Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 45


__ADS_3

Meya menembakkan pistol itu tepat mengenai bahu Laisa, darah segar jatuh membasahi tanah tempat mereka berpijak saat ini. Shaka terkejut, ia berteriak dengan begitu kencangnya memanggil nama sang adik dengan penuh luka.


"Jangan coba-coba membodohiku Laisa," bentak Meya yang benar-benar kehilangan kontrol dirinya.


Laisa hanya bisa terdiam, menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan dibahunya. Rasanya ada sesuatu yang begitu panas tengah membakar tulang-tulangnya.


Mereka yang sedang berjalan menuju tempat Laisa terkejut mendengar suara pistol, buru-buru mereka berlari mengikuti Alex yang berlari lebih dulu.


"Tahu apa loe soal gue, soal penderitaan gue. Loe enak hidup dengan keluarga lengkap, tapi gue? Gue harus hidup dinegara orang yang begitu asing, bokap gue menikahi wanita lain dan melupakan nyokap gue."


"Kamu salah nak," seru Daniel yang masuk bersama dengan yang lainnya.


Alex menatap murka Meya dengan tatapan membunuhnya, ia tak terima dengan apa yang sudah wanita itu lakukan pada Laisa.


"Papa? Kenapa, kenapa kalian semua bisa keluar! Siapa yang telah lancang membebaskan kalian tanpa seijinku," murka Meya yang melihat kehadiran Edo serta Daniel didepannya.


"Kembalilah nak, kamu salah jalan," seru Edo mengulurkan tangannya.


"Loe, pasti loe kan yang membebaskan mereka. Loe lihat apa yang bisa gue lakuin, loe bakal kehilangan putri kesayangan loe Ara," ancam Meya dengan senyum yang begitu menakutkan.


"Dengarkan papa, kamu adalah buronan polisi sekarang nak. Menyerahlah," bujuk Daniel.


Bukannya menyerah, Meya justru tertawa dengan begitu kerasnya hingga tawanya menggema kemana-mana. Ia benar-benar sudah gila. Shaka yang sudah tak sanggup kini kehilangan kesadarannya, Arga meminta anak buahnya untuk segera mengantar putranya menuju rumah sakit.


"Apa pernah papa peduli sama aku, apa papa masih sayang sama aku," tanya Meya dengan ekspresi memelasnya.


"Sampai kapanpun papa akan tetap menyayangi kamu nak, kamu putri papa."


"Bohong!! Papa cuma sayang sama istri juga anak baru papa, kalian semua membuangku," teriak Meya.

__ADS_1


Dorr !!


"Terlalu lama, anakku bisa kehabisan darahnya."


Arga sudah tak tahan mendengar ocehan tak penting Meya, ia segera mengarahkan pistolnya dan menempak tepat pada tangan yang memegang senjata.


Alex berlari menghampiri Laisa yang sudah kehilangan kesadarannya, ia segera menggendong Laisa keluar dari ruangan tersebut.


Polisi datang, mereka membawa Meya ikut bersamanya. Daniel, Edo serta Ara ikut serta menuju kantor polisi bersama beberapa anak buah milik Arga.


Sedang dirumah sakit, Nakila sudah sadarkan diri juga tangannya yang patah sudah mendapat penanganan. Begitu juga dengan Shaka yang sudah mendapat pertolongan dari dokter, hanya tinggal menunggu kesadarannya pulih sepenuhnya.


Laisa harus dilarikan ke ruang operasi untuk mengambil peluru yang menembus tubuhnya, langit sudah mulai gelap namun operasi Laisa tak kunjung usai. Semua orang begitu cemas menunggu diluar, Alex terus menggigiti tangannya dengan begitu khawatirnya.


"Dimana adikku," seru Shaka yang datang menggunakan kursi roda dengan didorong oleh Mira.


Arga bangkit mendekati putranya, ia mencoba menenangkan putranya atau akan ada keributan tak berarti lagi.


"Kenapa lama sekali, bukankah hanya satu tembakan kan ?"


"Tenanglah, kita semua disini juga cemas. Tolong jangan ribut boy, lihatlah mamamu itu, "menunjuk pada Letta yang terdiam dengan pandangan kosongnya.


Shaka hanya bisa tenang dan menunggu, ia mendekati Letta dan menggenggam tangannya. Letta berusaha tersenyum pada putranya dengan semua kepedihan dimatanya.


"Adik akan baik-baik saja ma."


Semua orang menatap pintu ruang operasi itu, lampu merah begitu menyala menyinari sekelilingnya yang tak kunjung padam. Harapan akan selalu menjadi sebuah celah pada manusia untuk bergantung pada Tuhannya, hanya doa yang Laisa butuhkan saat ini untuknya.


......

__ADS_1


...


2 bulan kemudian,


Hari ini adalah hari yang paling bahagia, hari dimana Shaka akan menyunting kekasih hatinya. Semua ruangan begitu indah dengan nuansa putih silver yang menghiasi seisinya, berbalut baju adat putih Shaka duduk menunggu pengantinnya menghampirinya.


Semua orang berteriak, semua orang berseru saat Shaka dengan lantang mengucap janji sucinya. Tawa bahagia menghiasi wajah semuanya, dan tiba saatnya Nakila masuk sebagai pusat perhatiannya.


"Kakak gugup banget ini," ucap Nakila ditengah-tengah jalannya.


"Udah kakak tenang aja, nih pegang tangan aku,"" seru Laisa yang memang berdiri menuntun Nakila menemui kakaknya.


Shaka menyambut istrinya, ia mengulurkan tangan dan menarik Nakila kedalam pelukannya. Pemandangan yang begitu indah, Alex menarik Laisa dan menggenggam tangan wanitanya dengan begitu erat .


"Selanjutnya kita yang akan menjadi pusat perhatian nantinya," bisik Alex.


"Tunggu aku selesai wisuda dulu kak," balas bisik Laisa dan mengakhirinya dengan sebuah kecupan manis dipipi Alex.


"Aku akan dengan sabar menunggu calon istriku ini."


"Apa kita juga bisa seperti tuan Shaka juga nona Nakila," tanya Arnez yang sedang berdiri bersebelahan dengan Mira.


"Tentu saja bisa, silahkan temui ayah juga bundaku," ucap Mira yang mengaitkan tangannya pada tangan Arnez.


"Aku akan melakukan itu," menautkan kedua kening mereka.


Kini semua orang berkumpul bersama, saling tertawa bahagia bersama saat melihat dua merpati terbang setelah dilepas sang pengantinnya. Saling berpelukan dengan hangat menikmati kebagian yang tak bisa tergantikan.


...‐END‐

__ADS_1


...


__ADS_2