Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
143


__ADS_3

Hai semua kita update lagi,


[ JANGAN LUPA MASUKAN CERITA LETTA KEDALAM FAVORIT KALIAN, AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATENYA ] šŸ˜‡


_______________________________________🌾


Pagi harinya, Arga terbangun terlebih dahulu. Dilihatnya kedua malaikatnya masih tertidur dengan sangat nyenyaknya.


Baby Shaka dengan lucunya tidur sambil meletakkan satu kakinya pada perut Letta mamanya. Bahkan ia juga memegangi ujung baju yang Letta gunakan.


"Kamu pasti takut ya nak .." membelai kepala anaknya.


"Maafkan papa nak, papa janji hal ini nggak akan terjadi lagi. Nggak ada yang bisa memisahkan kamu dari mama ataupun papa.." ucap Arga.


Seakan mendengar ucapan papanya, bayi gembul itu terbangun dan berguling menatap papanya dengan tawa manisnya.


Arga begitu gemas melihatnya, diangkatlah tubuh baby Shaka dan memangkunya. Dan dengan gemasnya ia menciumi Shaka hingga membuat anaknya tersebut tertawa kegelian.


Letta perlahan membuka matanya, ia mendengar sayup-sayup gelak tawa anaknya. Dan alangakah bahagia dirinya saat melihat anak serta suaminya tengah tertawa riang didekatnya.


"Akhhh.." pekiknya saat tak sengaja menggerakan kakinya.


"Sayang, " panik Arga menatap istrinya.


"Mana yang sakit, kasih tau aku .." khawatirnya.


"Nggak, hanya kakiku terasa sakit.. " lemahnya.


"Aku panggil dokter dulu.."


Namun sebelum Arga bangkit, Letta lebih dulu memegangi tangannya dan menahannya.


"Aku cuma butuh kalian saat ini.."


"Tapi-


"Berikan baby Shaka yank, "


Arga meletakkan kembali anaknya didekat Letta. Baby Shaka dengan lucunya bergerak mendekati Letta dan memeluknya dengan sangat erat.


"Sayangnya mama .." haru Letta memeluk anaknya.


Letta yang begitu merindukan anaknya menangis haru saat bisa memeluk kembali anaknya.


Arga hanya bisa menguatkan istrinya, ia membelai kepala istrinya memberinya support agar istrinya tak bersedih.


"Mama takut kehilangan kamu nak .." tangisnya abil menciumi kepala anaknya.


"Kita nggak akan kehilangan Shaka .." seru Arga.


"Nggak mau yank, " menciumi tangan mungil anaknya.


Arga memakluminya, ia tahu bagaimana perasaan dan rasa takut istrinya. Ia kini hanya bisa menghiburnya.


Dokter datang untuk memeriksan keadaan Arletta dan saat Arga akan memindahkan baby Shaka dari sisi mamanya, tiba-tiba bayi itu menangis dengan negitu kerasnya.


"Biarkan saja pak, mungkin dia tidak mau dipisahkan dari mamanya.." ujar dokter tersebut, dan Arga kembali meletakkan Shaka disamping Letta.


Kondisi Letta cukup baik hanya luka dikakinya yang kini menjadi fokus pihak dokter. Tak hanya itu, Letta juga diijinkan untuk memberikan asinya pada sang buah hati.


Cally juga Daniel berjalan beriringan dengan selang infus ditangannya, mereka berjalan menuju kamar rawat Letta.

__ADS_1


Tok.. tok ..


"Boleh masukkah ??" Tanya Daniel memperlihatkan kepalanya dari balik pintu.


"Masuklah.." tawa Arga.


Keduanya masuk, dan Letta tersenyum saat melihat Cally datang bersama dokter Daniel.


"Ta, " panggil Cally.


"Aku baik-baik aja kok .." senyumnya pada Cally.


Cally hanya diam tak menyahuti, namun ia segera memeluk tubuh saudarinya tersebut. Cally kini bersyukur saat Letta dalam keadaan baik-baik saja.


"Syukurlah.." ucapnya.


"Maksih karena kamu udah perhatian sama aku ya.."


Cally melepaskan pelukannya, menatap Letta dengan mata sendunya.


"Aku bener-bener seneng kamu baik-baik saja.." tulus Cally.


Letta begitu bahagia melihat Cally yang kini bisa menerimanya. Keduanya saling berpegangan tangan sambil tersenyum satu sama lain.


Baby Shaka yang merasa diacuhkan segera menggeser tubuhnya, kemudian tangan mungilnya itu menyentuh tangan Letta juga Cally.


"Wah anak gue cemburu tuh Cally, " canda Arga.


"Keponakan aunty Cally.. " menggendong Shaka.


Tampak wajah bahagia pada keempatnya, tak terkecuali baby Shaka yang ada dalam gendongan Cally.


...***...


Walaupun ia seorang penjahat, namun Arga tak membiarkan saja lukanya tanpa pengobatan. Dan hari ini Orland sengaja datang sendiri mengawasi pengobatan Loise.


