Menikahi Bos Dingin

Menikahi Bos Dingin
series II‐eps 40


__ADS_3

Malam itu terjadi pertengkaran hebat antara Laisa dengan Alex, ini adalah pertengkaran pertama mereka dengan begitu seriusnya. Letta tak berani ikut campur, kedua orang itu benar-benar kekeh dengan keinginan masing-masing.


"Laisa."


"Ini keputusan saya, bapak nggak berhak ikut campur atau menahan saya."


"Jadi begitu, baik kalau kamu merasa saya tidak berhak. Dan memang saya tidak berhak untuk apapun tentang diri kamu, saya hanya orang luar bagi kamu."


"Pak-


"Saya permisi, tante Letta saya permisi pulang dulu," pamitnya pada Letta yang tengah berdiri tak jauh darinya.


"Berhati-hatilah nak, hari sudah malam."


"Makasih tante."


Dan Alex hilang setelah mengucapkan itu, Laisa terduduk dengan begitu lemas disofa rumahnya. Letta tahu bagaimana perasaan putrinya saat ini, ia tahu betul bagaimana watak putrinya yang begitu keras.


Namun Letta juga mengerti kekhawatiran Alex sebagai laki-laki yang sedang jatuh cinta dengan putrinya itu.


"Apa keputusan kamu itu sudah bulat?"


"Ma, jangan halangin aku," pinta Laisa.


"Paling tidak hubungi papa kamu, katakan sendiri rencana kamu ini."


"Nggak! Papa punya tugas sendiri disana yang jauh lebih sulit."


"Aishh, sungguh sulit diatur. Sama dengan papanya," gerutu Letta yang tak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


"Terima saja kenyataan itu," ucap Cally yang tiba-tiba ada dibelakang tubuh Letta dengan gelas ditangannya.


"Belum tidur?"


"Mana bisa tidur, aku harus mastiin dulu bayi pandaku tidur," menunjuk Laisa dengan tangannya.


Sejak kecil Cally selalu suka memanggil Laisa dengan sebutan bayi panda, bukan tanpa alasan sebab saat bayi dulu Laisa begitu gemuk dan menggemaskan seperti bayi panda gendutnya.


"Bujuklah dia biar mau tidur, aku harus menghubungi suamiku dulu."


"Baiklah," melihat Letta berjalan meninggalkan dirinya.


"Oh iya satu hal yang harus kamu tahu," seru Letta menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?"


"Bayi pandamu itu baru saja bertengkar dengan raja pandanya."


......


...


Tubuh Shaka semakin melemah, kini wajahnya sudah begitu pucat dan tak bertenaga. Nakila hanya bisa memeluk kekasihnya itu sambil berderai air mata, kondisi Shaka benar-benar membuatnya cemas.


"Bertahanlah, oke?"


"Tenang saja, aku nggak mungkin mati sebelum melihat adikku yang cantik itu datang," canda Shaka dengan sisa-sisa tenaganya.


"Jangan ngaco deh kalau ngomong," kesal Nakila memukul lengan kekasihnya itu.

__ADS_1


Shaka tersenyum, tangannya menggapai wajah Nakila dan menghapus air mata yang tak ada habisnya mengalir itu. Shaka menarik kepala Nakila untuk mendekat dengan wajahnya.


cup,


cup,


cup,


Shaka mengecup kedua mata lalu bibir Nakila dengan singkat , ia begitu bersyukur ada Nakila yang merawatnya saat ini.


"Terima kasih," serunya.


"Hanya terima kasih saja?"


"Hahaha, lalu kamu mau apa sayang," menyelipkan anak rambut Nakila kebelakang telinganya.


"Aku mau kamu nikahin aku dan menghidupi aku dengan kemewahan," pintanya dengan mengada-ada. Nakila mengucapkan itu hanya untuk agar Shaka bertahan dan terus semangat.


"Ehm, aku pasti melakukan itu. Aku pastikan pengantinku hanya kamu, Nakila Wiyoto."


Shaka benar-benar lemah, setelah mengucapkan hal itu ia tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri lagi. Nakila sudah tak sepanik saat pertama kali Shaka tak sadarkan diri, kini ia tahu jika kekasihnya itu akan kembali terbangun setelah tiga jam kemudian.


"Bertahan sayang, adik yang selalu kamu cintai itu pasti akan segera datang," ucap Nakila mengecup kening Shaka dengan mesranya.


"Tebakan yang bagus sekali, Laisa memang akan datang besok," seru Meya yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Nakila.


"Mau apa loe, " panik Nakila jika kedatangan Meya hanya untuk menyiksa Shaka lagi.


"Tentu saja memastikan jika tawananku belum mati."

__ADS_1


"Suatu hari nanti loe bakal dapat balasan yang lebih menyakitkan daripada ini."


"Dan gue menunggu hari dimana loe maksudkan itu."


__ADS_2