Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 29


__ADS_3

Nakila lepas kendali, ia yang begitu kesal dengan tingkah serta ucapan Meya tak bisa menahan dirinya lagi. Gadis kecil seperti dirinya sudah berani mengatakan hal yang kejaman dengan santainya, benar-benar seperti sakit jiwa.


"Berani sekali loe mukul gue," bentak Meya pada Nakila.


"Orang psikopat macam loe ini nggak pantas ada diluar, lebih pantas berada dirumah sakit jiwa," tekannya pada Meya.


Meya mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menampar balik Nakila yang begitu sombong didepannya. Namun baru saja ia mengangkat sebelah tangannya, Shaka sudah maju dan menahan tangannya.


"Jangan pernah berani menyentuh orang-orang gue, tanpa terkecuali," ancamnya dengan nada begitu tegas.


Meya kesakitan, cengkraman tangan Shaka begitu menyakitinya. Ia memberontak berusaha melepaskan tangannya, namun semakin ia berusaha lepas maka Shaka semakin mencengkramnya dengan begitu kuat.


"Aww, sakit tau! Gila ya loe," marahnya.


"Apa segini masih sakit," menambah kekuatan cengkramannya.


"Aww, pembunuh gila. Lepasin nggak!"


"Sayang kita pergi aja, aku udah nggak mood disini," ajak Nakila pada kekasihnya.


Shaka menghempaskan tangan Meya dengan begitu kasar, ia kemudian membersihkan tangannya layaknya setelah menyentuh barang kotor. Meya sungguh merasa sangat terhina dengan itu, ia marah begitu marah.


"Kita pergi Nez," ajak Shaka sambil menggandeng tangan Nakila bersamanya.


"Loe bakal terima balasan atas perlakuan loe ini Shaka," teriak Meya.


Ada kekhawatiran dalam benak Shaka setelah mendengar ancaman Meya barusan, ia masih ingat dengan betul bagaimana gilanya Sonya dulu dan kini ia takut jika Meya adalah jelmaan Sonya saat ini.

__ADS_1


"Are you oke," tanya Nakila yang melihat Shaka terus terdiam.


"Ehm, hanya begitu was-was saja."


"Arnez, tolong pastikan keamanan adik saya. Pastikan adik selalu ditempat yang aman," lanjut Shaka meminta pertolongan pada Arnez.


"Tuan, " panggil Arnez ragu.


Shaka melihat Arnez dengan tatapan curiganya, ia melihat tatapan khawatir Arnez dari raut wajahnya.


"Ada apa, katakan."


"Tuan, sebenarnya Meya sudah mendaftarkan dirinya dikampus yang sama dengan nona muda."


Shaka begitu terkejut, ia tak menyangka jika Meya sudah satu langkah lebih maju daripadanya. Kini ia begitu khawatir dengan ketiga adik perempuannya, ia begitu takut jika ketiga adiknya menjadi korban kelicikan Meya itu.


"Ide apa nona Nakila?"


"Kenapa kita nggak minta bantuan tuan Alex saja untuk membantu menjaga Laisa ketika dia dikampus," idenya.


Shaka terlihat memikirkannya, sedang Arnez menyetujui ide itu. Namun Shaka masih nampak ragu dengan ide itu, dan Nakila mungkin memahami itu.


"Kenapa?" tanyanya menyentuh bahu Shaka dengan begitu lembut.


"Aku belum terbisa melepaskan penjagaan adik aku sama orang lain, aku juga nggak yakin kalau tuan Alex mau menerima permintaan ini yan mungkin berat baginya."


"Saya paham dengan tuan, tapi ini adalah satu-satunya ide yang bisa kita gunakan saat ini. Kita nggak mungkin mengawasi nona dengan pengawal selama diarea kampus," ucap Arnez.

__ADS_1


"Kalau begitu biar saya fikirkan dulu, " ucap Shaka dengan bimbang.


"Baiklah, kasih tau kami kalau kamu sudah mendapat jawabannya," seru Nakila.


..


Saat ini Olla sedang bersama dengan Mira disebuah cafe setelah mereka menyelesaikan perkuliahan mereka. Olla memaksa Mira yang awalnya ingin segera pulang untuk menemaninya makan bersama dicafe favoritnya.


Entah mengapa rasanya Mira merasa jika Olla begitu berbeda tak seperti biasanya, ia lebih terlihat ceria dan tersenyum tanpa hentinya.


"Kamu baik-baik aja kan," tanya Mira yang merasa aneh dengannya.


"Baiklah, ini buktinya aku makan banyak kan."


Mira hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban adiknya tersebut, ia pun ikut melahap makanan yang kini ada didepan matanya.


"Kak Mira, nanti jangan kangen sama Olla ya kalau Olla nggak ada," celetuk Olla tiba-tiba disela-sela makannya. Mira meletakkan makanannya, menatap takut pada Olla yang tengah tersenyum didepannya.


Tiba-tiba saja Olla memelototkan matanya, pandangannya tiba-tiba menjadi kosong. Bibirnya memucat hingga tiba-tiba Olla terjatuh kelantai, mulutnya mengeluarkan busa begitu banyak hingga mengotori pakaiannya.


"Adik kamu kenapa, adik. Adik kenapa," panik Mira.


Olla tak ada respon, tubuhnya bergetar dengan busa yang keluar semakin banyak dari dalam mulutnya. Mira tak tahu harus berbuat apa, ia memohon pada para pengunjung untuk memanggilkan ambulance untuk adiknya.


Mira menangis sambil memangku kepala Olla, mencoba membersihkan busa yang terus keluar dari mulut adiknya tanpa ada hentinya.


"Tolong, tolong adik saya. Saya mohon tolongin adik saya," tangis histeris Mira.

__ADS_1


__ADS_2