
Hai semua kita update lagi,
maaf ya kalau ada beberapa kata yang typo pada penulisannya itu gak disengaja kok š¤ ..
Dan semoga kalian menikmati ceritanya dan jangan lupa kalo ada apa-apa isi di kolom komentarnya šš
kalau mau kirim kado sama vote juga bisa banget..š¤£
[ JANGAN LUPA MASUKAN CERITA LETTA KEDALAM FAVORIT KALIAN, AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATENYA ] š
_______________________________________š¾
...ā...
Suasana pagi itu begitu ceria dengan kesalahan kecil yang diperbiuat Cally. Namun hal itu membuat dirinya merasakan bagaimana kehangatan sebuah keluarga.
Selesai sarapan, dokter tiba dan segera memeriksa kondisi Daniel. Cally dengan setia duduk diatas ranjang menemani Daniel selama pemeriksaan.
Arga yang jeli segera menangkap gelagat Cally yang tak seperti biasanya. Ia yakin jika perasaan Daniel pada Cally tak bertepuk sebelah tangan saat melihat tingkah Cally saat ini.
"Yank .."bisik Arga pada Letta.
"Apa ??"
"Lihat deh Cally, "
"Kenapa dia ??"
"Sepertinya dia begitu mengkhawatirkan Daniel .."
"Aku tau, karena kini ia tengan kasmaran dengan dokter Daniel yang tampan ini.." seru Letta sambil tersenyum.
Mendengar apa yang dikatakan istrinya membuat Arga merasa gerah seketika. Dengan kesal ia menarik paksa tangan Letta keluar dari dalam kamar Daniel.
"Astaga syank .." kaget Letta.
Reno juga Elena hanya diam menggerutkan alisnya saat melihat keduanya keluar dari dalam kamar.
"Bagaimana dok ??" Tanya Cally.
"Kondisinya stabil, semuanya bagus kok.."
"Tapi kenapa dia nggak bangun-bangun dok??"
"Bersabarlah, kita bantu dia agar bisa kembali membuka matanya.."
Entah mengapa kata-kata dokter tersebut membuat Cally merasa sedih, ia sungguh merindukan sosok Daniel.
Sosok laki-laki yang terus menemaninya dalam beberap waktu ini. Laki-laki yang terus menolongnya tanpa harus ia minta.
Digenggamnya tangan Daniel dan dikecupnya sekilas oleh Cally. Ia begitu merindukan Danielnya, rindu dengan suara merdunya.
"Mari saya antar dok . " seru Reno.
Elena mengikuti suaminya keluar mengantarkan dokter, dan kini hanya tinggal Cally juga Daniel seorang.
"Daniel .." lirihnya.
"Kapan loe bangun Niel .."
"Gue kangen sama loe, gue kangen cerewetnya loe .."
"Tiap pagi gue harus muntah-muntaj sendiri, nggak ada loe yang mijitin tengkuk gue.."
Cally begitu sedih dan terluka, air matanya bahkan tak henti mengalir membasahi wajahnya. Ia tak dapat membohongi dirinya sendiri.
"Kalau gue bangun, apa loe akan nerima gue ??" Tanyanya.
"Iya, apapun itu gue pasti terima.." serunya sambil menggenggam tangan Daniel sambil menundukkan kepalanya.
"Termasuk lamaran gue, apa loe terima??"
"Iya, iya gue terima. Gue terima lamaram loe.." jawabnya.
__ADS_1
Namun sedetik kemudian Cally tersadar dengan apa yang diucapkannya. Dengan bingungnya ia mengulang apa yang tadi diucapkanya.
"Lamaran ??" Gumamnya.
Perlahan Cally mengangkat kepalanya dan betapa ia bahagia saat melihat Daniel sedang tersenyum kepadanya.
"Daniel .." berhambur memeluk tubuh Daniel.
"Segitu rindunya ya .?" Ledeknya.
Denga salah tingkah Cally melepas pelukannya dengan wajah memerahnya.
"Loe nggak bisa narik lagi kata-kata tadi.."
"Kata-kata apa ??" Sok lupa.
"Yaudah gue tidur aja lagi.."
"Eh jangan .." seru Cally buru-buru.
Daniel hanya tersenyum senang melihat reaksi Cally terhadapnya. Kini ia begitu yakin jika Cally juga menerima hatinya.
*
Siang itu semua orang tengah meninggalkan rumah. Elena bersama Reno pergi menghadiri acara rekan bisnis, Arga bersama Letta pergi keperusahaannya sedangkan Seruni pergi mengurus perusahaan milik Alfon menggantikan Letta sementara.
Dan kini hanya ada Jesika dengan Cally yang sedang berada dirumah bersama baby Shaka.
"Apa semua sudah siap ??" Tanya seorang laki-laki.
Menyamar sebagai orang yang bertanya jalan, Laki-laki itu berhasil melumpuhkan penjagaan rumah Arga.
Dua orang laki-laki kini menyelinap masuk kedalam rumah. Mereka juga melumpuhkan pelayan yang sedang berada didapur.
"Loe keatas, kemasi semua barang-barangnya dan keperluannya.."
"Oke .."
Cally sedang berada didalam kamar menunggu Daniel yang sedang tidur. Sedangkan Jesika tengah bermain dengan Shaka dikamar mainnya.
