekalian gue bakal bawa Seruni pulang dulu, dia harus istirahat juga.."
Arga menolehkan kepalanya, memandang Seruni sekilah dengan anggukannya. Ia meyakinkan Seruni bahwa dia akan menjaga adiknya itu.
"Gue bakal jaga Letta dengan baik.."
"Gue tau itu. Kalau ada apa-apa kabarin gue langsung Ga.."
"Tenang aja, "
*
Daniel membawa Cally dalam dekapannya. Dipeluknya erat tubuh Cally yang bergetar menangis itu.
"Tenanglah, ini bisa berakibat dengan kandunganmu.." khawatir Daniel mencoba menenangkan Cally.
Namun baru saja ia berhenti berbicara, Cally sudah meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Akkhhh .. " pekiknya.
"Ada apa ?? Perutnya sakit ??" Panik Daniel.
"Sakit dok, perut saya sakit.." rengek Cally.
Daniel panik, ia menggendong tubuh Cally dan dibawanya keluar dari dalam ruangan Arum yang terus saja meneriaki Cally sebagai seorang pembunuh.
Dengan perlahan Daniel membaringkan tubuh Cally diranjang didalam ruangannya. Daniel mulai mengenditkan ikat pinggang milik Cally, ia juga melepas sepatu yang Cally gunakan.
"Sakit dok,"
"Makanya ikutin saya .."
Cally perlahan mulai menarik nafasnya, perlahan mengeluarkannya. Dan ia melakukan itu secara berulang.
Perlahan namun pasti, rasa sakit diperutnya mulai menghilang. Cally mulai tenang dan ia pun tertidur didalam ruangan Daniel.
"Astaga, malah tidur .." gumam Daniel saat menyadarinya.
"Damai sekali wajahnya kalau tidur gini.."
Daniel mulai mengamati wajah lelap Cally, disentuhnya anak rambut yang mengahalangi pandangannya itu.
Namun tiba-tiba saja Daniel mencondongkan tubuhnya dan mengecup pelipis Cally. Tersadar dengan apa yang barusan ia lakukan, Daniel pun buru-buru bangkit dan keluar dari dalam kamar itu.
"Astaga jantung gue .." memegangindadanya yang terus berdebar dengan cepat.
"Apa yang barusan gue lakuin !! Gimana kalau Cally tau dan dia bertanya, harus jawab apa coba!!" Kesalnya pada dirinya sendiri.
"Sial !! Gue lepas kontrol !"
Kemudian tiba-tiba saja pintu ruangannya ada yang mengetuk, seorang suster masuk kedalam membawa beberapa berkas ditangannya.
"Ada apa ??"
"Ini laporan pasien bulan ini.. "
"Baiklah saya periksa dulu.."
Sambil menunggu berkasnya diperiksa, suster itupun mulai mengedarkan pandangannya. Dan pandangannya tertuju pada kamar Daniel yang terbuka pintunya.
"Siapa perempuan itu .. .? Kenapa bisa tidur diatas ranjang dokter Daniel ,??" Batinnya penasatan.
Namun saat ia akan melihat lebih dalam, suara Daniel membuyarkan fikirannya.
__ADS_1
"Ah iya pak, gimana ??"
"Saya sudah periksa, kamu bisa serahkan kepada bagian arsip kalau begitu.."
"Baik dok, saya permisi.." ucapnya undur diri, namun pandangannya masih tertuju pada kamar .
______________________________________________
Didalam sebuah kamar, terdengar sangat bising oleh suara teriakan kesakitan dari Loise yang ingin mencabut belati dari tubuhnya.
"Perlahan kubilang!! Sakit ini !!" Amuknya pada salah satu anak buahnya.
"Iya maaf bos.."
"Cepat coba cabut lagii.." titahnya.
"Baik bos, bertahanlah.."
Baru juga ujung belati itu disentuh, Loise sudah melemparkan kata-kata kasar pada anak buahnya.
"Sudah kukatakan perlahan tapi kalian tak mendengarkannya !!"
"Coba kalian rasakan sendiri jika belati ini menancap ditubuh kalian.."
"Maaf bos, tapi kami baru menyentuhnya saja.."
"Itu juga sudah sakit bego !!" Amuknya.
Anak buahnya semakin bingung dengan Loise, mereka serba salah saat bertindak. Dicabut sakit, nggak dicabut disuruh cabut.
Mereka hanya bisa menghela nafas kesalnya saja. Bagaimana tidak kesal jika semuanya serba salah dimata bosnya itu.
"Keluar kalian dari sini!!"
"Panggilkan saya dokter terbaik di Jakarta!!"
"Baik bos, kami permisi.."
Lalu setelah menunggu hampir satu jam, datanglah dokter laki-laki lengkap dengan perlatan medisnya.
Perlahan ia mulai memeriksa bahu juga betis Loise yang sudah mulai membiru akibat terlalu lama dibiarkan.
"Gimana dok .."
"Kita harus segera menyingkirkan belatinya tuan, saya takut jika terlalu lama bisa merusak pembuluh darah anda.."
"Lakukan dok, selamatkan saya.." rengek Loise kesakitan.
Perlahan dokter mulai memegang ujung belati menggunakan sarung tangan medisnya. Dengan perlahan mulai ditariknya belati itu.
"Akhhh .." teriak Loise saat dokter mulai menarik belati dari bahunya.
"Tuan, sebaiknya anda menggigit selimut anda untuk menahan sakitnya.." saran dokter.
Loise terlihat begitu kesakitan saat lukanya diobati, terlebih saat kedua lukanya disiram dengan alcohol oleh dokter agar tidak infeksi.
"Brengsekkk .." rancunya sambil menggigit selimutnya.
Tubuhnya bercucuran keringat menahan kesakitannya. Wajahnya terlihat begitu pucat seperti orang kehilangan darahnya.
"Sudah tuan, sebaiknya anda beristirahat untuk beberapa hari. Jangan sampai lukanya terkena air dulu.." saran dokter.
"Iya dok.." lemahnya.
......š¦©......
Terima kasih sudah mau mampir membaca dan semoga kalian suka .. š
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di like and kolom komentarnyaš, tekan favorit agar tidak ketinggalan lanjutannya.
Tinggalkan juga kritik saran kalian agar ceritanya lebih seru nantinya.š¤
......HAPPY READING GUYS,......
...šš...
__ADS_1