
Shaka terus saja menggandeng tangan Nakila selama keduanya berjalan beriringan, dan hari ini Arnez tiba-tiba memberitahu dirinya jika ada sebuah pusat perbelanjaan yang harus segera ditinjaunya untuk tempat penjulana prodak.
"Apa assisten Arnez sudah sampai." tanya Nakila yang sedang berjalan disebelah kekasihnya.
"Seharusnya sudah, tapi aku berharapnya belum."
"Kenapa begitu," tanya Nakila yang merasa heran.
"Karena aku masih mau merayakan hari jadian dengan kekasihku ini."
Wajah Nakila bersemu merah mendengar apa yang diucapkan Shaka padanya, ia tak menyangka jika candaan itu membuat keduanya malah terikat dan saling berdebar satu sama lain.
"Ih jangan ngomong gitu," memukul perlahan lengan Shaka.
Dari kejauhan nampak Arnez menyipitkan matanya, ia nampaknya melihat tuannya kini tengah tersenyum dengan rekan kerjannya yang jarang sekali dilihatnya.
"Apa mataku ini mulai rabun ya," tanya Arnez pada dirinya sendiri.
Kini ketiganya berada satu tempat, saling beradapan satu sama lain menatap lahan kosong yang terdapat didepan matanya.
"Apa ini bisa selesai minggu depan," tanya Shaka dengan meneliti sekelilingnya.
"Sebaiknya yang ini bisa kita gunakan juga," tunjuk Nakila pada satu spot dari lahan yang ada didepannya.
__ADS_1
"Mungkin buat sport promosi nona, atau bisa kita gunakan untuk sample prodak kita," seru Arnez.
"Benar sekali assisten Arnez, kita bisa taruh kotak kaca dan kita gunakan untuk beberapa sample prodak ."
Entah mengapa Shaka rasanya tak suka jika melihat Nakila begitu akrab dengan laki-laki lain termasuk Arnez assistennya. Ada rasa kesal yang begitu tak nyaman didalam dadanya yang baru pertama kali dirasakannya.
"Huh! Nggak nyaman banget jadinya," lirihnya mengusap dadanya.
Uhuk,, uhuk,,
Batuk Shaka yang membuyarkan perbincangan keduanya, Arnez yang terlalu khawatir dengan tuannya segera menghampirinya dan memberikannya sebotol air. Arnez begitu menyayangi Shaka, begitu jelas tergambar dari semua tindakan yang selalu mengutamakan tuannya itu dari pada dirinya sendiri.
Shaka meminum air itu dengan sekali tegak, Arnez terus memperhatikan dengan begitu hati-hati tuannya itu. Ada rasa tak enak dalam diri Shaka saat melihat bagaimana perhatiannya Arnez padanya.
"Dimana nona Nakila," tanya Shaka saat tak melihat bayangan kekasihnya didepan mata.
"Bukankah tadi ada dibelakang kita ya tuan," mencari keberadaan Nakila disekelilingnya.
Sedang Nakila sendiri saat ini tengah melihat spot lain yang bisa digunakan untuk prodak Shaka, ia terus melihat-lihat tempat yang dilaluinya.
"Awww," pekik Nakila juga seorang wanita lain yang tak sengaja bertabrakan dengan Nakila.
"Mata loe dimana, jalan nggak hati-hati," sungutnya kesal.
__ADS_1
"Mata saya tentu saja ada ditempatnya nona, harusnya saya yang bertanya kepada anda. Dimana isi otak anda ini," serang balik Nakila yang tak terima dengan ucapan kasar wanita yang ada didepannya.
"Sialan! Berani banget loe sama gue," tantangnya.
"Kenapa saya harus takut dengan anda, apa anda suka menggigit dan meninggalkan suatu penyakit ?"
"Loe pikir gue anjing," menahan amarhanya yang sudah begitu memuncak.
"Ternyata disini kamu, kami nyariin kamu dari tadi."
Shaka dengan Arnez tiba-tiba datang, Shaka yang terlalu mengkhawatirkan kekasihnya itu bahkan tak memperhatikan siapa wanita yang kini sedang berhadapan dengan kekasihnya.
"Apa kabar tuan muda Arshaka Putra Wijaya."
.........
Laisa begitu kesal dengan Alex, ia merasa dikejain habis-habisan oleh laki-laki itu hari ini. Tak hanya tak diijinkan keluar dari ruangannya, bahkan Alex juga menyita ponsel miliknya.
"Pak, ini udah jam pulang loh. Apa saya masih harus menunggu sampai selesai," tanya Laisa dengan wajah bosannya sambil memainkan bolpoin ditangannya.
"Sebentar lagi," sahut Alex yang masih begitu fokus dengan laptopnya.
Sungguh begitu bosan, Laisa hanya bisa menunggu Alex menyelesaikan pekerjaannya tanpa diberi sesuatu untuk mengurangi rasa bosannya. Hingga terlalu bosan tanpa sengaja matanya perlahan mulai terpejam dan terlelap dalam tidurnya
__ADS_1
"Cantik sekali."