Sebuah suara yang mengalihkan perhatian Cally juga Jesika dari dalam kamar, bahkan Daniel pun ikut terbangun.
"Suara apa itu ??" Tanya Daniel.
"Biar aku lihat dulu.." melanglah keluar.
Betapa Jesika terkejut saat ia akan keluar kamar, tiba-tiba seorang laki-laki menarik baby Shaka dari tangannya.
"Ah keponakan gue !!" Teriaknya.
Jesika berlari berusaha mengejar penculiknya, Cally yang terkejut juga ikut berlari dan berhasil merebut baby Shaka pada awalnya.
"Kembalikan bayinya.." seru laki-laki tersebut.
"Nggak akan, Jesika.." teriak Cally hendak menyerahkan baby Shaka.
Namun tanpa diduga laki-laki itu memukul tengkuk Cally dan mendorongnya hingga tubuhnya membentur meja.
"Akhhhh" pekik Cally.
"Jesika kejar dia, jangan perduliin gue !!" Teriak Cally.
Jesika terlambat, mereka sudah pergi membawa Shaka menjauh. Ia pun kembali kedalam rumah. Dan ia sangat terkejut saat melihat Cally sudah pingsan dengan darah segar mengalir dari kakinya.
"Cally!!" Teriak Jesika.
Daniel begitu terkejut saat mendengar nama Cally disebut. Ia memaksakan diri untuk bangkit, dan dengan susah payah ia mencoba keluar dari dalam kamar.
"Cally !!" Teriaknya.
Daniel berjalan gontai menghampiri Cally, ia bersimpuh dan memegangi tangan Cally sambil terus memanggil namanya.
"Jes panggil ambulance.."
__ADS_1
"Udah kak.." tangisnya.
"Kak, baby Shaka dibawa mereka.."
Daniel begitu terkejut mendengar penuturan Jesika. Baby Shaka diculik, itu sama halnya membangunkan amarah Arga.
"Segera hubungi Arga, biar kak Daniel bawa Cally kerumah sakit.." serunya saat mendengar suara ambulance.
Tubuh Cally digotong menuju ambulance, diikuti oleh Jesika juga Daniel.
"Tunggu dirumah, jangan kemana-mana sebelum Arga datang. Kaka sudah hubungin Orland.."
Mobil ambulance keluar dari halaman dan tak lama mobil Orland masuk kedalam rumah.
Jesika berhambur memeluk Orland, ia menangis mengeluarkan rasa takut juga sedihnya.
"Gpp, kita masuk dulu ya .." ajak Orland.
Orland memberikan Jesika minuman, lalu ia pergi menolong penjaga, satpam juga para pelayan.
"Tenangkan dirimu dulu.." pinta Orland saat melihat tangan Jesika terus bergetar ketakutan.
Orland membawa Jesika kedalam pelukannya, didekapnya sayang tubuh gadis yang sedang ketakutan ini.
"Tenanglah, Arga pasti bisa menemukan anaknya.."
"Ini salah gue, gue nggak becus jagain baby Shaka. Gue juga bikin Cally pendarahan.." tangisnya.
"Ssstttzz.. itu bukan salah loe, ini namanya kecelakaan. Dan nggak ada yang mau hal itu terjadi.."
Jesika hanya diam menangis dalam pelukan Orland. Ia menumpahkan segala ketakutan keresahan juga penyesalan dalam air matanya.
Sedangkan Arga kini sudah sangat marah saat menerima kabar jika anaknya diculik seseorang didalam rumahnya. Baginya ini adalah penghinaan untuk dirinya.
"Tenanglah, menyetirlah dengan tenang syaang.." seru Letta menatap lurus kedepan.
Arga begitu heran saat sikap istrinya begitu tenang saat mendengar anaknya diculik. Ia begitu tenang seolah tak terjadi sesuatu hal dengan buah hatinya.
"Lihatlah jalannya!!" Tegur Letta saat menyadari Arga terus meliriknya.
"Baiklah.." patuhnya.
Keduanya saling diam dalam mobil menuju kerumahnya. Arga hanya bisa diam mengikuti instruksi dari istrinya, ia merasa jika kini Letta sudah tau siapa penculik anak mereka.
"Sayang.." panggil Arga.
"Kita bicara dirumah saja.." jawab Letta.
"Terserah kamu saja.." balas Arga mulai tersulut emosinya.
Tak lama keduanya sampai dirumah, Letta segera keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam rumah.
"Kak Letta .."
"Letta.."
Letta hanya diam tak menghiraukan Orland serta Jesika. Ia terus berjalan menuju kamarnya.
"Ga, "
"Kita bicara nanti dulu Land.." berlari mengejar Letta.
"Letta membenciku, dia pasti marah.." tangis Jesika.
"Tenanglah, " bujuk Orland.
......š¦©......
Terima kasih sudah mau mampir membaca dan semoga kalian suka .. š
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di like and kolom komentarnyaš, tekan favorit agar tidak ketinggalan lanjutannya.
Tinggalkan juga kritik saran kalian agar ceritanya lebih seru nantinya.š¤
__ADS_1
......HAPPY READING GUYS,......
...šš...