"Apa itu dok ?" Tanya Orland saat melihat dokter tersebut mengambil suntikan dan sebuah botol kecil.


"Ini anastesi agar tidak begitu sakit bos, "


"Skip.. " melambaikan tangannya dengan acuh.


"Ha? Tapi bos, ini akan sakit tanpa anastesi.." kaget dokter tersebut.


"Akan lebih menarik melihatnya kesakitan, dan akan lebih merdu mendengar sebuah jeritan.." menatap tajam Loise dengan senyum mengejeknya.


"Lakukan .." titahnya saat melihat dokter tersebut diam dan kebingungan.


"Tahanlah rasa sakit ini .. " ucap dokter sebelum menempelkan kapas yang diberi alkohol olehnya.


"Akkkhhhh !!" Teriak Loise begitu keras.


"Wahh, gendang telinga gue aman untungnya.." gumam Orland sambil mengorek telinga dengan jarinya.


Loise bermandikan keringat, ia begitu pucat juga kesakitan. Namun Loise tak sedikitpun memohon ampun, ia malah menantang dengan tatapannya.


"Teriak bisa, tapi nggak bisa memohon.." seru Orland sambil menopang dagu.


"Permisi pak, tahan sebentar.." ucap dokter.


"Akhh!! Brengsek, bisa pelan tidak!!" Amuknya pada dokter yang mengibatinya.

__ADS_1


"Wah punya nyali memaki dokternya!! Berikan padaku, biar aku yang mengobatiny dok, " ucap Orland pada dokter.


Loise nampak ketakutan saat menatap wajah licik Orland yang sudah memegang perlengkapan untuk mengobatinya.


"Keluar kalian semua!!" Teriak Loise.


"Hey! Siapa anda memerintah disini!!"


"Kalian, pegangi kedua kakinya !!" Titahnya apda kedua anak buahnya.


Loise saat ini terikat dalam posisi duduk dengan kedua kakinya juga terikat. Namun karena memberontak, Orland memerintahkan anak buah untuk memegangi kakinya.


"Wah, tugas gue berat juga hari ini. Kaki terus tangannya juga ada luka, lumayan sibuk!!" Oceh Orland sambil menceluplan kapas kedalam alkohol.


"Bajingan kau Orland!!" Umpat Loise saat Orland menekan kapas pada lukanya.


Tubuh Loise basah bermandikan keringatnya, ia yang sudah kelelahan akibat menahan sakit tanpa sadar mulai tertidur.


"Bos, dia tidur.." ucap salah seorang anak buahnya.


Orland membuang peralatan medis ditangannya, lalu salah satu anak buahnya maju membersihkan kedua tangannya.


"Tinggalkan dia sendiri, dok tolong selesaikan semuanya. Jangan sampai kedua lukanya membusuk.." ucap Orland lalu beranjak pergi meninggalkan Loise.


Setelah keluar Orland mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi David. Namun ia begitu kesal lantaran David tak menjawab panggilannya.


"Kemana nih lagi satu bocah!! Pasti pacaran lagi nih dia!!" Kesalnya sambil mendudukkan dirinya dengan keras.


Saat Orland sedang sibuk mengurusi Loise, David juga tengah sibuk mengurusi Seruni yang terus bersikap ketus padanya.


"Loe tuh kenapa sih!! "


"Apaan sih, orang gue mau kedapur juga .." balas David tak kalah ketus.


Sedari tadi hanya ada suara ribut yang berasal dari Serunu juga David. David yang terus mengikuti Seruni, sedang Seruni yang kesal diikuti oleh David.


Jesika yang berada dirumah begitu bingung melihat keduanya terus bertengkar sedari tadi.


"Kapan kalian selesainya??" Tanyanya bosan.


"Kasih tau dia Jes, berhenti mengikutiku.."


"Bilangin juga sama dia Jes, kak David sama sekali nggk ikutin dia.."


"Kasih tau Jes, dapur disebelah sana .." menunjuk arah depannya.


"Bilangin Jes, gue lupa!!" Seru David yang malu akibat ketahuan mengikuti Seruni.


"Udah pada denger kan kalian berdua. Dipikir aku petugas operator kali.." serunya sambil berjalan meninggalkan keduanya.


Keduanya saling membelakangi satu sama lain. David merutuki kebodohannya saat tertangkap basah mengikuti Seruni, sedangkan Seruni merutuki jantungnya yang terus berdebar saat berdekatan dengan David.


......🦩......


Terima kasih sudah mau mampir membaca dan semoga kalian suka .. šŸ˜„


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di like and kolom komentarnyašŸ˜‰, tekan favorit agar tidak ketinggalan lanjutannya, dan share juga ke teman juga kerabat kalian.


Tinggalkan juga kritik saran kalian agar ceritanya lebih seru nantinya.šŸ¤—


......HAPPY READING GUYS,......

__ADS_1


...šŸ“–šŸ“š...


__ADS_2