Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 23


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Shaka benar-benar mengutarakan rasa terima kasihnya dengan setulus hatinya, ia sungguh merasa berhutang nyawa untuk adiknya. Namun Alex yang terus menerus menerima ucapan terima kasih menjadi begitu canggung hingga menggaruk tengkuknya yang tak gatal tersebut.


"Udah kali kak makasihnya, kasian tau dosen aku sampai canggung gitu," ucap Laisa yang sedari tadi memperhatikan kedua laki-laki tersebut.


"Ah, maafkan saya tuan Alex."


"Alex saya, rasanya terlalu tua dengan sebutan pak."


"Panggil saya Shaka karena saya juga belum begitu tua,"


"Lihat deh ma, dua kulkas lagi ngobrol," seru Laisa dengan mulut penuh dengan apel.

__ADS_1


"Hussst, sembarangan kamu ini kalo ngomong," tegur Letta.


"Benar, saya mendengar jika nak Alex ini punya kepribadian yang hampir sama dengan putra saya. Tapi hari ini saya melihat kalau nak Alex enggak sedingin itu, buktinya bisa nerobos kamar putri saya," canda Arga membuat wajah Alex tersipu malu.


"Benar om, teman saya ini tidak pernah dekat dengan wanita. Cuma sama anak om aja ini klepel-klepek," sahut Mike yang membuat suasana menjadi ceria penuh tawa.


Namun dibalik tawa itu ada dua wajah yang tersipu begitu malu, jantung serasa berpaju dengan jarum jam.


Dan ini sudah lebih dari dua minggu sejak operasi Laisa, kini Laisa sudah kembali dan melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun kini pengawalan Shaka jauh lebih ketat, Laisa tak diijinkan kemanapun tanpa persetujuan dirinya, bahkan persetujuan kedua orangtuanya juga tak berlaku.


Ada yang berbeda saat dirinya kembali kekampus, ada rasa aneh yang entak kenapa ia rasakan. Jantungnya bahkan berdetak tak karuan, ada rasa cemas yang tak bisa ia jelaskan keadaannya. Ia merasa sesak, dadanya serasa ditekan dengan sesuatu yang begitu berat.


"Apa kabar Laisa?"


Hampir saja Laisa berbalik dan melihat siapa yang tengah menyapanya, namun tarikan tangan Alex membuatnya tak sempat membalikkan tubuhnya. Entah mengapa Alex tiba-tiba datang dan menariknya dengan begitu paksa.


Alex hanya diam, membiarkan Laisa yang ditariknya berjalan dengan penuh pertanyaan. Ia sendiripun tak bisa menjelaskan tentang tindakannya saat ini, mengapa ia menarik Laisa bersamanya itu juga masih menjadi pertanyaan untuk dirinya.


Namun yang ia mengerti saat ini adalah ia tak ingin melihat gadis yang ada dibelakangnya itu kembali terluka apapun jenis lukanya.


"Astaga pak, pasti bapak mau yang aneh-aneh ya sama saya," seru Laisa dengan pemikirannya yang aneh.


Alex hanya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Laisa, hanya menggoreskan senyuman tanpa berniat menghentikan langkahnya. Dan dengan terpaksa Laisa hanya bisa pasrah mengikutinya.


Hari ini adalah hari dimana proyek baru Shaka diluncurkan, semua orang sudah tak sabar menantikannya termasuk Shaka sendiri. Ia ingin melihat bagaimana respon semua orang dengan terobosan bisnis barunya. Didalam gedung itu penuh dengan semua rekan bisnis dari Shaka Arga juga Nakila yang mendapat undangan peluncuran prodak Shaka.

__ADS_1


"Tuan Shaka, sudah waktunya," bisik Nakila yang memberitahu Shaka.


Shaka naik keatas panggung, menatap semua tamu undangan yang sudah bersedia memenuhi undangannya. Ada rasa gugup saat tangannya hendak meraih mikrofon didepannya, namun tatapan Nakila membuat Shaka kembali tenang seperti semula.


Dalam pembukaan acaranya, Shaka tak lupa berterima kasih kepada semua orang yang membantunya dalam prodak barunya juga rasa terima kasihnya untuk semua orang yang sudah terlibat didalamnya.


Ia mulai bercerita kenapa ia memilih prodak kecantikan ini yang sangat-sangat jauh dari bisnis yang sudah digelutinya. Alasan dibalik prodak tak lain adalah sang adik sendiri, Laisa.


Ia selalu melihat bagaimana adiknya begitu mencintai semua prodak make upnya, begitu fasih dalam menggunakannya. Pernah sekali adiknya menangis karena wajahnya yang penuh dengan jerawat karena salah memilih prodak kecantikan, dan hal itulah yang membuat Shaka tergerak untuk membuatkan sendiri prodak kecantikan untuk sang adik dengan jaminan keamanan yang sudah ia pastikan dengan sendirinya.


Semua orang begitu tersentuh dengan ketulusan Shaka kepada adiknya, bahkan seorang kakak laki-laki mampu memikirkan perawatan kulit untuk adiknya hingga sedetail seperti yang Shaka lakukan ini.


Riuh tepuk tangan mulai terdengar ketika Shaka mengelurkan rangkaian prodaknya yang begitu lengkap. Kini ditangannya sudah ada prodaknya, ia siap meluncurkkannya dan bersaing dengan prodak-prodak lainnya.


"Ini adalah semua prodak yang kami produksi, prodak kecantikan dengan keamanan yang sudah terbukti dan kami jamin sendiri. "LAISUN" nama adik saya yang selalu menyinari hari saya layaknya mentari, semoga juga dapat menyinari wajah kalian dengan penuh kecantikan," ucap Shaka menutup pidatonya diatas panggung.


Nama yang begitu melekat dihati setiap rekan undangan, tepuk tangan mengiringi Shaka saat turun dari panggungnya.


"Selamat boy," ucap Arga yang begitu bangga dengan putranya. Pelukan hangat Arga berikan untuk semua ketulusan yang Shaka tunjukkan hari ini.


"Mama bangga banget sama kamu, nggak pernah mama nyangka kamu akan sebesar ini diatas panggung itu," ucap Letta.


Shaka bergantian memeluk kedua orang tua juga opa omanya yang ikut serta menghadiri acaranya.


"Selamat tuan Shaka, prodak yang begitu mengesankan."

__ADS_1


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...


__ADS_2