Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 19


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Shaka yang sudah kehilangan akalnya menghubungi Arnez, ia memintanya untuk segera membereskan Danu. Bahkan Shaka meminta Arnez menyebarkan berita jika Danu telah melukai adiknya.


"Ini belum seberapa, jika kondisi adikku memburuk maka gue jamin nggak akan ada masa depan dalam hidup loe," geramnya meremas ponselnya.


Alex terus saja kepikiran dengan apa yang dikatakan Mike padanya pagi ini, bahkan ia begitu tak konsentrasi saaat melakukan semua aktivitasnya.


"Akhh," kesalnya melempar buku dalam pegangannya.


Alex masuk kedalam kamar mandinya, mengganti setelan baju rumahan dengan gaya casualnya.


Setibanya dirumah sakit ia segera menuju resepsionis dan menanyakan letak kamar Laisa. Namun ia begitu terkejut saat mengetahui jika Laisa kini berada di ICU, sesuai dengan apa yang Mike sampaikan pagi ini.


Sebelum kembali melangkah, Alex tak lupa membenarkan topinya untuk menutupi wajahnya. Dengan bantuan lift kini ia sampai dilantai dimana Laisa berada, dan hanya beberapa langkah saja dari lift ia sudah bisa tahu dimana Laisa berada.


"Ternyata benar dia disini," gumamnya.


Namun Alex begitu ragu melangkahkan kakinya, ia ingin mendekat dan melihat sendiri bagaimana keadaaan Laisa namun ia juga tak tahu harus berkata apa ketika bertemu dengan keluarganya.


"Gimana ini, apa gue harus kesana?" bimbangnya dengan penuh dilema.

__ADS_1


Namun ia tiba-tiba merasa aneh dengan dirinya, ia begitu tak suka dengan Laisa lantas mengapa sekarang ia harus mengkhawatirkan kondisinya bahkan berpenampilan rapi.


Tak habis fikir dengan dirinya sendiri, Alex memutuskan untuk pergi dan menjauh dari ruang yang menyimpan Laisa didalamnya. Kini hati juga fikirannya benar-benar tak sejalan, satu ingin sekali melihat dan memastikan kondisinya namun satu lagi begitu enggan karena egonya.


Hingga pada akhirnya Alex lebih memilih pulang dan mengurungkan niat awalnya, begitu membingungkan kini sikapnya.


Shaka meminta Arga juga Letta untuk kembali, ia tak ingin kedua orang tuanya kelelahan hingga jatuh sakit. Namun Letta sama keras kepalanya dengan dirinya, ia begitu enggan meninggalkan putrinya.


"Kalian bertiga pulanglah, biarkan kami yang menjaga Laisa."


Reno bersama dengan Elena datang ditemani Mira disampingnya, ketiganya berjalan beriringan mendekati yang lainnya.


"Mama, papa," ucap Letta yang langsung mencium tangan kedua orang tuanya, begitu juga dengan Arga juga Shaka.


"Kak Shaka," panggil Mira dengan sedikit takut mengingat kemarahan Shaka saat itu.


Shaka tersenyum, ia tahu pasti saat ini Mira ketakutan kepadanya. Ia bersalah karena telah menyalahkannya dengan begitu kejam.


"Maafin kakak ya, kakak emosi," ucapnya memegang kedua bahu Mira.


"Maafin Mira ya kak, maafin," isak tangisnya.


"Yaudah iya, kita lupain aja. Sekarang yang lebih penting kesembuhan Laisa, nggak ada yang lebih penting dari itu," ucap Shaka yang memberi jarak antara dirinya dengan Mira.


"Udah ya nangis-nangisnya, kalian bertiga sebaiknya pulang dan istrirahat terutama kamu Shaka karena nanti malam kamu akan menjaga adik kamu disini."


"Ya opa, Shaka akan istirahat."


"Ehm, pulanglah. Berhati-hatilah, opa udah suruh supir nunggu kalian dibawah."


"Kalau gitu kita pamit opa, oma."


Selepas kepergian ketiganya, Mira mulai mendekati kaca yang menampakkan Laisa yang tengah tertidur dengan berbagai alat ditubuhnya. Ia terisak menahan beban dalam hatinya, bagaimanapun ini terjadi karena ia tak bisa menolong Laisa saat itu.

__ADS_1


"Maafin gue Sa," gumamnya penuh penyesalan.


Elena mendekati cucunya, membawa tubuh itu kedalam pelukannya.


......


...


Sedang dimarkas kini Arnez datang dengan balutan baju rumahannya, hari ini Shaka memintanya untuk hanya fokus dengan Danu karena urusan perusahaan akan ia serahkan sementara pada sekretarisnya.


"Dimana kalian pindahkan dia," tanya Arnez.


"Pimpinan memindahkannya di lok belakang bos."


"Ikut saya kesana," ajak Arnez dengan nada dinginnya.


Danu terlihat begitu lemah, tubuhnya lesu begitu tak bertenaga. Arnez teringat jika Shaka sudah mematahkan sebelah tangannya.


"Bagaimana dengan tangannya?"


"Lapor bos, tangannya sudah patah dengan tuan."


"Bagus! Sekarang panggilkan pimpinan kesini."


Dan tak lama orang yang Arnez tunggu telah tiba dengan seorang wanita bersamanya.


"Saya datang dengan perintah bos," ucap pimpinan tersebut.


"Kamu wanitanya," tanya Arnez melihat seorang wanita disamping pimpinan.


"Benar tuan, saya akan mejalankan tugas saya dengan benar."


"Layani dia, suntikkan ini ditengah kegiatan kalian nantinya."

__ADS_1


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...


__ADS_2