Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 39


__ADS_3

"Bagiamana, apa kita harus membebaskan tuan Edo sekarang," tanya Ara.


"Nggak, kita nggak akan bisa membebaskannya. Sesuai dengan apa yang tuan Verdernal katakan, hanya orang ini yang bisa melakukannya," seru Arga.


Kini semua orang sedang menunggu kedatangan seseorang, semau cemas dengan waktu yang terus berjalan namun masih tak kunjung terlihat siapa yang akan datang.


"Sampai kapan ini, kita harus bergerak cepat."


"Pah, orangnya sudah datang," seru Arga menatap gerombolan orang didepannya.


Semua orang bersiap dengan kemungkinan buruknya. Diantara segerombol laki-laki itu ada satu nampak seperti ketuanya. Pakaiannya terlalu rapi jika hanya seorang kaki tangan, Arga bisa langsung mengenalinya.


"Bebaskan keluargaku, berani sekali menguncinya dirumah sakit ini," geram Arga.


"Siapa anda, berani sekali mengaturku. Disini saya yang berkuasa," seru laki-laki tersebut.


"Benarkah? Lalu apa kalian berani coba, saya bisa dengan mudah menghancurkan markas harta kalian semua," ancam Arga dengan begitu misterius.


Laki-laki itu nampak tercengan mendengar ucapan Arga barusan, hanya orang-orangnyalah yang mengetahui tempat itu keculi jika orang yang berdiri didepannya itu adalah ketua mafia.


"Siapa anda," tanyanya.


"Ayah yang baik, yang selalu menyayangi anak-anaknya."


Mendengar ucapan itu, sontak laki-laki yang tadinya begitu berani berlutut didepan Arga. Apa yang Arga ucapkan adalah kata kunci identitasnya yang sangat rahasia, bahkan hanya Shaka yang mengetahui tentang ini.


"Ampuni kami, kami sama sekali tidak mengetahui tentang ini," serunya menundukkan kepalana penuh hormat. Sedang yang lain hanya bisa menjadi penonton dengan sejuta pertanyaan dikepalanya.


"Bebaskan keluargaku itu, bebaskan juga saudaraku yang kalian jebloskan kedalam penjara."

__ADS_1


"Baik, kami akan melakukan sesuai dengan perintah ketua."


"Ehm, kirim keduanya ke alamat ini," menyerahkan sebuah kartu nama dengan alamat disana.


Arga membawa mereka semua pergi begitu saja tanpa melihat keadaan Edo terlebih dahulu, ada rasa penasaran yang terus ditahan mereka semua.


Dan kini ada pertanyaan besar lagi yang terpampang nyata didepan matanya. Bagaimana tidak, kini mereka semua ada didalam sebuah gedung mewah dengan gaya gangster. Banyak hiasan minuman keras memenuhi sepanjang jalan, banyak juga dinding yang berlapis pecahan kaca.


"Ini dimana," tanya David.


Arga menjelaskan semuanya, ia menjelaskan siapa dirinya saat ini didepan orang-orang tadi. Betapa terkejutnya mereka mendengar pengakuan itu, ada rasa tak mungkin juga mustahil dengan penampilan Arga yang terlalu kalem sebagai ketua gangster.


"Itulah alasan kenapa mereka tunduk dihadapan saya, karena memang saya adalah ketua yang mengetuai semua gangster dinegara ini," akunya.


Hampir dua jam lamanya mereka menunggu, bahkan mereka dibuat begitu kenyang sembari menunggu tamunya. Apa yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menunggu.


"Kami tiba ketua," seru laki-laki tadi.


"Kenapa bisa disini," tanya Daniel membelai wajah istrinya.


"Saya yang membawa mereka semua. Apa kabar dokter Daniel," seru Arga.


Daniel begitu terkejut melihat kenalan lamanya, rasa bersalah rasa haru muncul bersamaan hingga membuat genangan air mata membanjiri pelupuknya. Daniel melangkah maju, memeluk satu persatu dari mereka.


"Kalian," seru tuan Edo yang juga baru saja tiba.


Kini tempat itu penuh dengan suasana haru pertemuan antara anak juga ayah, semua orang hanya bisa mengerti kondisi saat ini tuan Edo yang sudah lemah.


Ketika semua sudah tenang dan terkendali, Arga mulai menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Alasan mengapa dirinya sampai terbang jauh dan menjemput mereka kesini membuat Daniel hancur.

__ADS_1


......


...


Indonesia,


Hari sudah begitu gelap, Laisa masih begitu fokus melatih bela dirinya. Letta sudah berkali-kali meminta putrinya itu untuk segera beristirahat namun tak ada satupun ucapannya yang didengar sang putri.


"Cukup, kamu juga butuh istirahat," ucap Alex yang menggenggam tangan Laisa, membawa gadis itu duduk disebuah bangku dengan semilir angin malam.


"Huh dasar anak sok gede, giliran diingetin yang ganteng aja nurut. Mamanya sampe berbusa nggak ada yang didengarin," gerutu Letta melihat putrinya itu.


"Aku harus terus berlatih pak, aku harus segera membawa kakakku pulang."


"Iya tahu, tapi kalau kamu menguras semua tenaga terus kamu jatuh sakit gimana? Siapa yang bisa membawa pulang kakakmu itu."


Apa yang diucapkan Alex memang benar, Laisa benar-benar salah jalan dengan semua pemikirannya itu.


"Saya akan menyerang Meya besok."


"Apa kamu tahu dimana dia sekarang?"


"Ehm, dia sudah memberitahu saya dimana tempatnya."


Alex bangkit dari duduknya, ia benar-benar terkejut mendengarnya. Bagaimanapun menurutnya Laisa belum cukup untuk datang melawan, ini sama saja dengan menyerahkan nyawanya sendiri.


"Nggak, undur setidaknya sehari."


"Nggak bisa, keputusan saya sudah bulat. Saya akan tetap berangkat besok, membawa kakak saya pulang kembali."

__ADS_1


"Laisa!"


__ADS_2