Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 17


__ADS_3

...Sebelum lanjut membaca mohon pastikan untuk :...


○like


○komen


○vote


○share cerita


○juga masukan dalam keranjang favorit kalian


...-------------------------🌾------------------------------...


Semua orang begitu panik, semua orang begitu ketakutan saat melihat Laisa jatuh tak sadarkan diri. Letta begitu panik hingga tak hentinya menangis sambil membangunkan sang putri, Arga hanya bisa bertahan demi istri juga anaknya.


"Laisa bangun nak, ini mama," histeris Letta yang begitu ketakutan.


Dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Laisa, namun tiba-tiba dokter mengintruksikan kepada para suster untuk memindahka Laisa ke ICU. Arga juga Letta panik saat anaknya dibawa pergi,.


"Ada apa ini dok, apa yang terjadi dengan putri saya," tanya Arga.


"Maaf pak, tapi seperti yang pernah saya sampaikan. Efek trauma yang diderita Laisa ini bisa membawa dampak pada kondisinya."


"Maksudnya gimana dok," tanya Letta yang tak paham.


"Ini hanya dugaan saya saja dan semoga tidak benar. Sepertinya ada pendarahan didalam otak Laisa."


Tubuh Letta tak sanggup lagi menopang dirinya, ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh jika saja Arga tak menangkapnya.


"Laisa, anakku," gumam Letta.

__ADS_1


Arga memeluk istrinya, ia tak tahu harus bagaimana dengan kondisi ini. Ia juga hancur dengan kondisi Laisa saat ini, sama hancurnya dengan Letta sebagai ibunya. Tapi ia tak bisa menunjukka lukanya, ia adalah kepala keluarga dan ia harus bisa menjaga keluarganya.


Terlebih ia harus bisa menjaga Shaka, menjaga putranya agar tak merugikan dirinya sendiri. Arga benar-benar terluka hingga ia menangis tanpa suara, hanya pelukan juga kecupan yang mampu ia berikan untuk istrinya.


"Adik, kak Shaka datang," teriak Shaka ketika masuk kedalam ruangan adiknya.


Kosong, tak ada Laisa disana. Hanya ada Nakila yang sedang memeluk Mira juga Letta dalam pelukan sang papa. Mereka menangis, tangisan yang membuat jantung Shaka berdetak sangat tak karuan.


Langkahnya begitu tertatih saat mendekati kedua orang tuanya, tangannya berusaha menggapai bahu sang papa. Rasa takutnya membuat tubuh Shaka gemetar, ia berusaha menggapai Arga juga Letta.


"Dimana adik," tanyanya saat berhasil menggapi Arga.


Bukan jawaban yang didapatkan, namun air mata sang mama yang makin mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Katakan pah, dimana adik aku," paksa Shaka yang mencengkeram tangan Arga.


"Tenanglah, kamu kontrol emosi kamu dulu."


"Shaka, ada kemungkinan adik kamu mengalami pendarahan diotaknya jadi harus masuk ICU."


Shaka begitu lemas, ia tak bisa menerima apa yang terjadi dengan sang adik. Ingin sekali ia menghancurkan semua yang terlihat dimatanya. Anez menahan sang tuan, memaksanya keluar agar tak berbuat lebih onar.


"Tuan saya mohon tenang, nona Laisa juga tak akan suka jika tuan seperti ini," ucap Arnez yang berhasil menghentikan amukan Shaka.


Kondisi Laisa masih belum stabil, Arga meminta Mira juga Nakila untuk beristirahat dirumah dengan diantar Arnez agar lebih aman.


Kini hanya ada Shaka Arga juga Letta yang masih setia duduk didepan ruang ICU menunggu Laisa yang masih didalam bersama dokternya. Ketiganya begitu cemas juga ketakutan jika ada hal buruk yang akan menimpa Laisa, mereka tak akan pernah siap jika hal buruk itu terjadi.


Sedang didalam mobil tak ada satupun dari mereka yang hendak membuka suaranya, Nakila terdiam dengan pikirannya sedang Mira terdiam dengan rasa bersalahnya. Arnez sendiri juga tak mungkin mencairkan suasana dengan sifatnya yang begitu kaku.


"Terima kasih pak Arnez sudah mengantar saya."

__ADS_1


"Sama-sama bu, kalau gitu kami permisi dulu."


"Baiklah, hati-hati dan jaga Mira dengan baik."


"Tentu saja."


Dalam perjalanannya Arnez tak langsung membawa Mira pulang, ia menghentikan mobilnya disebuah taman yang dilaluinya. Arnez membuka siftbelt yang dikenakan Mira, memaksa gadis itu untuk duduk menatapnya.


"Jangan ditahan, kalau mau nangis keluarin."


Namun Mira masih terdiam, gadis itu begitu menahan diri agar tak menangis lagi.


"Cuma ada saya, dan saya janji akan menutup mata untuk air mata kamu ini."


Arnez memejamkan matanya, ia berusaha memberi ruang bagi Mira untuk menumpahkan rasa sedih yang ditahannya. Benar saja, Mira menangis sejadi-jadinya sesaat setelah Arnez menutup matanya.


Gadis itu menangis dengan rancuannya yang begitu mengiris hati, ternyata ucapan yang diucapkan Shaka begitu membekas dihatinya. Telunjuk Shaka yang menunjuknya begitu menggores hatinya, melukai lebih dalam dari kesakitan yang dirasanya.


"Hikss hikss, maafin aku nggak bisa jagain Laisa. Maaf," rancunya.


Arnez tak tahan dengan tangisan juga rancuannya, ia dengan masih memejamkan matanya menarik tangan Mira dan mendekap tubuhnya dengan penuh kasih sayang. Membelai rambutnya agar gadis itu bisa lebih tenang.


Tapi tidak, Mira seakan menemukan tempatnya jadi ia semakin histeris dalam tangisannya. Memeluk erat tubuh Arnez dan menumpahkan semua kesedihannya, begitu sakit saat melihat Laisa jatuh tak sadarkan diri.


Begitu sakit saat Shaka menunjuk juga menyalahkannya, begitu sakit karena ia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong saudarinya.


"Maafin aku, aku salah."


"Hussstt, nggak ada yang salah. Apa yang harus terjadi maka akan terjadi, sekuat apapun tangan kita tak akan pernah bisa menahannya."


...•••••••••••••••jangan lupa pesan diatas ya•••••••••••••...

__ADS_1


__ADS_2