
Laisa melihat sendiri betapa kejamnya Meya ini, tubuhnya bergetar bahkan tak bisa menopang tubunya dengan seimbang. Beruntung ada Alex dibelakangnya yang dengan sigap menopangnya.
"Hahhahha, lihatlah ini. Lemah," seru Meya dengan tawa membahananya.
Shaka menangis, ia menangis melihat kekasihnya kesakitan dan menderita karena dirinya. Apalah daya, kini Shaka benar-benar tak bisa berbuah apapun, jangankan menolong kekasihnya menggerakkan tubuhnya saja ia sudah sangat kesusahan.
Hanya kata maaf yang mampu Shaka ucap dalam gumaman bibirnya, ia sungguh menyesal dengan apa yang telah menimpa kekasihnya itu.
Nakila kesakitan, bahkan ia hampir kehilangan kesadarannya. Meya melempar tubuh Nakila, Laisa dengan cepat menangkap tubuh Nakila dan mendekapnya.
"Maaf kak," gumamnya memeluk tubuh Nakila.
"Gpp, aku baik-baik saja. Tolong selamatkan Shaka, wanita itu sudah memberikan Shaka obat dan membuatnya lemah."
Laisa menatap Alex, ia meminta bantuan Alex dengan tatapan matanya. Alex menolaknya, ia tahu apa yang diinginkan Laisa dari tatapan mata itu.
Prokk,, prokk,, prokk..
"Cukup menarik sekali drama disini," seru Meya.
"Ini urusan kita, biarkan orang luar keluar dari sini," pinta Laisa.
"Ehmmm, begitukah," tanya balik Meya mempermainkan Laisa.
"Apa maumu," tanya Laisa.
"Gue bakal biarin mereka keluar kalau loe patahin tangan wanita itu yang satunya."
__ADS_1
"Loe gila!"
"Oii santai, slow aja. Nggak mau yasudah, gue nggak maksa juga kok."
"Brengsek loe," geram Laisa.
"Oh atau kaki loe aja yang gue patahin sebagai imbalannya."
"Patahin kaki gue aja," seru Alex yang kini sudah berdiri didepan Laisa.
......
...
Rombongan Arga telah tiba di Jakarta, kini semua orang bergegas untuk kembali kerumah dan membahas rencana selanjutnya. Namun siapa sangka jika kenyataan yang mereka dapati adalah Laisa sudah bergerak lebih dulu.
Semua bergegas pergi kesana, namun Arga meminta Reno juga Elena untuk datang kerumah sakit dan berjaga disana sebab ia tak ingin kecolongan apapun.
"Apa ini tempatnya," tanya Ara pada Arga.
"Benar, mereka semua ada disini. Lihatlha," tunjuk Arga.
Semua orang menatap arah pandang Arga, disana tergeletak tubuh yang tak sadarkan diri berpakaian serba hitam. Mereka tak mati, hanya dibuat pingsan oleh seseorang saja.
"Ini perbuatan Laisa, " ucap Arga.
"Kalau gitu kita segera naik," panik Letta.
__ADS_1
Arga menahannya, ia tak ingin semuanya naik dan membuat resiko yang lebih besar. Ia meminta semua orang untuk tetap berjaga dibawah, hanya dirinya Edo Daniel serta David yang akan naik.
Letta bertugas melindungi semua orang yanga menunggu dibawah, sedang yang yang lainnya bergegas naik kelantai atas mencari anak-anakyna.
Didalam ruangan itu suasana benar-benar memanas, Meya begitu geram melihat keromantisan Laisa dengan kekasihnya yang saling berkorban satu sama lainnya. Ia iri, ia cemburu dengan semua yang telah Laisa dapatkan sedang dirinya tidak.
"Cukup!" teriaknya.
"Kalian semua, seret wanita ini juga pria ini keluar dari sini," murka Meya.
"Nggak."
"Aku titip kak Nakila, jaga dia," pesan Laisa.
"Lepas, nggak gue nggak mau pergi. Lepasin gue," berontak Alex yang tak ingin meninggalkan kekasihnya.
Nakila hanya bisa pasrah ketika tubuhnya diseret keluar dari ruangan itu, namun sebelum benar-benar menghilang ia sempat melihat senyum Shaka padanya. Disitulah Nakila menangis sejadi-jadinya, ia ingin kembali kedalam ia ingin selalu ada disamping kekasihnya itu.
Meya merasa menang dengan situasi ini, ia tertawa begitu bahagia hingga tawa itu menggema diseluruh ruangannya.
"Jangan lupa, pemenang akan tertawa diakhir acara," seru Laisa.
Tawa Meya menghilang, ia menatap Laisa dengan tatapan meminta penjelasan akan kata-katanya.
"Loe pikir gue bodoh, nggak semudah itu ngalahin gue," seru Laisa menyeringai.
"Keluarlah!"
__ADS_1