Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 27


__ADS_3

Shaka menatap tak suka wanita yang kini berdiri dihadapannya, jelas itu adalah Meya. Gadis yang sangat tak disukainya sejak dahulu ia kecil, baru tadi Mira memberitahu keberadaannya dan kini ia sudah dipertemukan dengan wanita itu.


"Jadi benar loe kembali."


"Tentu saja kembali, bukankah kalian sudah merindukanku," serunya dengan percaya diri.


Shaka benar-benar ingin menghancurkan wanita yang sedang berhadapan dengannya saat ini, namun ia terus menahan semua keinginanya itu agar semua baik-baik saja.


"Oh, apa ini kekasih tuan muda Shaka," tanyanya menatap Nakila yang terlihat begitu tak menyukainya.


Shaka menarik Nakila untuk berada dibelakang tubuhnya, Arnez merasa ada yang aneh dengan wanita didepannya dengan tuan mudanya namun ia tak mungkin menanyakan hal itu saat ini.


"Dan ini, pasti loe pembantu penjilatnya laki-laki ini," tunjuknya pada Arnez juga Shaka bergantian.


"Jaga mulutmu itu, dia bahkan tak bisa dibandingkan dengan wanita iblis macam loe ini,"marah Shaka.


"Tuan, kita masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan," seru Arnez.


Nakila menarik lengan kekasihnya, berusaha mengajak laki-laki itu untuk segera pergi dan meninggalkan Meya. Namun baru saja Shaka melangkah suara teriakan Meya begitu membuatnya naik darah.


"Aku kembali untuk mengambil nyawa adik kamu !"


Shaka begitu geram, ia berbalik dan berlari menuju Meya. Tangannya terulur mencekik kuat leher Meya, beruntunng tak banyak pengunjung yang melewati jalanan tempat mereka saat ini. Arnez berusaha melerai tuannya, sedang Nakila hanya terdiam dengan melipat tangan didadanya.

__ADS_1


"Nona, apa anda tidak ingin membantu saya," tanya Arnez yang kesulitan memisahkan Shaka.


"Kenapa harus dipisahkan, dia yang membuat masalah dengan mulutnya. Jadi wajar jika tuan Shaka hanya mencekiknya," komentar Nakila yang begitu mengejutkan.


"Percuma, ternyata mereka berdua sama," batin Arnez memandang Nakila bergantian dengan Shaka.


"Sekalinya pembunuh maka selamanya akan tetap menjadi keluarga pembunuh," seru Meya yang kesulitan berbicara sebab rasanya begitu sakit pada lehernya.


"Lancang," geram Shaka terus saja memandang Meya penuh kebencian.


"Tuan Shaka saya mohon lepaskan, kita bisa dapat masalah besar nantinya," ucap Shaka yang begitu kesulitan melepas cengkraman Shaka.


Nakila yang awalnya diam kini begitu geram dengan mulut Meya yang terus saja berkoar-koar membuat darah semua orang semakin mendidih. Ia melangkah maju mendekati ketiganya, didorongnya Arnez dengan pelahan.


Begitu patuh hingga Arnez tercengang dibuatnya, Shaka yang sedari tadi marah kini tiba-tiba luluh ketika Nakila menyentuhnya dengan satu kata.


Shaka melepaskan Meya, ia mundur beberapa langkah saat tangan kekasihnya itu mendorong dadanya dengan perlahan. Nakila terlihat mendekati Meya yang sedang terbatuk dan mencari oksigennya.


Plak!


Semua orang terkejut dengan apa yang dilihatnya.


...

__ADS_1


Alex kini tengah mengajak Laisa untuk menemaninya meninjau sebuah proyek miliknya yang saat ini sedang dalam pengerjaannya, disana nampak begitu sejuk sejauh mata Laisa memandang.


"Wah, ini kerjaan bapak," tanya Laisa.


"Menurut kamu," balas Alex yang kini sibuk memasangkan helm pada Laisa.


"Ini kita mau ngapain sih pak, kok pakai helm segala," tanyanya yang berusaha meraih helm dikepalanya.


"Ih, jangan dipegang-pegang. Udah bener juga dipakaiannya," seru Alex memukul perlahan tangan Laisa.


"Pelit banget, pegang dikit aja nggak boleh," gerutunya.


Alex mendengar gerutuan Laisa, ia menarik perlahan Laisa agar menghadapnya. Dengan lembut Alex merapikan anak rambut Laisa yang dengan nakalnya keluar dari kemananan helm dikepalanya, begitu lembut perlakuannya hingga membuat Laisa berdebar.


"Kenapa gue deg-deg an ya," batin Laisa menatap Alex didepannya.


"Disini ini proyek, berbahaya kalau sampai helm kamu ini nggak bener pakainya."


"Ngerti nggak," tanya Alex saat Laisa hanya terdiam.


Laisa hanya menganggukan kepalanya, Alex tersenyum padanya lalu dengan naturalnya ia menggandeng tangan Laisa agar berjalan mengikutinya. Alex terlihat menjelaskan setiap sudut yang dilalui keduanya.


Nampak Laisa menikmati perjalanannya juga semua penjelasan yang Alex berikan padanya, bahkan tak jarang keduanya saling memandang penuh tawa saat Laisa bertingkah dengan fikiran-fikiran gilanya.

__ADS_1


"Adek?"


__ADS_2